Bukan Yang Pertama

Bukan Yang Pertama
Apa Dia Menepati Janji?


Wibie terjaga ketika suara alarm dari ponselnya bunyinya begitu panjang, memekakkan telinga. Ia bangkit dari sofa dan meraih hp yang ada di nakas kamar hotel itu.


Kantuk masih menguasai dirinya namun ia harus segera bangun dan kembali ke Lahat untuk bekerja. Ia segera mematikan alarm itu kemudian bersiap-siap. Membersihkan diri agar tidak perlu pulang ke mess terlebih dahulu.


Ia berencana akan langsung ke tempat kerja. Jadi harus mandi dan bertukar pakaian dari sini. Wibie mengambil kunci mobilnya dan meninggalkan kamar untuk mengambil pakaian kerjanya yang sudah ia siapkan dibagasi mobilnya.


Saat ia kembali lagi ke kamar, ia melihat Rey masih tertidur dengan pulasnya. Sepertinya ia kedinginan, selimut menutup rapat tubuhnya. Wibie segera menuju kamar mandi dan membersihkan tubuhnya sebelum ia menunaikan sholat subuh.


Tak lama terdengar suara kran dan senandung kecil dari kamar mandi. Sudah menjadi kebiasaannya, pria itu selalu bernyanyi lirih apapun aktifitasnya di kamar mandi.


Hingga ia selesai mandi dan mengenakan seragam safety, Rey belum terjaga juga. Wibie geleng-geleng kepala mendapati kelakuan gadis yang dilarikannya itu.


"Sepertinya aku akan cukup kesusahan membangunkannya lagi. Heh...," Gerutu Wibie dalam hati.


Ia hampiri tempat tidur yang nyaris di kuasai oleh Rey. Ia tidur terlentang dengan kedua kaki terbuka lebar. Selimut menutup tubuhnya hingga ke leher. Hanya tampak mukanya yang begitu terlelap dalam mimpinya.


"Rey," panggil Wibie yang sudah duduk di sisi kasur.


"Rey," panggilnya lagi.


Kali ini diikuti dengan sentuhan lembut di bahu gadis itu. Tetap tak ada reaksi. Wibie diam sejenak. Ia amati wajah gadis belia yang ada di sampingnya itu.


Saat ia melihat Rey untuk pertama kalinya, di tengah hujan yang lebat di sebuah halte sore itu, gadis ini memang cukup menarik perhatian Wibie.


Tubuhnya yang tinggi dan sedikit berisi terlihat lebih dewasa dari anak seusianya. Rambut panjangnya yang hitam dan ikal pada bagian ujungnya semakin membuat wajahnya yang putih terlihat begitu cantik.


"Wajar saja jika Aldy begitu ingin memperdaya gadis ini. Tubuh sintalnya begitu menggoda pria" ujar Wibie dalam hati.


"Rey..," panggilnya lagi. Kali ini dengan nada suara yang sedikit kencang. Bahu gadis itu juga diguncang-guncangnya lebih keras


Rey hanya menggeliat sesaat. Ia justru memiringkan tubuhnya ke arah Wibie dan menarik selimutnya. Ah....semakin kesal saja Wibie dibuatnya. Ia harus segera pergi sementara Rey susah sekali dibangunkan. Jika ia tinggal, khawatir anak ini bangun akan kebingungan.


"Rey," teriak Wibie sambil menarik selimutnya.


Rey kaget gak kepalang. Ia bangkit seketika dan duduk di sisi tempat tidur.


Sekilas Ia memandang Wibie yang ada di sampingnya, kemudian mengusap kedua matanya bersamaan.


"Bapak bikin saya kaget," ujarnya ringan tanpa ada perasaan bersalah.


"Aku sejak tadi membangunkanmu. Tampaknya kamu memang susah sekali untuk dibangunkan jika sudah molor. Aku mau pulang nih,"


Rey menyapu semua dinding kamar itu. Ia tidak menemukan apa yang dicari.


"Jam berapa sekarang?" Tanyanya pada wibie.


Wibie tidak menjawab pertanyaan itu. Ia hanya mengamati kelucuan gadis yang ada disampingnya ini.


"Belilah baju untuk ganti dua hari ini. Itu aku tinggalkan sedikit uang. Belanja di depan saja. Jangan jauh-jauh," Dengan nada lembut, Wibie memberikan instruksi pada Rey.


Rey melirik ke arah meja, dimana Wibie mengarahkan wajahnya menunjukkan keberadaan uang yang dimaksudnya.


"Sudahlah. Pakai saja uang itu. Lagian kamu juga butuh daleman kan?,"


Rey jadi pucat seketika. Ia memang melepaskan bra yang dikenakannya kemarin karena kotor dan tidak nyaman dikenakan kembali setelah mandi. Begitu juga dengan CD-nya.


"Dasar cowok mesum. Padahal kaos kemeja yang dikenakan Rey cukup tebal. Kenapa ia bisa tau jika aku tidak mengenakan bra. Ah, mungkin ia hanya menebak-nebak saja," pikir Rey berusa menenangkan hati dan menyembunyikan kekagetannya.


"Sarapan dan makanmu akan di antar ke kamar. Kau tinggal pesan saja mau makan apa. Jangan berkeliaran di sekitar hotel. Kau bisa dianggap cewek murahan dan dibooking om-om nanti," lanjut pria itu seolah-olah ia memberikan pesan pada anaknya sebelum ia meninggalkan rumah.


"Setelah beli baju. Diamlah di kamar. Kau harus ikuti apa kataku. Saat ini kau itu simpananku," ujar Wibie lagi sembari tersenyum menyeringai.


"Iya pak. Saya tau,"


"Tau yang mana. Tau kalau kamu ini simpananku," godanya lagi.


Mimik muka Rey berubah sesaat. Senyum yang tertangkap begitu terpaksa dan malu-malu.


"Tau apa yang sudah bapak pesankan tadi. Jangan berkeliaran di sekitar hotel. Segera kembali ke kamar begitu selesai belanja pakaian," Rey mengulangi pesan Wibie dengan nada mendikte.


Wibie tersenyum tipis. Ia melihat Rey sudah tidak begitu canggung padanya. Tingkahnya justru semakin lucu dan begitu menggemaskan.


"Jaga dirimu baik-baik ya. Aku pergi dulu,"


Wibie menepuk-nepuk pundak kanan Rey dengan pelan kemudian ia bangkit dari duduknya.


Rey meraih tangan Wibie yang hendak melangkah pergi. Pria itu mengurungkan langkahnya dan berdiri di depan Rey yang masih duduk di sisi kasur.


Rey mencium telapak tangan Wibie berulang kali dan tak henti-hentinya mengucapkan terimakasih


"Terimakasih pak. Bapak sudah membantu saya kabur dari rumah. Bapak juga sudah capek dan mengeluarkan banyak uang untuk saya," ucap Rey dengan tetap menghujani tangan Wibie dengan ciuman.


"Sudahlah. Kamu harus yakin. Aku akan kembali dan akan mengantarkanmu ke Jakarta dengan aman. Jangan takut," sahut Wibie sembari menepuk pundak Rey dengan tangan kirinya.


"Jaga dirimu ya. Telpon aku jika ada sesuatu,"


Rey menundukkan kepalanya dan tersenyum. Sesaat kemudian, ia bangkit dari tempat duduknya dan menjatuhkan kepalanya di dada Wibie. Seketika itu ia terisak-isak.


Wibie kaget atas reaksi Rey. Ia berusaha menenangkan gadis itu dengan mengelus bahunya dengan lembut.


"Jika kau berubah pikiran, kita balik lagi ke lahat. Kenapa kau terisak seperti ini. Apa yang salah denganku?" Tanyanya panik


"Aku mau ke Jakarta pak. Pak Wibie harus balik lagi ke sini ya. Janji?"


Wibie seketika tertawa dengan lepasnya. Oh ternyata Rey takut jika ia tidak menepati janjinya. Ada-ada saja anak ini.


"Kalau kau tidak percaya denganku, kenapa kau minta bantuanku. Sudah ah, Jagan membuat situasi menjadi larut. Kau sendiri yang akan rugi," Wibie menimpali dengan sesuka hati dan melepaskan Rey yang bersandar padanya


Rey diam. Ia bingung apa yang maksud ucapan Wibie. Namun dia tidak diberi kesempatan untuk bertanya. Wibie segera meraih kunci mobilnya dan meninggalkan kamar itu. Rey berdiri terpaku melepaskan kepergian Wibie. Pria yang sudah membawa pergi dari penderitaan hidup