
Hana duduk di ruang tamu dengan tangan yang bertaut di atas paha, dia dan Kelana baru saja selesai menghadapi huru-hara yang sangat menguras jiwa dan raga. Hana tahu ini kesalahan yang dia buat, karena salah ucap dia malah membuat para tetangganya menduga Kelana terkena corona virus. Akibatnya semua orang yang ada di rumahnya harus dicolok hidungnya untuk melakukan tes swab.
Kelana sampai tak berhenti bersin-bersin dan ini membuat Hana merasa bersalah. Sedangkan Dinar sejak tadi sibuk berkaca di depan cermin kecil yang selalu dia bawa kemana-mana. Mertuanya itu membandingkan lebar lubang hidung setelah salah satunya dicolok dengan alat mirip pembersih sedotan tadi.
“Ta, benerankan masih sama lebarnya?” tanya Dinar ke sang adik, dia bahkan sengaja menggerak-gerakkan cuping hidungnya agar Tata melihat dengan seksama.
“Masih-masih, tidak perlu takut.” Tata menatap sekilas Dinar lalu fokus ke ponselnya. Wanita itu bingung karena Kelana malah meminta perawat memasukkan dukun yang dia kenal dari salah seorang temannya ke ambulan. Ia menghubungi temannya untuk membantu mengurus dukun itu.
“Mama dan Tante keterlaluan, aku malu sama tetangga,” amuk Kelana. Dia malu karena ada dukun di rumahnya tadi, sampai bu Dewan dan kawan-kawannya kompak menyayangkan tindakan yang tidak pernah dia lakukan.
“Kalau kena covid ke dokter Kelana bukan manggil dukun.”
Kelana menyugar rambut lalu membuang muka, meski kesal dia masih bisa menikmati mangga mekar yang dibelikan Pak War untuknya. Setelah habis satu buah, Kelana meminta Dinar dan Tata pulang, dia berkata ingin beristirahat karena harinya sungguh berat dengan serentetan kegaduhan yang baru saja terjadi.
Rumah pun kembali sunyi seperti sedia kala, hanya ada Kelana, Hana dan beberapa pembantu rumah.
Hana sendiri tak berani langsung menyusul sang suami ke kamar, dia benar-benar merutuki kebodohannya karena dengan gampangnya mengucapkan kata covid ke Mina, meski begitu Hana juga yakin kalau Mina pasti sekarang juga merasa tak enak hati.
Hana membuang napas dari mulut, dia masih duduk di meja makan sendirian. Tangannya meraih lagi gelas berisi jus alpukat yang belum dia habiskan, setelah itu dengan khidmat Hana mengetikkan sebuah pesan untuk dikirim secara pribadi ke Mina bukan ke group geng sultini seperti biasa.
Beberapa saat yang lalu wanita itu memang meminta maaf pada Hana. Mina menyesal sudah membuat kegaduhan yang hampir saja mengakibatkan komplek perumahan mereka viral karena menjadi suspek kluster penyebaran virus corona yang sejatinya sudah mereda.
[Tidak apa-apa Bu Mina, tidak masalah ] Hana membalas pesan Mina diikuti emotikon tawa.
[ Iya Hana, terima kasih. Aku yang sekarang berada dalam masalah karena suamiku marah, dan satu-satunya cara membuatnya senang hanya menawarkan kuliah ]
Hana jelas tahu apa yang dimaksud oleh Mina, dia pun secara impulsif memalingkan badan melihat ke arah anak tangga setelah itu menunduk memandangi perut buncitnya.
“Baby, apa kita harus membuat papa tidak marah dengan menawarkan rekreasi menjengukmu?” gumam Hana.
Wanita itu mengangguk sendiri kemudian meninggalkan meja makan dengan semangat enam sembilan. Hana yakin Kelana pasti tidak akan mungkin menolak tawarannya. Apa lagi mereka sudah membatasi peperangan. Meski dokter berkata bukan masalah, tetap saja sebagai calon orangtua baru, mereka tidak mau mengambil resiko. Namun, kali ini demi meredam amarah Kelana, Hana ingin menawarkan hal yang berbau plus-plus ke Kelana.
“Aku yakin pasti berhasil, Sayangku pasti tidak akan bisa menolak pesona bumil yang memakai baju transparan.”