
“Aku ‘kan yang akan dipilih? Iya donk jelas, masa nggak?”
Seperti malam sebelumnya, malam itu Bunga juga menunggu Bagas pulang dan langsung bertanya soal hasil tes wawancara yang dia ikuti. Bagas tak serta merta menjawab, pria itu mendiamkan dulu sang istri, hingga Bunga bertanya lagi untuk yang ke dua kali.
“Mas Bagas! Gimana?”
Pria itu berdiri dan dengan tatapan aneh memandangi Bunga, wanita itu jelas kaget karena tatapan Bagas sungguh sangat mesum. Sebagai istri yang sudah hampir empat tahun mendampingi pria ini, Bunga pun tahu bahwa suaminya pasti sedang ingin bercinta.
“Mas Bagas mau mandi dulu?” intonasi dan bahkan sikap Bunga sedikit berubah, dia menjadi lembut dan manja.
Bukannya menjawab, Bagas lebih memilih merengkuh tubuh Bunga dan menariknya. Dada wanita itu membentur dadanya hingga bergoyang, dia pun menunduk tapi bukannya menatap mesum dua bukit bantet itu, Bagas malah membandingkan ukurannya dengan milik sang mantan istri.
“Dada Bunga sekarang kalah dengan besarnya dada Hana yang lebih padat berisi,” bisik Bagas di dalam hati.
Pria brengsek sepertinya memang pantas untuk diberi pelajaran. Dulu sudah meninggalkan berlian demi batu kali, sekarang menyesal setelah tahu batu kali tak seindah berlian yang dia tinggalkan. Sejak menikah dengan Bunga, Bagas merasa kekayaannya sama sekali tidak bertambah, mungkin karena Bunga terlalu boros, berbeda dengan Hana yang sangat teliti, padahal sama saja keduanya dulu hanya tinggal di rumah menjadi ibu rumah tangga.
Namun, hasrat Bagas malam itu tidak bisa dibendung. Sebagai pria normal dia merasakan yang namanya biraahi. Ia pun melancarkan aksi dengan mengusap pipi Bunga dan menjawab pertanyaan istrinya itu dengan lembut.
“Mandinya nanti saja setelah pijat plus-plus,” ucap Bagas. Bunga pun mengangguk, wanita itu buru-buru mengunci pintu lantas menggandeng tangan suaminya itu masuk ke kamar.
Bunga merasa bahagia, setidaknya sekarang dia melihat sosok Bagas yang dulu. Jujur saja dia merebut Bagas awalnya karena harta, tapi dimanja, disentuh dan dienak-enak jelas membuat cinta tumbuh di hatinya seiring berjalannya waktu.
Ya, mungkin terlalu berlebihan penggambarannya, tapi dulu mereka bisa melakukannya sehari sekali, semenjak kebocoran-kebocoran kecil yang terjadi dalam rumah tangga mereka, paling satu minggu sekali mereka bercinta, itu pun tidak tentu.
Bunga masih terus menikmati sentuhan yang Bagas berikan, dia lagi-lagi mendesaah dan mengeluarkan erangan-erangan lembut nan erotis. Hingga, tiba-tiba saja terlintas pikiran yang sedikit seram di dalam kepalanya.
“Ini malam Jumat, bagaimana jika Mas Bagas adalah mahkluk jadi-jadian yang menyamar?”
Bunga menatap aneh Bagas yang masih menyesap dan menguluum puncak dadanya. Hatinya terasa aneh. Putri tunggal Tantri itu takut kalau sampai setelah kejadian ini dia hamil anak setan. Bunga tak lagi menikmati dan semakin gemetaran, dia merasa paranoid, tapi entah kenapa dia takut untuk menolak dan melawan.
Bagas menyeringai sambil memperlihatkan teripangnya yang sudah mengembang, Bunga menjadi semakin takut, bagaimana bisa sikap suaminya itu jauh berbeda, tidak seperti pagi tadi. Beruntung pria itu belum melepas penutup bagian bawah tubuhnya. Hingga Bunga memilih menahan Bagas yang sudah ingin melancarkan aksi. Wanita itu manarik tubuh ke atas dan merapatkan kaki.
“Mas, aku cek dulu ya! rasanya kok ada yang aneh. Apa aku manstrubaasi, eh … salah maksudku menstruasi,” ucap Bunga ketakutaan sampai salah arti.
_
_
_
Scroll ke bawah 👇