Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 242 : Tebus Dosa


Bunga dan Bagas tak bisa berkata-kata. Mereka masih berlutut dan memohon pengampunan Hana. Istri Kelana itu berkaca-kaca, Hana membuang muka dan menepis tangan Bunga saat wanita yang pernah menghancurkan hidupnya itu hendah menyentuh tangannya.


“Setelah apa yang aku alami selama ini karena kalian dan hanya kata maaf?” Hana tertawa penuh ironi, dia benar-benar tak menyangka Bunga dan Bagas meminta maaf seperti ini padanya, Sungguh sangat terlambat mengingat perlakuan mereka yang keji.


“Itu sudah lama berlalu dan coba pikirkan! Jika aku tidak merebut Bagas mungkin kamu tidak akan pernah bisa bertemu dengan Pak Kelana,” ujar Bunga melakukan pembelaan diri. Ia senggol lengan Bagas yang mengangguk mengiyakan saja karena tidak bisa berpikir.


“Lalu apakah aku harus berterima kasih karena kesakitan yang kalian torehkan?” ketus Hana. “Apa aku harus berterima kasih karena perbuatan kalian lah takdirku berubah?” Hana malah semakin murka. Tangannya mengepal kuat. Dia mundur ke belakang. Ditatapnya Kelana dan satpam yang sedang mendengarkan perbincangan mereka secara pergantian.


“Usir mereka dari sini! aku tidak ingin melihat wajah mereka lagi.”


Setelah mengucapkan itu Hana berpaling, Bunga dan Bagas tersentak, mereka mencoba untuk menahan Hana tapi dihalangi oleh Kelana. Pria itu langsung menghadang di depan pintu, Mendorong dada Bagas agar menjauh lalu merentangkan sebelah tangan agar Bunga tidak menerebos masuk.


“Cukup! Jangan kalian usik hidup Hana lagi. Semua sudah jelas, bukti sudah aku serahkan ke polisi, jadi pertanggungjawabkan perbuatan kalian, mendekamlah di balik jeruji besi untuk menebus dosa!”


Tepat setelah mengucapkan itu Kelana masuk dan menutup pintu. Bunga dan Bagas mematung dan merasakan ketakutan yang amat sangat besar. Keduanya terdiam cukup lama, sampai satpam meminta mereka untuk pulang saja dan mempersiapkan diri untuk dijemput polisi.


Dengan langkah terseok, pasangan suami istri itu pun berjalan menuju lift. Meninggalkan satpam yang bingung karena ditinggali belanjaan es krim oleh Kelana tadi.


“Lha … ini gimana?” Satpam itu meletakkan belanjaan milik Kelana di depan pintu lalu memencet bel, tapi Kelana maupun Hana tak ada satu pun yang keluar untuk membukanya. “Aduh … Pak, pak Kelana!” panggilnya berulang tapi tetap tak ada jawaban.


Setelah menutup pintu, Kelana menyusul Hana yang masuk ke dalam kamar. Wanita itu duduk di tepian ranjang dan terlihat mengusap air mata di pipi. Hana tidak sedang merasa sedih karena Bagas dan Bunga mengingatkannya pada penderitaan yang harus dihadapinya dulu, melainkan dia merasa lega akhirnya dua mahkluk keji itu berlutut meminta ampun. Hana menunduk, dia merasa ada sesuatu yang hilang dari dadanya. Dendam yang bercokol di sana sedikit lenyap, tapi dia masih tidak akan puas sebelum Bagas dan Bunga diseret dan dijebloskan ke penjara.


“Hunny!”


Kelana mendekat, dia berlutut tetap di depan Hana lalu meraih tangan wanitanya itu. Kelana hapus air mata yang menetes di pipi Hana sambil berkata bahwa semua sudah selesai. Bagas dan Bunga pasti akan menerima ganjaran dari perbuatan jahat mereka di masa lalu.


Hana mengangguk, dia tepuk punggung tangan Kelana lembut lantas mengucapkan terima kasih. Hana sadar bahwa semua ini tidak akan pernah bisa terwujud jika bukan karena bantuan sang suami.


Hana tertawa, dia membuang muka dan tertawa geli dengan istilah aneh yang diucapkan Kelana. Hana pun memukul pundak pria itu lalu berdecak sebal.


“Tapi kamu bukan partner yang baik untuk bumil, kamu bahkan tidak menuruti apa keinginan dia.” Hana menurunkan pandangan ke bagian perut lalu membuang muka kembali. “Kalau sampai anak kits ileran aku tidak mau disalahkan.”


Kelana terbahak, tetap saja Hana merajuk soal es krim, hingga dia mengingat es krim belanjaannya yang dititipkan ke satpam. Kelana berjalan cepat keluar, dia kaget saat melihat satpam masih berada di depan unitnya.


“Es krim pak,” ujar satpam dengan sorot mata menyindir. “Bapak mau dagang membeli sebanyak ini? atau ada pesta?”


“Tidak Pak, ini untuk …. “


Kelana belum sempat menyelesaikan kalimatnya saat Hana yang ternyata menyusulnya berteriak, “Apa untukku?” Hana membelalak, dia tak menyangka Kelana akan membelikannya es krim sebanyak itu.


“Kenapa tidak sekalian kamu buatkan aku pabriknya?”


_


_


_


_


🥰