
Hana mendorong tubuh Kelana menjauh, tapi pria itu menahan dan semakin merengkuh pinggangnya.
“Apa kamu hanya menggertak? Ayo Hana! Kamu tidak sedang takut ‘kan? Aku tidak masalah mencoret beberapa klausul kontrak kita.”
Kelana lagi-lagi mengangsurkan tangan membelai pinggang Hana. Kepalanya menggeleng, dia berbisik tepat di telinga Hana lagi.
“Kamu bisa menjadi sekretaris plus plus.”
Hana pun mencoba untuk menata hati. Ia seketika mendorong tubuh Kelana.
"Masa bodoh! lihat siapa yang kamu tantang!"
Tangan Hana mulai mengarah ke tali celana pendek yang dikenakan Kelana. Hana berusaha melepaskannya dan kini giliran Kelana yang kelabakan, dia tidak siap menerima serangan balasan seperti ini, sungguh tak terduga.
“Hentikan!”
Kelana cekal tangan Hana. Ia cukup waras, tidak mungkin melakukan hal itu dalam kondisi seperti ini.
Hana pun hanya bisa menunduk. Tiba-tiba ada perasaan tak enak di hati mereka masing-masing. Hana bahkan terdiam cukup lama, sampai Kelana menyingkir untuk menghindarinya. Baik Kelana dan Hana sama-sama merasa canggung dengan apa yang baru saja terjadi.
Hana malu, dia sambar celananya, setelah itu dia berjalan keluar dari kamar sambil mengancingkan kemeja. Hana benar-benar baru saja merasa seperti jaalang liar. Seharusnya dia tidak perlu terpancing dengan omongan Kelana soal memuaskan rudal pria itu tadi.
Tak jauh berbeda dengan Hana, Kelana merasa dirinya seperti buaya yang baru lepas dari sangkar, sungguh dia ingin menerkam dan mencabik-cabik Hana di atas ranjang. Pria itu mengeram dan mengepalkan tangan karena marah kepada dirinya sendiri.
Hari pertama mereka menjadi pasangan suami istri saja sudah menegangkan seperti ini, bagaimana dengan hari-hari berikutnya yang harus mereka lalui.
***
Hana menjambak sisi rambut sambil berjalan menyusuri koridor, dia dengan jelas bisa melihat rudal Kelana sudah menegang tadi. Hana merasa dirinya bukan wanita yang bisa dengan mudah horni, tapi entah kenapa dia sangat bernafsu saat Kelana menyentuh pinggang dan bahkan berbisik ke telinganya.
“Aku sudah gila! gila ... gila!” umpat Hana memaki diri. Ia terus berjalan sambil menunduk sampai tanpa sengaja kepalanya membentur dada seseorang.
Hana pun meminta maaf, tapi alangkah terkejutnya di mendapati Bagas yang berdiri di depannya.
“Apa dia sudah gila? apa dia menyusulku ke hotel? Bagaimana kalau ada yang melihat? bisa habis aku.”
“Ke-ke-kenapa kamu bisa ada di sini?” tanya Hana terbata-bata.
“Karena kamu tidak membalas panggilanku,” jawab Bagas sedikit sewot.
Hana membuang muka, dia benar-benar dibuat pusing oleh dua sosok pria yang sekarang begitu dekat dengannya. Bagas dan Kelana baginya sama saja - menyebalkan.
“Bagas jangan gila! jika kamu seperti ini kita putus saja!” ancam Hana dengan suara nyaris tak terdengar. Wanita itu menggertakkan kedua gigi karena geram.
“Janji dulu bahwa kamu tidak akan melakukan itu dengan Pak Kelana!”
“Apa kamu juga bisa berjanji tidak akan melakukannya dengan Bunga?” balas Hana sewot.
"Jika masih ingin hubungan ini lanjut, maka jangan campuri urusan satu sama lain, terutama urusan ranjang.” Imbuhnya.
“Apa kamu mau poliandri?” tanya Bagas keheranan.
“Lalu apa kamu mau poligami?”
Hana heran dengan tingkah Bagas hingga dia pun memilih berbisik ke telinga pria itu agar mau segera pergi. “Biarkan aku menguras harta Pak Kelana dulu, setelah itu kita bisa bersama.”
Gurat keterkejutan nampak jelas di wajah Bagas, tapi bukannya menggeleng pria itu malah mengangguk mengiyakan soal menguras harta. Sumpah rasanya Hana ingin memukul muka Bagas.
“Gila! dia setuju aku menguras harta Kelana? memang kampret kau Bagas.”
“Sekarang pergi lah sebelum ada orang yang melihat kita,” ucap Hana memohon.
Namun, kening Hana tiba-tiba mengernyit. Bola matanya bergerak ke sana ke mari karena bingung. Bagas tiba-tiba saja bengong dengan pandangan tertuju ke sesuatu yang berada tepat di belakangnya.
Hana pun menoleh dan seketika itu juga dia terkejut.
“Pak Kelana!”
Ya, Kelana sudah berdiri tepat di belakangnya. Pria itu berjalan dan meraih pergelangan tangan Hana dan memegangnya erat.
“Aku sudah tahu tentang hubungan kalian, jadi sebelum aku marah jangan pernah kalian bertemu lagi seperti ini!” ketus Kelana dengan sorot mata dingin ke Bagas.
“Hu-hu-hubungan apa Pak?” tanya Bagas, sudah gemetaran tubuhnya karena takut.
“Brengsek, aku juga tahu kalian berselingkuh.”
“Tidak baik kalian berbicara berdua seperti ini, apa yang akan orang pikirkan?” tanya Kelana. “Lagi pula apa yang kamu lakukan di sini?”
Awalnya Bagas gelagapan tak bisa menjawab pertanyaan Kelana, tapi beruntung otak liciknya sudah mengantisipasi akan hal ini. Bagas pun berbohong dengan berkata bahwa dia datang bersama Bunga, istrinya itu bilang tidak ingin terlambat di make up besok pagi, jadi meminta menginap di hotel itu.
“Begitu Ya," ucap Kelana dengan senyum di sudut bibir.
"Sampaikan salamku ke Bunga. Ayo!” Kelana mengajak Hana pergi tanpa menatap wanita itu. Ia langsung putar badan dan menggandeng Hana kembali ke kamar mereka.
Hingga saat sudah berada di dalam, Kelana melepaskan tangan Hana dengan kasar. Ia berniat untuk pergi membeli bir di minimarket tadi, tapi malah melihat Hana dan Bagas di koridor.
“Jangan pernah lagi berbicara dengan Bagas seperti tadi!”
“Kenapa?” tanya Hana yang tidak sadar bahwa Kelana sedang cemburu.
“Apa kamu ingin aku menuntutmu karena pelanggaran kontrak?”
Hana pun kicep, jika sudah bawa-bawa kontrak dan perjanjian, dia hanya bisa diam dan tak bisa melawan. Hana berjalan lemah menuju sofa, dia sadar malam ini pasti akan tidur di sana karena tidak mungkin Kelana membiarkannya tidur di ranjang.
“Setengah jam lagi keluar … ”
“Apa? Apa kamu mau mengusirku? ini kan malam perta … “
Hana tak menyelesaikan kalimatnya, dia merasa aneh menyebut kata 'malam pertama'.
“Bagaimana jika ada orang melihat dan curiga kalau kita hanya ...” ucapnya dengan mimik cemas, dia memotong kalimat yang bahkan belum Kelana selesaikan.
“Malam pertama kepalamu,” gerutu Kelana. “Setengah jam lagi keluar dan belikan aku sepuluh kaleng bir!” bentaknya.
“Apa kamu berniat mabuk-mabukan? bagaimana kalau kamu mabuk lalu memperkosaku?” tanya Hana tanpa berpikir.
“Sepuluh kaleng bir hanya akan membuatku terkencing-kencing, itu tidak akan membuatku mabuk,” sembur Kelana.
“Kenapa kamu tidak memesan lewat hotel saja?” cicit Hana.
“Mahal!”
“Sejak kapan kamu perhitungan dan pelit?”
“Cerewet,” bentak Kelana. Ia melotot ke arah Hana yang seketika memasang muka takut karena teriakannya tadi.
“Untung saja aku tidak sedang hamil, kalau hamil aku bisa langsung keguguran karena bentakanmu itu,” ketus Hana. Wanita itu melengos dan mengambil dompetnya dari dalam tas.
“Mau kemana?” tanya Kelana heran.
“Membelikanmu bir apa lagi? bukankah kamu minta tadi.”
“Aku bilang setengah jam lagi!”
Kelana sebenarnya meminta setengah jam lagi agar Hana tidak bertemu dengan Bagas seperti tadi. Namun, istri sekaligus sekretarisnya itu tak peduli, bahkan dengan berani Hana membanting pintu kamar mereka.
“Woi ... Hana!" teriak Kelana karena kaget. "Wanita itu benar-benar!"
_
_
_
_
_
_
Nganu Neng Nasya belum bisa crazy Up ya
Lagian kalau crazy Up pada lompat like nya
kalau ga stabil ntar level Neng Nasya diplorotin kek kolor Pak Kelana, eh... salah maksudnya kolor tanpa pita 😜