
Bagas pergi dengan membawa rasa kecewa. Keputusan Arman untuk bercerai tidak bisa diganggu gugat. Ia yang setengah hati menerima Tantri pun pusing tujuh keliling. Di dalam mobilnya Bagas termenung, dia bahkan memukul kemudi. Pria itu tak sadar bahwa Arman masih mengawasinya dari balkon lantai dua. Mertuanya itu geleng-geleng kepala lantas masuk kembali, Arman berniat untuk menghubungi Hana dan mengembalikan uang sang putri yang digunakan untuk membiayai operasinya. Ia juga berniat menemui pengacara agar bisa segera mengurus perceraiannya dan Tantri.
_
_
“Dari mana? aku pikir kamu berangkat pagi karena ada kerjaan penting, ternyata kelayapan,” sindir Bunga saat berpapasan dengan sang suami di parkiran. Bagas memang sengaja berangkat lebih dulu tadi, tapi dia tidak bilang akan pergi menemui Arman.
“Aku menemui papa untuk membujuknya?”
“Papa? Papamu ‘kan sudah di alam baka.” Bunga heran, hingga Bagas yang berjalan menghentikan langkah kaki dan menoleh kesal.
“Papa mertua, Papanya Hana, apa perlu disebutkan segamblang itu, Ha?” ketus Bagas. “Aku meminta Papa untuk tidak menceraikan Mamamu, tapi tidak berhasil, dia bersikukuh berpisah.”
Bunga tak menjawab Bagas, wanita itu merespon dengan membuang napas panjang dan malah membuat Bagas semakin kesal. Bunga mengekori langkah kaki sang suami lalu mensejajari.
“Lakukan sesuatu! jika kamu masih ingin mempertahankan keutuhan rumah tangga kita, maka minta mamamu pergi dari rumah, dia bisa tinggal di kontrakan atau kos-kosan, yang penting dia tidak berada satu rumah dengan kita.”
Bunga tak terima dengan ucapan Bagas, meski kini sudah berada di lobi tapi wanita itu tak sungkan untuk berbicara dengan suara lantang.
Bunga berkata,”Memang apa sih salahnya kalau mama tinggal di rumah kita, Ha? dia wanita yang melahirkanku, karena dia lah aku bisa menjadi seperti ini.”
“Seperti apa? menjadi pelakor?”
Bagas dan Bunga mengerjab bersamaan, keduanya menoleh dan mendapati Kelana sudah berdiri dengan satu tangan masuk ke dalam kantong celana. Pemilik perusahaan tempat mereka bekerja itu pun mendekat, Kelana menatap Bagas dan Bunga bergantian kemudian tertawa menghina.
“Apa kalian tidak malu? perdebatan kalian ini bisa saja di dengar oleh banyak orang. Carilah tempat yang sepi untuk berdebat soal dapur kalian.” Setelah berucap Kelana berjalan menjauh, tapi hanya beberapa langkah dia memutar badan kembali dan bertanya pada Bunga, apakah sekretarisnya itu sudah melakukan apa yang dia perintahkan.
“Sudah, saya sudah melakukannya.”
“Bagus,” puji Kelana. “Silahkan dilanjutkan perdebatan kalian, maaf sudah menyela,” sindirnya setelah itu pergi.
“Bunga, kita belum selesai!” Bagas mengejar dan berhenti tepat di depan muka Bunga. “Kamu jelas tahu sifat mamamu seperti apa, kamu juga pasti tahu kalau dia ke depannya bisa ikut campur urusan rumah tangga kita, kalau sampai itu terjadi apa kamu pikir masih akan ada keharmonisan di antara kita?”
“Ada atau tidak ada Mama, rumah tangga kita memang sudah tidak harmonis Mas Bagas,” jawab Bunga dengan penekanan di setiap kata. “Mas mau apa kalau akau tidak mau meminta mama pindah? Bercerai? Mas Bagas lupa dengan perjanjian pra nikah kita, siapa yang menggugat cerai duluan, dia yang harus pergi dari rumah. Ya, meski itu rumahmu.” Bunga memulas smirk setelah itu berlalu meninggalkan Bagas yang mematung kebingungan.
“Sialan! kenapa dulu aku bersedia membuat perjanjian itu dengannya,” geram Bagas.
***
Sementara itu, Hana yang baru saja pulang ke apartemen dibuat berbunga-bunga mendapati satu bucket mawar merah tergeletak di depan pintu. Ia tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya membaca pesan yang menyertai bunga itu.
“Dia benar-benar sangat romantis,” ujar Hana lalu menghidu aroma yang menguar dari bunga itu.
Hana pulang ke apartemen hanya untuk membersihkan dan setelahnya berniat pergi ke rumah sakit untuk memastikan kehamilannya, tak lupa Hana mengirim pesan ke sang suami. Ia mengucapkan terima kasih dengan dibumbui ucapan cinta. Hana juga mengingatkan Kelana untuk datang ke restoran udon siang nanti.
“Aku akan memberinya kejutan, tidak baik menyembunyikan kehamilan ini lama-lama, semoga dia bahagia mendengar kabar ini.”
Hana mengusap perut sebelum satu panggilan mengagetkannya. Mendapati nomor sang papa yang menelepon, Ia pun sudah bisa menebak apa yang ingin disampaikan oleh Arman.
“Pa, bagaimana kalau siang ini kita makan udon bersama?” tanya Hana sebelum Arman mengungkapkan niatnya. “Ada yang ingin aku sampaikan ke Papa.”
Hana nampak mengangguk, dia berniat memberitahu sang papa juga perihal kehamilannya. Ia tidak sabar melihat bagaimana respon Arman jika tahu bahwa sebentar lagi akan menjadi kakek.
_
_
_
bersambung dulu 🤗