Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Extra Part 15 : Sekata-kata


Hal pertama yang dilakukan Hana setelah sampai di kamar adalah mengendap masuk ke dalam walk in closet. Ia biarkan saja Kelana yang sedang sibuk dengan benda pipih di tangan sambil masih sedikit cemberut.


Rasa sakit memang kadang lebih bisa diterima dibandingkan rasa malu, jika rasa sakit dirasakan sendiri tanpa perlu orang tahu, tapi rasa malu jelas adalah efek dari interaksi dengan manusia lain yang tidak bisa didifinisikan rasanya.


Hana bergegas membuka lemari berisi koleksi lingerie-nya, dari yang bertema manis berwarna merah muda sampai yang seperti jaring laba-laba dia punya semua.


Namun, kini yang menjadi masalah adalah masih muat atau tidak baju kekurangan bahan itu jika ingin dia kenakan. Hana mematung cukup lama memegang satu lingerie berwarna maroon dengan bagian dada transparan, dia pandangi terus baju itu tanpa menyadari Kelana sudah berada di depan pintu menatapnya.


“Kamu mau apa, Hunny?” tanya pria itu. Kelana sudah bersedekap dada, alisnya bergelombang heran dengan tingkah Hana. Dia sadar istrinya itu pasti sedang ingin D3. Diraba, diremas, ditumbuk. Sedangkan dia sedang S1 – suntuk.


“Hah … tidak apa-apa sayang, hanya melihat-lihat baju kekurangan bahan,” jawab Hana. Ia mengurungkan niat mengajak suaminya itu rekreasi, karena dari raut muka saja Kelana nampak masih sangat kesal, tidak asyik juga jika diajak bercinta.


“Ternyata bajuku banyak sekali hehe,” imbuh Hana sedikit canggung.


Kelana bukan pria bodoh yang tidak tahu maksud dari sikap Hana. Ia sadar bahwa sang istri ingin menghibur dirinya. Melihat raut muka Hana yang berubah dari semringah ke sedih, Kelana pun tak tinggal diam. Ia masuk untuk mendekat dan langsung meraih hanger di tangan Hana dan meletakkannya kembali ke dalam lemari.


“Sepertinya dia tahu apa niatku,” gumam Hana di dalam hati. Tatapan matanya tak teralihkan dari paras Kelana yang tak semasam tadi. Pria itu mengusap ke dua sisi lengan Hana sebelum tangannya beralih ke perut wanita itu.


Kelana hanya diam memandangi, menurutnya perut Hana sangat lucu hingga dia pun tersenyum sendiri. Kelana mengingat sindrom yang sedang dia alami, bahu pria itu pun mengedik dan sukses membuat Hana mengernyitkan dahi. Kelana benar-benar merasa lebih sensitif. Keduanya pun terdim cukup lama hingga Kelana merasakan sebuah tendangan, begitu juga Hana yang kaget. Wanita itu buru-buru menyentuhkan tangan ke perut, dan sebuah tendangan kembali terasa.


“Dia menendang,” ucap Hana bahagia.


“Menurutku dia sedang cegukan,” balas Kelana lantas tertawa. Senyumannya membuat Hana benar-benar merasa lega, hingga wanita itu ingin memeluk tapi agak bingung takut jika perutnya tertekan.


“Begini caranya.” Kelana menggeser badan dan langsung memeluk Hana dari arah belakang. Pria itu melingkarkan tangan di bawah perut Hana lalu menyandarkan kepala ke pundak.


“Aku pikir kamu marah.”


“Siapa yang marah? aku hanya kesal, itu pun tadi. Menurutmu siapa yang tidak akan kesal jika dipandang lebih mempercayai dukun dari pada medis?” Kelana membuang napas dari mulut. Ia menunjukkan bahwa dirinya benar-benar kecewa.


“Maaf ini gara-gara aku,” ucap Hana, dia sedikit menundukkan kepala karena merasa bersalah.


“Bukan, ini gara-gara si prindapan itu, kenapa dia tidak bertanya lebih dulu sebelum berkoar-koar ke dedengkot komplek,” sanggah Kelana. Mengingat geng sultini yang datang ke rumahnya bersama ambulan tadi membuatnya memutar bola mata malas.


“Namanya Mina, seenaknya saja kamu menyebutnya.” Hana membela. “Minggu depan dia akan mengadakan acara di rumahnya, pesta ala Bollywood.”


“Apa pak Jarjit akan datang?”


“Siapa pak Jarjit?” Hana melepaskan pelukan Kelana lalu memutar badan, dia bingung dengan pertanyaan sang suami barusan.


“Ayahnya Bu Mina.”


“Astaga sayang, jangan sekata-kata!” amuk Hana.


_


_


_


 


Scroll ke bawah 👇