
Saat terdengar adzan subuh berkumandang, Rey segera membuka matanya. Ia tidak sadar, kapan pindah dari kamar sebelah hingga kini ia dapati tubuhnya tengah berbaring di samping Nathan.
Ia melihat anak itu dengan asiknya ngenyot susu dari botol susunyanya. Dipegangnya botol susu ukuran 360 ml yang masih penuh itu dengan tangan kirinya.
Tangan yang satunya lagi memegang jempol kaki kiri yang ia angkat hingga atas perutnya. Sesekali ia memutar tubuhnya ke kiri dan ke kanan. Lucu sekali. Tingkahnya begitu menggemaskan.
"Adek udah mimik susu, siapa yang bikin?" tanya Rey sambil mencubit pipi gempinya. Anak itu tersenyum pada Mamanya namun tidak merubah posisi enaknya.
"Sudah rapi, pagi banget Mas?" Rey kaget begitu melihat suaminya yang keluar dari ruang ganti sudah mengenakan pakaian kerjanya.
"Iya, ada meeting pimpinan sebelum apel pagi,"
"Ya Allah, Mas. Udah tau ada acara sepagi itu kok kamu bela-belain pulang,"
"Hem... Kok masih di bahas aja, kan udah ketauan kepentingannya apa?" Sahut Wibie sambil mengedipkan mata kirinya.
"He.....aku siapin sarapan dulu. Semalem kamu tertidur pulas sekali jadi ga makan malem," Rey mencibirkan bibirnya mengetahui alasan kepulangan suaminya itu. Kemudia ia beranjak dari tempat tidurnya untuk menyiapkan sarapan.
"Aku udah makan semalem. Jadi masih kenyang,"
"Hah, jam berapa? Kok aku ga denger,"
"Jam 3, perutnya brisik banget. Aku makan sop iga, ditemenin jagoan," jawab Wibie sembari mengarahkan pandangannya ke arah Nathan yang sedang main dan mimik susu.
"Loh...loh....kok aku ga dibangunkan Mas. Apa Nathan yang membuatmu terbangun?"
"Kamu aja aku pindahin ke sini ga sadar, gimana mau ngebangunin. Pas mindahin Mamanya, anaknya malah udah melek duluan. Kasian dia main dan ngoceh-ngoceh sendirian,"
"Ya, Allah. Maafin papa yang telah menculik mama sayang," Rey mencubit kembali pipi anak itu dengan gemesnya.
"Aku taro di ruang tamu waktu ditinggal makan juga diem aja. Rebahan di sofa sambil minum susu,"
"Kok pinter banget, ini susunya masih banyak,"
"Itu botol kedua," sahut Wibie sembari tersenyum. Tadi pagi ia buatkan satu botol susu ukuran 220 ml cepat sekali habisnya, ia lempar botol minumnya ke sembarang tempat dan minta nambah.
Anak ini sejak kecil memang sudah kuat susu, Rey sampai kuwalahan menyusui dia. Untuk memenuhi kebutuhan ASI Nathan ia rela makan hingga 4-5 kali dalam sehari, belum lagi cemilannya.
"Ya udah, aku siapin kopi buat di jalan aja, ya?"
"Boleh, sama roti pake selai kacang. Kalau mau dibakar juga ga apa. Dua tangkup ya," Request Wibie. Kini
"Iya,"
"Sholat dulu,"
"Iya, di bawah aja,"
Rey keluar meninggalkan suami dan anaknya. Ketika menuruni anak tangga ia berpapasan dengan Devara yang masih terlihat ngantuk dan rambutnya masih acak-acakan.
"Adek udah bangun, Ma?"
"Udah, lagi mimik susu sama Papa,"
"Papa pulang, kok ga ke kamar kakak sih?"
"Papa pulang udah jam 11, kakak udah nyenyak banget,"
Devara memonyongkan bibirnya tanda protes, Rey memang lupa mengingatkan suaminya untuk menjenguk anak gadisnya itu meskipun sudah terlelap. Biasanya, meski pulang selarut apapun, Wibie tetap menyempatkan diri menemani anaknya barang sebentar dan Devara bisa merasakan hal itu meski ia dalam kondisi terlelap
*****
Kopi dan roti bapak pesanan pak suami sudah disiapkan, Bu Fat yang sudah bangun dan baru menyelesaikan sholat subuh segera bergabung ke dapur.
"Tadi Mas Wibie sudah makan duluan. Manasin SOP sendiri. Untung masih ada nasi di majic com,"
"Iya, Bu. Dia kelaparan katanya. Semalem di suruh makan nanti dulu, akhirnya ketiduran,"
"Nathan juga ikut nemenin Papanya. Dua botol susu dibuatin di buatin Mas Wibie. Ibu bantuin malah ga diizinin, ya udah ibu tingal ngaji,"
"Iya, Bu. Mungkin mereka butuh waktu me time berduaan aja. Urusan laki-laki. He..he......,"
"Sepertinya begitu, " sahut Bu Fat sembari mengangkat kedua bahunya.
"Bayem aja. Di bening tanpa bawang goreng,"
"Oke, ibu siapin dulu,"
Tak lama, ketiga orang yang begitu disayangi Rey turun, mereka bergandengan tangan menuruni anak tangga. Bak seorang pangeran, Nathan di kawal Kakak dan Papa nya senyum-senyum simpul.
"Ini kopi dan rotinya. Mau berangkat sekarang?" Rey menyodorkan Tumbler dan kotak makanan ke arah suaminya.
"Iya, biar ga buru-buru,"
"Kamu ke kampus jam berapa?"
"Pagi, ujiannya jam 8. Kan mata kuliah yang ngulang jadi bareng sama anak reguler,"
"Oh, cuma satu?"
"Iya, sore ada dua mata ujian. Mulai jam empat,"
"Sukses ya, sayang. Jangan lupa makan. Jangan mentang-mentang ga nyusui kamu diet dan males makan lagi,"
"Iya, tetep 3 kali sehari plus vitamin. Biar kuat,"
"Bagus, pantes semalem sampe dua kali masih mau kalo diajak nambah,"
"Apaan sih, dih ga jelas. Dianya yang mau malah alibinya ke aku," Rey mengarahkan cubitannya lagi ke pinggang suaminya.
"Mama napa cubit-cubit Papa. Sakit tau," protes Nathan yang mendengar teriakan Papanya.
"Tuh, anaknya belain," seru Rey cemburu.
Wibie tertawa melihat putranya yang memasang muka galak tanda protes sama Mamanya. Ia mengangkat anak itu dan mencium kedua pipinya bergantian.
"Papa berangkat dulu, ya. Main sama kakak. Jangan lupa jagain Mama ya?" Pamit Wibie pada Nathan.
Mereka berdua tos tanda setuju. Devara juga ikutan tos tanda sepakat akan main bersama seperti hari-hari biasanya.
Wibie mengambil botol minum dan kotak kue dari tangan istrinya, setelah mencuim kening Rey ia pamit. Melangkah ke halaman depan, menghampiri mobil yang sudah di keluarkan dari garasi sejak tadi. Siap tancap gas.
Rey dan kedua anaknya mengikuti dari arah belakang, mereka akan mengantar sang Papa dengan say hello dan lambaian tangan.
"Aku udah cek email yang dikirim ke Pak Gun, udah terkirim kok. Notebook juga udah aku cash sampe 100%. Udah aku masukin lagi ke tas,"
"Terimakasih, sampe lupa kalo semalam nunggu tugas terkirim," sahut Rey malu.
"Nanti malem aku pulang, malam Jumat waktunya Sunah Rasul,"
"Yang semalem apaan,"
"Wajib. He..he....,"
Wibie segera menarik gas mobilnya sebelum cubitan Rey kembali mendarat. Tidak lupa ia melambaikan tangan pada kedua anaknya yang berdiri di depan pintu.
"Papa berangkat, Ya! Assalamualaikum,"
Land Cruiser putih itu meninggalkan halaman, sebelum Rey menutup kembali pintu gerbang, Wibie masih sempat menggoda istrinya lagi.
"Inget makan yang banyak, biar kuat. Jangan lupa tidur siang biar kuat begadang,"
Rey hanya bisa mencibir karena Wibie segera menutup kaca dan menebus jalanan yang masih legang.
Happy reading all, tetep saja Author tidak bosan-bosan minta dukungan. Mohon untuk tinggalkan
✓ LIKE
✓ KOMENTAR
✓ VOTE -nya ya🙏🙏🙏
Apresiasi dari kalian semua membuat saya semakin bersemangat untuk update. terimakasih 😊😊😊