Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 80 : Rencana


Hana yang diam-diam menguping pun tertawa, dia bergumam dalam hati. “Tidak akan semudah itu memperdayai suamiku wahai mantan suami.”


Wanita itu seketika mengatupkan bibir saat Bagas nampak berdiri dan mendekat ke arah pintu. Dengan tatapan yang benci, pria itu meninggalkannya begitu saja dengan dada yang bergemuruh.


“Dia pasti sangat kesal, aku penasaran dengan apa yang sedang dia rencanakan?” Kelana memandang Hana yang baru saja menutup pintu. Pria itu masih berdiri di posisinya, saat Hana masuk ke dalam ruangan.


“Entah, tapi bukankah untuk tahu apa yang Bagas rencanakan kamu harus menuruti apa maunya,” jawab Hana dengan bibir yang tertekuk ke dalam, ucapannya membuat kening Kelana berkerut tipis.


“Apa harus?”


Hana mengedikkan bahu, dia mendekat dan membenarkan jas Kelana dan juga dasi yang melingkar di leher bos sekaligus suaminya itu. Kepalanya mengangguk.


“Pasti ada yang sedang dia rencanakan, Bagas pasti menginginkan sesuatu,” ucap Hana.


“Kalau begitu, beritahu dia bahwa kamu memang harus berhenti jadi sekretarisku dan aku butuh sekretaris baru segera, kriteria yang aku tolak tadi boleh dia masukkan. Jangan lupa kamu harus memberikan alasan yang membuatnya percaya, bilang saja mamaku ingin punya cucu segera agar semakin panas hati si Bagas itu,” ucap Kelana.


Tubuhnya tiba-tiba condong ke depan, masih pagi buta Kelana sudah ingin menyambar bibir Hana.


“Stop! Saatnya bekerja Pak.” Hana sengaja meletakkan jari telunjuk ke bibir sang suami dan pria matang yang sedang dalam fase selalu ingin membuahi itu mengedipkan mata, dia singkirkan tangan Hana sebelum mencium bibir Hana meski hanya sekilas.


“Kamu tidak akan pernah bisa melarangku melakukan hal yang aku senangi Hunny,” ucap Kelana dengan gaya jemawa. “Sekarang, kembali ke tempatmu!” titahnya dengan gaya seorang bos besar ke bawahan.


“Jadi aku harus kembali bekerja atau menemui Bagas?” tanya Hana. Dia bingung mana dulu yang harus dikerjakan.


“Ah … iya, sana temui Bagas dulu! tapi waktumu hanya lima belas menit. Jika lebih dari itu aku akan mencarimu dan lihat saja apa yang akan aku lakukan,” ancam Kelana.


“Memang kenapa kalau lebih dari lima belas menit?” cicit Hana, suaranya sudah dia buat selirih mungkin tapi Kelana tetap saja bisa mendengarnya.


“Aku takut kamu nanti dipelet dia.


Hana membuang napas dari mulut, bukan hal yang mudah sepertinya, mengingat Bagas tadi keluar dengan amarah yang kentara di wajah. Namun, dia tetap ingin segera menyampaikan perubahan pikiran Kelana tentang kriteria sekretarisnya tadi. Jujur saja, Hana penasaran dengan apa yang Bagas rencanakan. Dan siapa tahu, dia bisa memanfaatkan rencana Bagas itu untuk balas dendam, menjadikannya boomerang bagi pria buaya yang sudah menceraikannya hanya karena dirinya berubah gendut.


Untuk mencairkan hati Bagas yang sepertinya tengah murka, Hana sengaja membuatkan kopi lebih dulu, setelah itu dia melangkah masuk ke ruang HRD dengan senyum merekah. Namun, tak diduga dia tidak menemukan sosok Bagas di sana. Saat bertanya ke staff, mereka bilang Bagas keluar beberapa menit yang lalu dengan tergesa-gesa, bahkan membawa berkas yang isinya adalah catatan arisan sejahtera sentosa.


“Di mana dia? Ah … merepotkan saja, Kelana bilang hanya memberiku waktu lima belas menit,” gerutu Hana. Tanpa berpikir lama-lama, Hana merogoh ponsel di kantong celana, dia menghubungi Bagas dan bertanya di mana pria itu berada.


“Aku? apa kamu masih peduli? Aku benar-benar kecewa padamu, kamu membohongiku Hana.”


“Bohong apa?” tanya Hana kebingungan.


“Kamu mencintai Pak Kelana ‘kan? kamu bahkan sudah pom … “


Bagas hampir saja keceplosan menyebutkan kata pompa, dia terdiam cukup lama hingga Hana bertanya dengan nada tinggi.


“Sekarang kamu ada di mana?”


“A-a-aku, aku sedang di WC,” jawab Bagas.


_


_


_


Scroll ke bawah 👇