
Seperti apa yang dipikirkan Dinar, Arman dan Ayu memang dekat, kedua mahkluk yang sudah tak lagi muda itu ternyata sedang bertemu di sebuah kafe untuk ngopi bersama. Sebenarnya tak ada perasaan spesial di antara mereka. Arman dan Ayu murni berteman dan merasa nyambung saat membicarakan hal-hal di zaman mereka masih muda. Lagi pula umur Ayu juga jauh lebih tua dari Arman, wanita itu merasa waktunya sudah tak lama, dari pada memikirkan hal-hal berbau cinta dia lebih ingin mendekatkan diri dengan beribadah.
Arman dan Ayu asyik berbincang tentang sebuah lagu di mana penyayinya baru saja meninggal dunia. Mereka tertawa-tawa karena lagu itu sama-sama memberikan kenangan akan cinta pertama. Di saat mereka masih mengobrol sambil bercanda, tiba-tiba saja suara pintu kafe yang membentur tembok terdengar. Untung saja pintu yang terbuat dari kaca itu tidak sampai pecah. Semua orang menoleh ke sana, tak terkecuali Arman. Dia kaget mendapati Tantri sudah berdiri. Wanita itu ternyata menguntitnya, sejak tadi ibunda Bunga itu duduk di luar sambil mengamati gerak-geriknya dan Ayu.
“Oh … ternyata kamu meminta bercerai karena selingkuh dengan nenek-nenek ini.”
Suara Tantri menggelegar, semua orang di kafe itu sampai heran. Jika yang bertengkar adalah remaja mungkin masih wajar, tapi melihat orangtua yang tiba-tiba melabrak rasanya sedikit aneh, orang-orang yang melihat kejadian itu pun harus dibuat berpikir keras. Luar biasa, momen yang sangat langka di mana ada nini-nini yang memperebutkan aki-aki.
“Jaga ucapanmu!” Arman membentak, dia tidak ingin sampai Tantri membuat Ayu malu.
Namun, dasar Tantri memang tak tahu malu, dia malah semakin mengeraskan volume suara dan berkoar-koar.
“Bu Ayu, mari kita pergi dari sini, saya akan mengantar Anda sampai ke mobil,” ucap Arman lemah lembut tanpa peduli dengan Tantri yang sudah bersungut-sungut. Wanita itu bahkan meraih pergelangan tangan Arman sampai pria itu menoleh.
“Kamu keterlaluan Mas Arman, selama ini siapa yang menemanimu dalam kesusahan setelah ibunya Hana mati, Ha?”
“Maaf! kalau kamu berbicara dengan cara meledak-ledak seperti ini aku tidak akan menanggapi.” Arman menepis tangan Tantri, dia memilih berjalan pergi dan Ayu pun tak membalas ucapan wanita itu sama sekali. Bagi Ayu membuka mulut hanya akan membuat Tantri berpikir dia memberi perhatian.
Tantri mematung, dia pandangi punggung Arman dan Ayu secara bergantian sebelum dia mengambil ponsel dari tas dan menelepon Bunga.
“Bisakah kalian sehari saja tidak mengganggu hidupku?” Bunga langsung berteriak frustrasi sesaat setelah Tantri menceritakan apa yang terjadi. “Makanya Mama tidak usah bertindak konyol. Sudah cari pria lain yang jauh lebih baik dan kaya dari Arman,” ketus Bunga sampai tak menggunakan kata sapaan di depan nama pria itu.
Bunga mengemudikan mobil milik Bagas menuju kantor kembali. Ia yang sudah berusaha menahan emosi malah dibuat kembali emosi karena aduan Tantri. Bunga tak menyangka wanita yang melahirkannya itu bisa bertindak konyol dengan menguntit Arman.
“Aku bisa gila!” teriak Bunga frustrasi.
_
_
“Em … Nyonya, itu ada Bu Sultini di depan.”
“Bu Sultini?” Hana mengeryitkan kening, dia tatap Dinar penuh tanda tanya dan sang mertua hanya merespon dengan mengedikkan bahu.
“Oh … mungkin tetangga depan, aku memang belum kenalan,” imbuh Hana.
“Maaf tapi mereka rombongan!”
_
_
_
_
bersambung dulu 🤗