
“Kenapa tanganmu dingin sekali?”
Hana meremas tangan Kelana, dia heran kenapa suaminya bisa segrogi ini hanya untuk menemaninya ke dokter. Padahal tadi suaminya ini yang menggelandangnya keluar dari rumah setelah dia berkata ingin segera tahu kondisi kandungannya agar tenang hohohehe, tak sabar juga dia terlalu lama tak dikunjungi Kelana.
Namun, tak Hana duga Kelana sedang ketakutan. Saat menuju poli kandungan tadi, Kelana melihat wanita yang tengah hamil besar menjerit-jerit turun dari mobil dipapah masuk menuju IGD, mungkin sudah waktunya wanita itu melahirkan.
Kelana ngeri, apa memang melahirkan sesakit itu? Kata orang seperti semua tulang dipatahkan secara bersamaan.
“Sayang, apa kamu sakit?”
Hana usap pipi Kelana, tak peduli dengan para bumil dan suami mereka yang ikut menemani. Jika Kelana sampai pingsan akan repot urusannya nanti.
“Tidak, hanya syok saja."
“Apa yang membuatmu syok? ibu hamil yang mau melahirkan tadi?” tebak Hana, dia tahu karena tadi suaminya menatap terus ke arah sana.
Kelana mengangguk dan malah membuat Hana geli. Ia ingin tertawa sambil mendekap tubuh suaminya itu, tapi Hana sadar mereka sedang berada di tempat umum.
“Semua wanita pasti mengalaminya sayang, jangan takut! Aku saja tidak takut, jika kamu seperti ini aku takut kamu pingsan saat aku melahirkan anak kita nanti,” goda Hana, dia tak bisa menyembunyikan tawanya.
“Hunny jangan tertawa! Itu tidak lucu.” Pria tiga puluh empat tahun itu cemberut dan memandang dengan tatapan marah.
***
Setelah menunggu antrian yang lumayan panjang, sampai menghabiskan sebotol air mineral dan dua lembar roti, akhirnya mereka masuk ke ruang pemeriksaan. Hana tersenyum ke dokter karena ini kali kedua dia datang. Meski agak canggung karena dia sudah diperintahkan datang dua minggu lagi setelah pemeriksaaan pertama.
“Maaf ya Dok, sudah kebelet,” ucap Hana. “Kebelet pengen lihat calon baby maksud saya.” Ia tertawa jenaka mencoba mencairkan suasana tegang di dalam ruangan itu. Dan berhasil, baik sang dokter dan Kelana tertawa.
“Saya tahu tanpa diberitahu kok, kebanyakan pasangan yang baru menikah dan kebetulan cepat diberi momongan, datang periksa tidak sesuai jadwal pasti ingin menanyakan hal ini.”
Kelana dan Hana membelalak karena dokter itu ternyata pandai ngelawak juga. Dia tidak mengatakan apa yang ada dipikiran, tapi malah menyematkan ibu jari di antara jari tengah dan telunjuk.
“Dokter!” pekik Hana malu.
Mereka tertawa sebelum dokter mempersilahkan Hana berbaring di ranjang pemeriksaan.
“Ini calon anak Anda! Sudah terlihat embrionya.” Dokter menunjuk ke layar monitor agar Kelana bisa melihatnya dengan jelas. “Perkembangannya baik. Sudah tidak perlu takut lakukan saja apa yang ingin Anda berdua lakukan.”
Pipi Hana berubah semerah tomat, dia malu karena dokter tahu bahwa dia sudah tak sabar melakukan hohohehe dengan suaminya, sedangkan Kelana dengan berani melempar senyuman mesum ke arahnya meski ada dokter di sana. Pria itu menaikturunkan alis mata memberi kode ke istrinya bahwa dia tidak akan melepaskannya begitu saja.
“Tapi, jangan terlalu kasar ya mainnya, meski janin dilindungi ketuban dan aman, tapi tetap saja tidak boleh brutal.”
Kelana mengangguk, tapi jujur saja satu babak biasanya kurang untuk dia dan Hana. Namun, demi calon anak yang sangat digadang-gadang sang mama dan juga istrinya, Kelana pasti akan menuruti perintah dokter.
“Lalu Dok, gaya apa yang paling aman untuk ibu hamil. Kecoak nungging aman nggak Dok?”
Dokter melongo, begitu juga dengan Kelana. Putra Dinar itu sudah menduga ini pasti hasil dari Hana membaca buku sakti yang diberikan oleh sang mama.
“Ah … dugaanku pasti benar, buku itu pasti buatan Nenek Gayung sendiri. Keluargaku memang aneh,” gumam Kelana dengan senyuman aneh menghiasi parasnya.
_
_
_
Scroll ke bawah 👇