
“Aku suka udon tadi siang sayang, kapan-kapan kita ke sana lagi ya,” ujar Hana di sela makan malam mereka.
Kelana yang baru saja memuji masakannya pun mengangguk, dia begitu menikmati makanannya sampai tidak menoleh sedikit pun untuk menjawab sang istri. Baginya apa yang disiapkan oleh Hana benar-benar spesial, meski hanya sop ayam dan perkedel kentang.
“Aku pikir kamu tidak akan pernah mau ke sana lagi karena aku menyebut nama Amanda,” ucap Kelana. Ia akhirnya mengarahkan tatapan matanya ke Hana dan tersenyum meledek.
“Ya, jujur saja awalnya aku kesal karena kamu membawa-bawa nama dokter mantanmu itu, tapi aku sadar aku pun sering menyebut nama Bagas, jadi kalau hal seperti itu saja kamu tidak terganggu jadi seharusnya aku pun bisa melakukannya.” Hana bertopang dagu, dia memang tidak ikut makan dan hanya memilih membuat minuman pengganti makan malam.
“Kamu benar-benar istri yang sempurna," puji Kelana. "Oh .. ya apa ada yang kamu inginkan sebagai hadiah ulang tahunmu?”imbuhnya.
Kelana sengaja, dia ingin tahu apakah Hana menginginkan sesuatu, meski sebuah hunian mewah sudah dia siapkan untuk istri tercintanya itu.
“Aku hanya ingin menghabiskan waktu berduan denganmu, tidak ingin apa-apa, jika bisa aku ingin hadiahnya langsung dari atas sana, aku ingin mengandung anak kita.” Hana tersenyum lebar, Kelana bahkan sampai mengangkat pantat agar bisa mengusap rambut Hana yang duduk di depannya, tapi terhalang meja.
“Hei … Hunny apa kamu tahu? setelah makan udon paling enak ngadon.” Kelana tersenyum genit, meski masih menikmati makan malamnya, tapi otak pria itu sudah beralih ke urusan lain.
“Sayang! Kamu benar-benar ya! ya sudah cepat habiskan makananmu sebelum palang merahku datang lagi,” Hana tertawa-tawa, dia menoleh ke arah lain sambil menghabiskan minuman dietnya. Wanita itu bergumam dengan masih memulas senyum di bibir, “Udon ngadon dia bilang, dasar!”
“Apa?” tanya Kelana yang mendengar ucapan sang istri.
“Tidak, tidak apa-apa.”
_
_
Setelah Hana selesai, Kelana yang baru saja mendapati panggilan itu memilih meletakkan ponsel di sofa. Ia melebarkan ke dua lengan melihat istrinya yang seksi datang mendekat. Hana duduk di pangkuan dan mengalungkan tangan ke lehernya.
“Kenapa memandangiku begitu?” goda Kelana, dia belai pipi Hana dengan lembut sebelum mendaratkan ciuman di sana.
“Kamu tadi bilang habis makan udon enaknya ngadon, jadi apa sudah tidak perang lagi kita sekarang?”
Hana bertanya dengan nada suara sensual. Kelana sampai merinding tapi tetap berusaha menyembunyikan perasaan, jangan sampai dia selalu dibuat terjerat duluan, malam ini Hana yang harus dia buat kelabakan.
“Tidak, aku tidak ingin milikku berganti nama menjadi ebi furai, aku lebih suka rudal.”
Hana terbahak-bahak, Ia bahkan sampai mencurukkan kepalanya ke pundak Kelana sambil memegangi perut. “Astaga aku tidak kuat membayangkannya Sayang!”
_
_
Satu dulu, bab lain nyusul Minggu saatnya membabu buta wkwkwkwk Makasih geng masih setia menghalu bersama. Oh ya cek Igeh aku ya di @nasyamahila. Na lagi bikin GA buat pembaca setia Hana, buat yang beruntung aku bakal cek outin belanjaan kalian di sopi.
Love you sekebon