Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Extra Part 8 : Sedang Berkencan?


Sementara Hana sedang menikmati kebahagiaannya, Bunga harus menghadapi setiap proses hukum yang menjeratnya. Ia mendapat tuntutan lain dari Bagas yang dia tusuk tepat di depan mata penyidik. Hukuman kurungan dua puluh tahun penjara pun mengintainya, hal ini membuat Tantri menangis tak kuasa membayangkan nasib sang putri. Meski sama-sama menjadi tersangka, Bagas menyewa pengacara yang lumayan mumpuni, hingga dengan lihai menimpakan segala kesalahan ke Bunga. Wanita itu yang menggodanya, wanita itu yang mendalangi rencana busuk untuk mengirim preman bayaran agar berpura-pura menjadi rampok dan memukuli Hana hingga keguguran.


_


_


“Dia laki-laki, aku bisa mengatakan dengan jelas dia laki-laki. Lihat rudalnya!” ucap Dokter dan membuat Hana dan Kelana tersenyum bahagia. Hana bahkan sampai menitikkan air mata. Ia tak menyangka sedang mengandung jagoan.


Setelah selesai dokter mempersilahkan Hana turun dari ranjang, dia dibantu perawat membersihkan gel di perut kemudian duduk bersisian dengan Kelana.


“Semua normal tidak ada yang perlu dicemaskan, hanya mulai sekarang silahkan dipikirkan untuk persiapan kelahiran, mau normal atau sesar,” jawab Dokter sambil menuliskan beberapa catatan di buku rekam medis milik Hana.


“Saya ingin normal saja Dok,” jawab Hana dengan seulas senyum. Ia menoleh saat Kelana meraih tangan dan menautkan jemari mereka dengan begitu erat dan mesra.


“Bagus, kalau begitu cita-citamu membentuk kesebelasan sepak bola bisa diwujudkan.” Dokter tertawa dan membuat suasana ruang pemeriksaan itu menjadi ceria.


Selepas memeriksakan kandungan, Hana dan Kelana menuju rumah Arman. Hana rindu dan ingin mengunjungi pria itu. Ia memang tidak bisa setiap hari menemui sang papa, sedikit cemas juga Hana dengan kondisi Arman yang kembali menjadi duda di usia yang sudah tua.


Harapan Hana sejatinya tidak muluk-muluk, dia hanya ingin papanya mendapat ketenangan hidup. Dan sepertinya dengan kembali menjadi duda Arman lebih bahagia. Setiap kali Hana menelepon suara papanya terdengar jauh lebih bersemangat.


“Ini bukankah mobil nenek Gayung?”


“Tuan!” sapa salah satu pelayan Ayu yang mengenali Kelana. Pria itu pun menoleh ke arah halaman samping rumah Arman, begitu juga dengan Hana yang bingung.


“Apa yang nenek lakukan disini?” tanya Kelana penasaran.


“Oh .. Bu ayu sedang arisan lansia Tuan, dan ini arisan perdana. Diadakan di rumah mertua Anda,” jawab pelayan itu, dia menunduk sebelum undur diri untuk melakukan pekerjaannya kembali.


“Sejak kapan papa minat dengan arisan?” gerutu Hana. Ia pun memilih untuk mendekat disusul oleh Kelana.


Di halaman samping, Hana dan Kelana tidak menemukan orang lain. Mereka melihat Ayu dan Arman yang tengah duduk berhadapan berdua. Dua mahkluk yang sudah bisa dibilang purba itu malah lebih mirip tengah kencan.


“Papa, Nenek,” panggil Hana.


Dua orang itu pun menoleh, ada rasa kaget yang nampak jelas di wajah Arman dan Ayu, hingga Kelana membuang muka dan tersenyum tak percaya.


“Nenek, benar-benar,” gerutunya. “Kata pelayan ada arisan, mana teman arisan nenek dan papa, kenapa hanya berdua?” tanya Kelana, terdengar sedikit menyindir dan rasa tidak percaya.


Hana tak mau menerka apa yang sedang terjadi di sini, mana mungkin nenek Ayu dan papanya menjalin hubungan lebih dari teman. Ia sampai menggelengkan kepala menepis pikiran aneh yang sudah melintas di pikirannya.


“Papa dan Nenek, tidak sedang berkencan ‘kan?” tanya Hana. Ia usap perutnya karena takut mengalami kontraksi jika papa dan nenek suaminya berkata ‘iya’.