
Kelana membuang muka karena dia begitu membenci Amanda. Wanita yang pernah dia cintai setulus hati tapi malah mengkhianati dengan cara berselingkuh di belakangnya. Meski Amanda pernah membujuknya untuk kembali dengan alasan dia melakuka perselingkuhan karena khilaf, tapi sebagai pria yang sudah dilukai, Kelana tidak bisa menerima permohonan maaf mantan kekasihnya itu begitu saja.
“Ya, kebetulan. Banyak tempat makan dan kita bisa bertemu di sini memang sangat kebetulan.” Ucap Kelana pada akhirnya. Ia mengira Amanda akan pergi tapi wanita itu tanpa permisi malah duduk di depannya.
“Hei … bukankah kamu tidak boleh sembarangan duduk jika tidak meminta izin kepada pemilik meja?” Hardik Kelana.
Amanda seolah menulikan indera pendengarannya, dia memang berniat berbicara langsung ke Kelana soal uang yang sebenarnya sudah pria itu ikhlaskan. Kelana memang banyak membantu kebutuhan Amanda secara finansial saat mereka masih menjadi sepasang kekasih, dan Kelana pun tidak pernah mengolok-olok ataupun meminta wanita itu untuk mengembalikannya saat berpisah. Bahkan meski mengeluarkan banyak uang, tidak ada kata hutang disebutkan.
Aneh memang, jika biasanya orang akan mengejar orang yang berhutang kepadanya, tapi dalam hal ini si penghutang lah yang malah mengejar-ngejar orang yang menghutangi karena ingin membayar. Namun, Amanda jelas memiliki maksud lain, dia ingin memikat sang mantan kembali. Wanita itu menyesal sudah melepaskan Kelana.
“Meja ini aku pesan untuk makan siang dengan istriku, jadi sebaiknya kamu pergi sebelum dia datang dan berpikir kita sengaja janjian di sini,” ucap Kelana lagi.
“Berikan nomor rekeningmu aku akan membayar semua hutangku!” tegas Amanda.
“Kamu pikir aku menghitung semua uang yang aku keluarkan untukmu? Aku tidak punya waktu untuk itu,” sewot Kelana, dia mengangkat tangan membuat gerakan mengusir wanita yang pernah sangat dia cintai itu.
“Aku menghitung dan mencatatnya, jadi berikan rekeningmu. Aku tersiksa dengan hutang-hutang ini. Hutang ini membuatku terus memikirkanmu.” Amanda memasang muka sedih, dan bertambah murung saja wajahnya melihat tawa sinis Kelana yang masih tak mau memandang ke arahnya.
“Ya sudah transfer saja ke rekening istriku, aku tidak hafal nomor rekeningku sendiri tapi aku hafal nomor rekeningnya.”
Jawaban Kelana menampar Amanda, sebegitukah cinta Kelana ke istrinya hingga hafal nomor rekening Hana. Amanda tak bisa membayangkan bagaimana bergelimangnya hidup Hana, di otaknya dia sudah berpikir bahwa walk in closet di kamar pasangan itu penuh dengan tas dan baju branded milik Hana, padahal tidak sama sekali. Hana tidak pernah memakai uang dari Kelana untuk membeli barang-barang seperti itu.
Sesekali Arman menoleh untuk memastikan jika itu memang benar Kelana. Perasaannya menjadi sedikit kurang nyaman apa lagi dia hanya bisa melihat bagian belakang tubuh wanita yang sedang berbincang dengan menantunya.
“Siapa wanita itu? apa mungkin dia akan ikut makan siang bersama? tapi jelas Hana bilang tadi hanya kami bertiga,” gumam Arman di dalam hati. Sebagai seorang ayah yang anaknya dulu pernah menjadi korban pelakor, Arman pun tak bisa tinggal diam begitu saja. Ia berdiri dan menepis rasa sungkannya.
"Arman! jangan sampai menjadi papa seperti dulu yang membiarkan suami putrimu direbut pelakor tanpa bisa melakukan apa-apa," gumamnya.
Kelana yang melihat sosok Arman berjalan mendekat pun menegakkan badan, dia menyebut nama pria itu dan membuat Amanda menoleh.
“Papa!”
_
_
_
Scroll ke bawah 👇