
Bel lagi-lagi berbunyi dan Hana memilih untuk tidak membukakan pintu. Ia akhirnya menghubungi Kelana, di kondisi seperti ini marah bukan pilihan yang bijak.
Semenit
Dua menit
Hana mondar mandir takut, meski pintu apartemennya kokoh entah kenapa dia berpikir bahwa Bagas bisa saja mendobrak dan melakukan perbuatan jahat padanya. Hana seperti trauma, dia mengingat bagaimana dulu preman bayaran Bagas dan Bunga datang ke rumah, memukuli dan menendang perutnya membabi buta. Secara posesif tangan kanan Hana melingkar ke perut sedangkan tangan kirinya masih memegang ponsel untuk menghubungi Kelana.
“Sayang!”
Kelana bahagia karena Hana sudah mau bicara, pria itu tersenyum sambil sesekali melirik kotak-kotak es krim jumbo yang dia letakkan di kursi penumpang dari kaca spion tengah. Kelana menerka bahwa Hana sedang mencemaskan keadaannya.
“Hunny, apa sudah tidak marah lagi? aku membe-“
Air muka Kelana seketika berubah cemas, dia meminta Hana menunggu dan melarang istrinya itu membuka pintu. Hana memberitahu Kelana kalau Bagas dan Bunga sedang berdiri di depan unit apartemen mereka.
“Hunny, aku akan segera sampai, tetaplah di dalam.”
Kelana takut kedatangan Bagas dan Bunga hanya untuk melukai Hana. Ia menambah kecepatan mobil dan bahkan dua kali menerobos lampu merah. Terlalu cemas, dia bahkan memutuskan menghubungi satpam apartemen agar bisa mengecek ke unitnya.
_
_
“Saya ke sini diminta Pak Kelana untuk memeriksa, apa ada yang bisa saya bantu?” satpam berbicara pada Bunga dan Bagas, sedangkan Hana masih saja mengintip dari lubang pintu sambil berdoa semoga matanya tidak bintitan.
“I-itu.”
Bunga terbata-bata, dia senggol lengan Bagas agar suaminya itu mau berbicara. Mereka ternyata ke sana karena takut digelandang polisi seperti Tantri. Setelah berunding berdua, Bagas dan Bunga ingin meminta maaf pada Hana meski harus sampai bersujud di bawah kaki wanita itu.
“Kami hanya ingin bertemu dengan Hana,” jawab Bagas yang langsung membetulkan ucapannya. “ … dengan ibu Hana maksud saya.”
“Apa ada sesuatu yang mendesak? Apa Anda berdua teman? Saudara atau … “ Satpam itu menjeda lisan dan memindai penampilan Bagas dan Bunga dari ujung kaki sampai ujung kepala.
“Mengancam? Kami bukan penjahat Pak!” sanggah Bunga.
“Jika bukan penjahat lalu apa?”
Suara Kelana membuat orang-orang yang terlibat dalam perbincangan itu menoleh. Si satpam membungkuk hormat sedangkan Bagas dan Bunga merasa canggung. Ia melihat Kelana membawa dua kantong besar yang tak tahu isinya apa.
“Kami datang untuk bertemu dengan Hana,” ucap Bagas.
“Bertemu? Untuk apa? Ah ... memohon padanya? Meminta maaf?” sindir Kelana. Ia berikan kantong di tangannya ke satpam sambil merapat ke arah Bagas dan Bunga.
“Apa kalian tahu? aku hampir celaka hari ini karena mama kalian! Dia menyewa preman untuk menusukku dengan senjata tajam, apa menurut kalian itu normal? wajar? Tidak! itu kriminal.” Kelana menekankan setiap kata yang diucapkan. Ia ingin Bagas dan Bunga ketakutan.
“Ka-ka-kami.” Bunga lagi-lagi tak bisa berucap dengan lancar. Ia takut jika harus mendekam di balik jeruji besi. “Kami tidak tahu hal itu, mama melakukannya tanpa sepengetahuan kami,” imbuh Bunga yang malah terkesan memojokkan ibu kandungnya sendiri.
“Kalian jangan berpura-pura bodoh, kalian jelas tahu bahwa mama kalian memang memiliki rasa benci yang besar ke aku.” Kelana memulas smirk, sedangkan diam-diam Hana masih mengintip dari lubang pintu.
Menyadari bahwa situasi aman terkendali, Hana memberanikan diri membuka pintu. Alhasil semua orang menoleh dan membuat Hana merasa seperti commercial breaks yang mengganggu tayangan. Namun, adegan setelahnya tak pernah Hana pikrikan benar-benar terjadi seperti yang dia bayangkan.
Bunga berlutut disusul oleh Bagas, mereka meminta ampun agar dimaafkan dan tidak dilaporkan ke polisi oleh wanita yang pernah mereka hancurkan itu.
“Maaf?” Bahu Hana mengedik dan dia pun tertawa penuh ironi. “Setelah semua penderitaan yang kalian berikan kepadaku selama ini? hanya kata maaf?"
_
_
_
_
Maafin nggak? apa kubuat mokat aja tu B2 🤣