Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 227 : Dia Memiliki Aku


“Tentu saja, kamu pikir aku dan Hana tidak saling terbuka?” Sergah Kelana. Ia bersikap santai meski tak bisa dipungkiri hatinya terasa gerah. “Melumaat bibir? Sialan!” gumamnya dalam hati.


“Jika kami berpura-pura menikah saat ini tidak mungkin dia sedang mengandung anakku.” Kelana tertawa mencibir. Ia menegakkan badan dan berbicara lagi-


“Jangan berharap kamu bisa lari dari perbuatanmu yang pernah mencelakai Hana, orang-orangku sudah menangkap preman yang kamu bayar untuk berpura-pura menjadi perampok dan memukuli Hana.” Kelana menggertakkan gigi saat mengucapkan dua kata terakhir dari kalimatnya. Ia masih tak habis pikir ada orang yang dengan tega melenyapkan darah dagingnya sendiri secara brutal.


Ekspresi muka Bagas berubah, pria itu mulai gentar dan ketakutan. Ya, begitulah jika melakukan perbuatan tanpa berpikir panjang. Bagas saat itu dibutakan oleh nafsu setan. Sehingga tak menyadari bahwa perbuatannya itu merupakan dosa besar.


“Dulu mungkin Hana tidak memiliki siap-siapa. Bahkan kamu menceraikannya tanpa memberi dia sepeserpun uang, tapi sekarang dia memiliki aku di sisinya. A-ku akan membabat habis orang-orang yang berbuat jahat padanya sampai ke akar.” Kelana tersenyum miring. Pria itu sengaja setengah berbisik menyampaikan kalimatnya agar Bagas sadar bahwa dia bukanlah lawan yang sepadan.


“Kamu tahu ke mana aku mengirim istrimu tadi? Dia aku minta menemui seseorang, apa kamu bisa menebak siapa?”


Mata Bagas membeliak lebar, jakunnya bahkan terlihat bergerak karena tenggorokannya seperti tercekat. Ia hanya bisa diam memandangi wajah Kelana yang datar, tapi saat pria itu menarik salah satu sudut bibir, Bagas merasa ngeri.


“Dia aku minta bertemu dengan orangku yang sedang bersama preman bayaran kalian itu.” Kelana tersenyum menghina. Ia kembali menyandarkan punggung dan menyilangkan kaki dengan sombongnya. “Kamu tahu?  begitulah wanita, otak mereka jauh lebih canggih dari komputer, tak hanya akan mengingat saat jatah yang diberikan kurang, mereka juga bisa mengingat wajah orang-orang yang menyakiti mereka.”


“Sejak tadi aku tidak mengerti dengan apa yang kamu bicarakan, kalau kamu menginginkan aku berhenti dari perusahaanmu, aku dengan senang hati akan melakukannya.” Bagas tetap saja angkuh dan seolah tak ingin dikalahkan.


Kelana tertawa, dia tak peduli yang tengah dia lakukan dan Bagas sekarang sedang menjadi tontonan staff yang berada di luar. Dewi pun sampai takut mengantarkan kopi yang diminta Kelana ke dalam. Ia berhenti di meja Afy dan meletakkan cangkir yang dibawa ke meja.


“Mereka sedang apa sih?”


“Entah, yang pasti aku merasa sesuatu yang buruk pasti sedang terjadi.” jawab Afy menanggapi pertanyaan Dewi.


_


_


_


Kelana bangkit dan melangkah mendekati Bagas. Ia mengancingkan jas sambil menatap tajam mata pria itu. Bahu Kelana mengedik, dia memulas smirk untuk yang kesekian kali sebelum menyenggol pundak Bagas dan keluar dari ruangan pria itu. Kelana bahkan santai menanyakan kopinya ke Dewi, dia berdiri di depan staff Bagas itu sambil menyesap kopi yang dia minta.


“Ah … ini enak sekali, Oh … ya apa kalian mau manager HRD baru? bagaimana kalau aku carikan yang ganteng mirip dengan Jungkook BTS?”


Dewi melongo karena tidak paham dengan ocehan Kelana. Namun, karena nama idolanya disebut, gadis itu pun mengangguk cepat dan tertawa, dia menganggap pemilik perusahaannya itu sedang bercanda.


“Kembalilah bekerja, untuk sementara jangan ganggu manager kalian, dia sedang sibuk membuat surat pengunduruan diri,” ujar Kelana setelah itu melenggang pergi tanpa beban.


_


_


_


 


Scroll ke bawah 👇