Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Extra Part 3 : Liburan


Rafli merasa bahagia saat tawarannya mengajak liburan Kelana diterima. Dia yang memiliki tujuan lain menyiapkan segala sesuatunya dengan sangat baik. Pulau Lepa menjadi alatnya untuk memberi sogokan ke sang sepupu, apa lagi saat Rafli tahu Hana sangat antusias berlibur, dia langsung bersikap baik pada istri Kelana itu agar mau mendukungnya, untuk bisa menjalin hubungan harmonis antar sepupu.


Pulau Lepa memang sudah dibuka untuk pengunjung umum sejak beberapa tahun yang lalu, hanya saja membuat reservasi menginap di sana sangat sulit. Pengunjung dilarang membawa makanan dari luar, jika pun terpaksa mereka harus membawa sampah mereka saat pulang nanti.


“Astaga apa bagusnya liburan di pulau itu, mending kita ke Maldives Hunny,” oceh Kelana. Ia memandang lautan lepas saat mereka hampir tiba di dermaga pulau Lepa. Tangannya bersedekap, sementara tatapan matanya tak begitu terlihat karena tertutup kaca mata hitam yang bertengger di hidung bangirnya.


Rafli yang mendengar jelas sedikit tersinggung, padahal untuk mendapatkan slot menginap, dia harus menyingkirkan pengunjung yang sudah membooking dengan cara mengeluarkan sogokan lumayan besar. Hana menyadari perubahan ekspresi wajah suami Rita itu dan membela. Bagaimanapun juga dia melihat ketulusan Rafli agar bisa rukun dengan Kelana. Hana berpikir, Kelana adalah anak tunggal, jika bukan sepupu yang dia miliki untuk membantu di masa depan, lalu siapa lagi? Manusia hidup tidak boleh jemawa meski sudah merasa memiliki segalanya, karena di atas langit masih ada langit. Tidak ada manusia yang bisa hidup tanpa bantuan manusia lain di dunia ini.


“Aku suka, lihat pantainya! masih bersih dan tidak ada sampah. Untuk apa membuang-buang uang ke negara lain, lebih baik kita gunakan untuk menaikkan taraf hidup saudara sebangsa sendiri,” kata Hana yang terdengar begitu patriotik.


“Kamu sudah pantas menjadi calon anggota legislatif,” sindir Kelana. “Apa kamu ingin belajar politik? sana kursus ke pak Dewan,” ketusnya karena merasa tidak didukung oleh Hana.


Menyadari ketidaksenangan Kelana, Hana pun mengeluarkan jurus 3M, merayu, manja dan memeluk. Salah satu jurus yang diajarkan oleh ibu-ibu geng sultini blok kamboja. Ia lingkarkan tangan ke pinggang Kelana, menggelayuti manja lalu mengeluarkan kata-kata gombal.


“Kenapa emosi? Ingat! kita di sini untuk bersenang-senang,” ucap Hana. “Apa kamu tidak ingin merasakan sensasi berperang di pondok bambu dengan atap daun rumbia? Ha?” bisiknya manja. “Kapan lagi dapat sensasi hohohehe seperti di pedalaman Afrika.”


Ingin rasanya Kelana tertawa, tapi gengsi pria itu masih terlalu tinggi melebihi Himalaya. Ia hanya menelan saliva dan membuang muka, sebuah kata yang biasa digunakan kaum mama muda saat marah pada suaminya pun meluncur dari mulut pria itu.


“Terserah!”


Hana memajukan bibir, dia berniat terus memeluk sampai Kelana luluh sendiri. Namun, Hana terpaksa harus melepaskan pelukan karena mereka sudah sampai di dermaga. Seorang pemandu yang akan menemani liburan mereka di sana pun menyambut. Pria berperawakan tinggi kurus itu memperkenalkan diri bernama Lukito dan biasa dipanggil Lucky.


“Mari silahkan! saya akan mengantar Anda sekalian menuju pondok,” ucap Pria itu, dia datang menyambut rombongan Hana bersama seorang anak kecil perempuan berumur sekitar lima tahun.


“Hei … ini anak mas Lucky ya?” sapa Hana ramah, bocah itu pun mengangguk. “Siapa namanya?”


“Ya saya bingung mau kasih nama apa dulu, jadi ya sudah saya gabungkan saja nama saya dan nama istri,” jawab Lukito.


Kelana yang berjalan bersisian dengan Rafli pun mencoba memikirkan apa yang baru saja dikatakan Lucky, dia memutar otak mencari nama yang bagus untuk anaknya dan Hana nanti.


“Gabungan nama kami sepertinya boleh juga, tapi mana bagus jika anakku dan Hana diberi nama ‘Keha’ tidak ada artinya,” gumam Kelana dalam hati. Ia menggeleng karena merasa gabungan namanya yang Hana sangat jelek sekali.


“Oh … ya apa mungkin kami bisa melihat penyu di sini?” tanya Hana antusias.


“Bisa sekali, kebetulan bulan-bulan ini musim penyu bertelur dan malam ini saya akan pergi untuk melakukan pengamatan, apa Anda mau ikut? Tapi ada tambahan paket,” ucap Lucky sungkan.


“Aku mau!”


“Tidak!”


Hana dan Kelana menjawab bersamaan.


_


_


_


Ada ide nama anak buat baby Ebong? onty onlen