
Semua orang masih berada di ruang keluarga sambil menunggu beberapa pria pengantar barang meletakkan barang-barang ke dalam. Dinar sudah tak sabar ingin menonton sinetron, dia sampai berdiri di dekat petugas untuk mengintervensi.
“Buruan sih Mas, lama amat! Amat aja nggak pernah lama-lama,” sewot Dinar.
“Berarti amat harus pergi ke mak perot Bu, biar tahan lama.”
“Brttt … “ Tata yang menyeruput teh sampai hampir tersedak karena balasan petugas dari toko elektronik - yang sedang memasang televisi berukuran lima puluh inci yang dibeli Kelana.
“Ih … masnya nglawak, mas nggak tahu siapa saya?” Dinar bersedekap dada, dia menatap sengit petugas yang berani melawan omongannya.
“Saya nggak tahu, kita ‘kan belum kenalan Bu.”
Kelana, Tata dan Hana tertawa, sadar bahawa dia tengah ditertawai Dinar melongos dan tak mau menanggapi, sampai petugas itu menyerahkan remot kepadanya.
“Silahkan Bu!”
Dinar menyambarnya dengan sengit, dia duduk di single sofa dan langsung menyilangkan kaki. Ia tak sabar menonton sinetron yang sudah ditunggu-tunggunya itu. Namun, baru beberapa menit tayang, sebuah breaking news menginterupsi. Dinar pun ingin mengganti saluran TV tapi ditahan oleh Hana. Menantunya itu mendengar sekilas kata penusukan di sebuah kantor polisi.
“Bunga!” Hana berujar dengan nada setengah tak percaya sampai membuat semua orang fokus ke layar. Memang terlihat sosok wanita yang berperawakan seperti adik tiri Hana itu.
“Seorang wanita dikabarkan melakukan penusukan terhadap suaminya sendiri di kantor polisi, keduanya digelandang atas tuduhan penganiayaan yang dilaporkan oleh seorang pengusaha ternama. Namun, mereka malah cekcok di depan meja petugas dan terlibat baku hantam, akibatnya BA naik pitam dan menghujamkan pisau ke perut sang suami BG secara membabi buta. BG pun dilarikan ke rumah sakit dengan beberapa luka tusukan di tubuh. Polisi masih mencari tahu bagaimana bisa BA menyembunyikan senjata tajam itu.”
“Astaga, apa maksudnya Bagas dan Bunga?” seloroh Dinar tak percaya, “Haruskah kita memesan karangan buka duka cita?” imbuhnya
“Mama! dia belum mati,” pekik Hana. Ia sukses membuat Kelana kaget karena reaksinya yang dirasa berlebihan.
Bukankah itu Bagas, pria jahat yang sudah menyakiti dirinya?
Namun, Kelana tak ingin berburuk sangka, dia yakin Hana hanya merasa kasihan. Ia tahu istrinya itu berhati lembut dan dia tidak perlu ragu akan rasa cinta Hana.
“Tenang Hunny! Jika kamu ingin tahu keadaannya aku akan meminta seseorang mengecek untukmu,” ucap Kelana.
“Heh … untuk apa?” Dinar menyela, dia melarang putranya untuk melakukan itu dan bahkan memarahi Hana karena seolah masih peduli ke mantan suami laknatnya. “Biarkan saja dia Hana, tidak perlu kamu cemaskan, mau dia mati atau hidup, orang jahat harus menerima akibatnya,” sembur Dinar.
***
Malam harinya, Hana terdiam melihat televisi di kamar apartemennya dan Kelana. Berita tentang penusukan di kantor polisi itu kembali muncul dan dia menyimaknya dengan seksama.
Kelana yang baru selesai mandi mendekat, dia naik ke atas ranjang dengan rambut setengah basah dan langsung tiduran di pangkuan sang istri.
“Sayang, bangun dulu! Biar aku keringkan rambutmu, nanti kamu masuk angin,” cegah Hana tapi Kelana sudah nyaman dengan posisinya. Pria itu menggeleng dan diam saja saat Hana mencebik kesal sambil merebut handuk dari tangannya.
“Bangun sebentar, piyamaku nanti basah.” Hana melebarkan handuk kemudian membaringkan kepala Kelana lagi, dia menggosoknya lembut sambil memandangi wajah tampan pujaan hatinya. Hana menduga Kelana berpikir dia memperdulikan Bagas.
“Apa kamu merasa kasihan ke pria itu?” tanya Kelana. Ia tidak bisa menyimpan kegelisahan hatinya terlalu lama.
“Tidak, aku hanya tak menduga dia akan dianiaya istrinya sendiri.” Hana menjawab tanpa perlu berpikir, tangannya yang masih mengeringkan rambut dicekal oleh Kelana.
“Kalau kamu ingin menjenguk dia, aku akan mengantarmu.”
“Untuk apa? aku tidak peduli sama sekali,” jawab Hana cepat. “Percayalah! Aku hanya kaget Aku tak menyangka Bunga bisa berbuat seperti itu, aku takut dia berpura-pura gila agar bisa lolos dari jeratan hukum.”
“Tidak akan! Aku pastikan dia tidak akan lolos, dan kamu juga tidak akan lolos – “ Kelana menjeda kata.
“Aku? kenapa? lolos dari apa?”
“Kamu tidak akan lolos malam ini!” Kelana tersenyum mesum.
_
_
_
kuliah nggak nih MAHAHIYA 🐛???