Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 92 : Sarapan


“Mas Bagas apa-apaan sih? mau nguping Hana sama suaminya yang lagi gituan?” tuduh Bunga setelah dia dan Bagas berada di dalam kamar. Dada wanita itu naik turun tak karuan karena marah. Ia semakin yakin kalau suaminya memang masih menaruh hati ke Hana.


“Nguping? Nggak level,” ketus Bagas. Pria itu menyenggol pundak Bunga sebelum dengan kasar melepas sandal rumah dan naik ke atas ranjang. Ia sengaja membelakangi sang istri seolah tak sudi berbaring menghadapnya.


Bunga mengepalkan tangan geram, dia tidak menyangka bahwa pernikahannya akan menjadi semenyebalkan ini. Ia semakin menyesal merebut Bagas dari tangan Hana, meski kini cinta tapi awalnya harta lah yang menjadi alasan utama Bunga menggoda Bagas. Ia yang berasal dari kampung, ingin juga merasakan kehidupan orang kota. Jadilah dia berlagak sok kaya hingga merebut Bagas dari tangan Hana. Padahal untuk urusan finansial, dia dan Tantri bisa dibilang pas-pasan. Tantri juga menikah dengan Arman karena pria tua itu dirasa bisa mencukupi kebutuhannya, jika tidak mana mungkin Tantri mau.


Dengan rasa dongkol di dada, Bunga tetap naik ke atas ranjang. Ia pun memilih tidur seperti sang suami, jadilah mereka saling adu punggung. Bunga berjanji di dalam hati, dia akan melamar menjadi sekretaris Kelana dan mendapatkan posisi itu. Ia ingin mengacaukan hidup Bagas dengan menarik perhatian Kelana. Bunga berpikir dengan begitu dia bisa melampiaskan kebenciannya baik ke sang suami dan juga Hana.


***


Pagi harinya mereka keluar dari kamar masing-masing dengan sudah berpakaian rapi. Kelana dan Hana memang sengaja membawa setelan kerja, sehingga dari rumah sang papa mereka bisa langsung menuju kantor.


Saat berpapasan, mata Bunga terus memindai penampilan Kelana. Jika dibandingkan dengan Bagas jelas lebih banyak kelebihan pria itu. Kelana lebih tinggi, lebih gagah berwibawa dan yang pasti jauh lebih kaya raya jika dibanding dengan suaminya.


Mendapati sang istri menatap Kelana tanpa mengedip, Bagas pun menghardik. Ia bahkan berbisik ke telinga Bunga untuk tidak menunjukkan sikapnya yang berlebihan seperti itu.


“Kenapa? ada pemandangan elok, mubadzir jika tidak dinikmati,” jawab Bunga saat Bagas menasehati. Wanita itu berjalan turun menuju ruang makan sambil bersungut kesal.


Hana dan Kelana yang melihat tingkah Bunga yang sewot pagi-pagi pun sama-sama mengernyitkan dahi. Mereka tertawa bersamaan kemudian bergandengan tangan turun. Keduanya bahkan mengabaikan Bagas yang berada tak jauh dari posisi mereka berdiri sejak tadi.


_


_


“Maaf ya, Mama Cuma bisa masak nasi goreng. Itu pun nasi sisa kemarin. Ya, namanya juga sedang prihatin.”


Arman menoleh Tantri yang berbicara seolah-olah dia tidak memberikan uang belanja. Padahal jatah yang dia berikan ke istrinya itu tak main-main, tapi entah kenapa pasti selalu habis sebelum waktunya, Mungkin karena Tantri terlalu hedon.


“Kenapa kamu tidak makan Hana? Nggak bisa makan nasi kemarin? Kelana aja menikmatinya,” sindir Tantri lagi.


Namun, bukannya tersinggung. Hana malah tersenyum lalu menggeleng. “Aku bahkan bisa makan roti kadaluwarsa tiga tahun yang lalu untuk bertahan hidup, apa lagi makan nasi goreng yang sudah diolah lagi meski memakai nasi kemarin, aku sedang diet,” jawabnya panjang lebar.


“Diet? Badanmu sudah seksi kurang apa lagi?” tanya Tantri, dia yang sejak tadi berceloteh sambil berdiri pun akhirnya duduk. Wanita itu mengambil nasi ke piring lalu menyuapkannya ke dalam mulut.


Hana tersenyum miring, karena sudah terlanjur membuat keributan saat sarapan, dia pun tidak ingin kehilangan kesempatan untuk balas menyindir.


“Tidak ada yang kurang, tapi saat aku tidak bisa menjaga bentuk tubuh, aku takut ada wanita gatal yang mencoba merebut suamiku … la-gi,” ucap Hana dan sengaja mengeja kata terakhir dari ucapannya.


Bunga pun tersenyum ironi, bahunya mengedik tak percaya. Ia menatap Hana sekilas lalu memalingkan muka. Dulu saat Hana belum menikah dengan Kelana jelas dia bisa dengan bangganya menyombongkan diri, tapi kini mana bisa. Bagas bahkan tidak ada seujung kuku jari telunjuk Kelana. Bahkan jika mau Kelana bisa dengan mudah mendepak pria itu dari perusahaan.


“Untuk perekrutran sekretaris, sudah ada sekitar lima puluhan kandidat yang mendaftar,” ucap Bagas, mencoba mencari topik lain agar suasana meja makan tak terlalu menegangkan.


“Hem … bagus, kamu melakukan tugas dengan baik. Tak sia-sia aku menggajimu besar,” ketus Kelana di depan semua orang.


_


_


_


Scroll ke bawah 👇