
Hana benar-benar tak habis pikir kenapa suaminya bisa bertanya hal semacam itu ke Bagas. Ingin rasanya Hana memukul pantat Kelana yang dia tahu hanya sedang mengerjai Bagas. Namun, nyatanya yang bisa dia lakukan hanya mengembuskan napas dan berjalan keluar.
Hana meletakkan nampan di atas rak dekat mejanya lantas duduk. Ia mulai membuka laptop dan mengerjakan apa yang harus dia selesaikan sebelum benar-benar berhenti menjadi sekretaris Kelana, hingga Bagas keluar dan memberinya kode dengan mata. Hana bingung sampai bertanya apa mungkin mata mantan suaminya itu bintitan.
“Kamu kenapa? matamu sakit?”
Ekspresi muka Bagas tiba-tiba berubah kesal. Pria itu menoleh lantas mendekatkan wajahnya ke arah Hana. “Kita harus bicara, ikut aku,” ucap Bagas yang lagsung pergi meninggalkan Hana, dia sukses membuat mantan istrinya itu memutar bola mata malas.
***
“Ada apa? cepat katakan!” Hana memainkan kuku jari kirinya, dia memilih menatap kuku-kukunya yang cantik ketimbang melihat muka Bagas.
“Apa kamu sudah jatuh cinta padanya? Bukankah di awal niatmu hanya ingin menguras hartanya?” tanya Bagas dan membuat Hana mau tak mau mendongak untuk melihat wajah pria itu.
“Memang aku pernah berkata seperti itu?” tanya Hana pura-pura amnesia, dia menggelengkan kepala dengan mimik muka mencibir Bagas.
“Kenapa kamu mengingkarinya? Apa benar yang dikatakan Bunga kalau kamu berniat menghancurkanku karena sudah menceraikanmu?”
Ucapan Bagas jelas seperti mengonyak kembali luka lama Hana. Tangan wanita itu mengepal di sisi badannya. Hana ingin sekali marah dan memaki, tapi akal sehatnya menasehati agar dia tidak melakukan itu.
“Hancurkan Bagas! Hancurkan dia Hana, sampai dia merasakan apa yang kamu rasakan dulu, sakit hatimu, penderitaanmu dan waktu yang sudah kamu habiskan untuk melayani brengsek satu ini.”
Hana bermonolog, pada akhirnya dia hanya bisa membuang napas untuk membuat amarahnya mereda. Terlalu cepat membuat Bagas mengetahui rahasia dan rencananya.
“Aku akan menjawab seperti itu jika ada yang bilang aku menikahi Kelana hanya karena mengincar hartanya,” kata Hana. Ia berpura-pura membenarkan letak dasi Bagas kemudian berkata lagi,”Ini kantor, beresiko sekali membahas hal ini, jadi jangan dibahas oke.”
“Tapi kamu sepertinya menghindariku.” Nada suara Bagas terdengar meninggi.
“Ini kantor dan kamu tahu aku siapa, bagaimana kalau ada orang yang melihat?” Hana berusaha membuat Bagas yakin, meski sorot mata pria itu menunjukkan bahwa dia benar-benar kesal.
“Ayolah Bagas kita harus sembunyi-sembunyi jika ingin terus berhubungan.” ujar Hana pada akhirnya karena pria di depannya ini sangat keras kepala.
Bagas pun mengangguk, hingga meminta pada Hana untuk memberikan catatan yang sudah dibuatnya tadi tentang kriteria sekretaris untuk Kelana. Pria itu pun membaca surat elektronik yang dikirimkan Hana sambil berjalan menuju lift untuk kembali ke ruangannya.
“Cih … tidak boleh seksi? Aku akan mencarikan yang paling seksi dan memiliki dada besar agar Pak Kelana tergoda,” sinis Bagas sebelum mematikan lalu memasukkan ponsel miliknya ke dalam kantong celana.
***
Pipi Hana bersemu merah. Kelana memintanya masuk hanya untuk memintanya duduk di pangkuan. Hana kikuk, bahkan salah tingkah sendiri saat Kelana memainkan helaian rambutnya .
“Hentikan!”
“Kenapa? aku suka memelintirnya, bahkan jika boleh aku ingin yang itu juga.” Tatatapan mata Kelana sudah berubah mesum. Ia menatap dada Hana yang memang sintal.
“Jangan begitu, astaga! kamu benar-benar membuatku merinding.” Hana berniat melompat dari pangkuan Kelana, tapi sayang suaminya itu lebih dulu memeluk pinggangnya dan dia pun terpaksa duduk di paha Kelana lagi.
“Pagi ini sepertinya aku tidak melihat bungkus pembalut baru di tempat sampah.”
“Apa?” Muka Hana berubah semerah kepiting rebus. Napasnya seketika tak beraturan karena detak jantungnya bertalu hebat. Jika buatan Wakanda, jelas jantungnya sudah copot saat itu juga. “Apa kamu memeriksa tempat sampah.”
“Tidak, hanya melihatnya saja.”
“Kenapa kamu melakukan hal konyol seperti itu?” tanya Hana, dia tatap wajah Kelana yang malah tersenyum miring. “Kelana, mukamu tengil.” Hana reflek mencubit perut sang suami tapi ternyata tidak bisa, hanya tonjolan otot di sana bukan lemak.
“Tidak sakit.” Kelana menjulurkan lidah menggoda. Ia kembali memainkan rambut Hana dan berkata,” Ayolah Hunny, malam ini akan menjadi malam yang spesial. Apa kamu ingin dinner romantis?”
“Kelana kamu membuatku merinding, bagaimana bisa kamu meminta itu terang-terangan? Aku malu.” Hana menunduk, sebagai wanita yang berpengalaman entah kenapa dia tetap saja merasa malu, meski kemarin dia juga sudah melakukan praktik ke Kelana.
“Kenapa harus malu, itu hal yang wajar ‘kan? aku pria normal, dan sudah lama aku menunggu.” Senyum menggoda kembali Kelana berikan dan kali ini membuat Hana tak bisa lagi berkata-kata. “Bagaimana kalau kita lakukan di sini?”
“Sekarang?” netra Hana membola, dia menggeleng cepat menolak keinginan Kelana. “Tidak mau, nanti bajuku kusut, lagi pula di ranjang lebih enak.”
Kelana menyeringai karena Hana keceplosan. Wanita itu bahkan memukul mulutnya sendiri yang seperti tak memiliki filter.
“Jangan dipukuli!” titah Kelana, dia melarang dan mencekal tangan Hana. “Jangan perlakukan bibirmu sembarangan! Dia itu milikku sekarang,” imbuhnya sebelum menyambar bibir sang istri dan bahkan menghisapnya seperti biasa.
“Astaga Kelana, ini masih di kantor,” cicit Hana meski harus penuh upaya saat mengatakan itu.
“Masa bodoh, ini kantorku,” jawab Kelana dengan cicitan juga karena tak mau melepaskan daging tak bertulang milik Hana.
NOTE : Kalau ada Typo ntar ku edit ya