
“Ambek gangannyo! Idak nak malu-malu. Anggep bae ini rumah dewek,” kata Kak Ros dengan logat Belitungnya yang khas. Ia sambil menyodorkan semangkuk gangan ikan dengan kuah kuning menggoda pada peserta KKN yang baru saja sampai di lokasi tambak.
Tampak mereka bingung dengan bahasa Kak Ros yang masih begitu kental kedaerahannya. Meskipun mereka tahu maksud dari ucapannya, namun mereka tidak bisa menjawab dengan bahasa yang sama.
"Iyo, Kak. Maaf la ngerepotin. Caknyo sedep nian, ini," Rey menyahuti dengan lancarnya.
"Wah, kamu kok bisa bahasa Melayu, Rey?" tanya Dion kagum. Dia tidak menduga jika temannya ini mahir bahasa daerah sini.
"Aku asli Lahat, Kak. La hampir tigo taun ini begawe sambil kuliah di Jakarta," Rey buru-buru menjelaskan pada Kak Ros yang memasang ekpresi bingungnya.
"Oh, pantes. Logat wong kito nian kau tu,"
"Iyo," sahut Rey sembari tersenyum.
Mereka sebenarnya masih kenyang karena perut mereka baru saja terisi pisang goreng, rebusan singkong dan pindang ikan buatan Rey saat sarapan tadi. Namun untuk menghormati Kak Ros yang sudah menyiapkan masakan untuk mereka, lantas mereka kompak mengambil potongan ikan itu dan menuangkannya ke dam piring masing-masing.
"Ayo, cicipi. Idak nak malu-malu. Rasoin masak'an wong sini," ajak Kak Ros lagi.
“Jangan palaknyo bae, ini dagingnyo jugo masih banyak,” katanya sambil mengaduk isi panci dan memperlihatkan potong daging ikan yang besar-besar itu. Ia meletakkan potongan ikan ke piring Alex yang masih kosong.
Mata Alex mengerjap, sepotong ikan yang cukup besar berenang-renang di dalam piringnya. Perutnya yang masih kenyang mendadak minta diisi lagi. Aroma masakan itu berhasil membuatnya menelan ludah berkali-kali.
"La ditungguin dari tadi, kamu baru dateng matahari la naik. Kakak la masak dari subuh buat sarapan kamu, nih," ujarnya lagi.
"Maaf, Kak. Kami tadi mancing ikan dulu di kali abis shubuh. Bikin ga mau berhenti karena ikannya pada nyamperin. Dalam sekejap kami sudah bisa bawa pulang ikan yang banyak," sahut Alex
"Iyo, kalo pagi ikan memang banyak. Sore jugo mak itu. Tapi dak apolah, kalian habisi dulu masakan kakak baru kito jalan nginak-nginak tambak,"
Dengan menggunakan garpu, Alex memisahkan ikan dengan durinya. "Hemmm, ikan yang lembut tapi ngak amis," gumannya lirih pada Pandu yang ada di sebelahnya. Kemudian ia mencicip kuahnya.
"Segar," gumamnya lagi.
Akhirnya Alex mengambil satu centong nasi dan mencampurnya di dalam piring ikan, potongan ikan serta kuah dan memasukkannya ke mulut bersamaan. "Hmmm, hmm, hmmm, yummy," gumannya berkali-kali.
Melihat Alex yang seperti nikmat sekali dengan hidangannya membuat yang lain juga terpancing nafsu makannya. Mereka tanpa ragu ikut mengambil nasi putih yang dihidangkan dalam bakul kecil. Nasi yang masih ngebul dengan aroma beras yang wangi.
Perpaduan rasa ikan yang sedikit berlemak, aroma kunyit yang kental, cabai rawit merah nan pedas, asam, serta potongan nanas muda menciptakan sensasi rasa segar, asam, gurih, dan pedas menggigit.
"Ini seperti yang kita makan sama Pak Camat kemaren siang," Ujar Risya yang tampak begitu semangat menyeruput kuah ikan yang masih hangat itu.
Usai berlagak mengingat tiap rasa yang tercecap di lidah ala presenter kuliner yang sering tayang di TV itu, mereka pun lantas menikmati gangan ikan yang disajikan dengan nasi putih hangat itu dengan lahap. Hingga akhirnya hanya tulang-tulang ikan yang tersisa di pinggan. Kuah, daging, hingga mata ikan dan otaknya tandas saya sikat.
"Lemak, kan!" tanya Kak Ros puas ketika melihat masakan bersih tak bersisa.
"Iyo, Kak. Seger nian. Kemaren kami jugo dapet ikan cak ini di kantor Pak Camat tapi mereka bilang itu lempah. Samo dak lempah dengan Gagan, tu? tanya Rey penasaran. Meski ia orang Sumatera namun ia hanya kenal olahan ikan berkuah bening seperti ini cukup di SOP atau pindang.
Gangan samo lempah kuning itu hampir mirip. Samo-samo makanan khas sehari - hari masyarakat Belitung. Merupakan salah satu masakan andalan yang wajib disajikan disetiap rumah makan yang ada di pulau Belitung.
Kalo gagan bahan dasar iwak (palak iwak ketarap), daging atau ayam dengan bumbu rempah. Kuahnyo lebih kental dari lempah. Mempunyai cita rasa asam yang menyegarkan, pedas dan gurih sangat cocok dengan cita rasa ikan segar yang sedikit manis. Gangan biasanyo dicampur nanas jugo buat pelengkap. Jadi efek manis yang lebih menggigit. Yang tadi itu potongan nanas mudo, lemak kan?"
"Iyo, asem-asem manis. Tapi lebih seger sih," sahut Risya.
"Nah, kalo lempah kuning bahan dasarnyo ikan jugo, tapi sering diganti samo ayam (ceker dan sayap), dan daging iga, atau sayuran. Lempah kuning, biasanya dimasak sedikit lebih pedas dibandingkan dengan masakan lain. Kuahnyo lebih encer dari gangan, lempah kuning memiliki sensasi yang tidak kalah enaknya dengan gangan. Kalo gangan cuma pake potongan nanas sebagai bahan pelengkap atau sering disebut rampai oleh masyarakat bangka, lempah kuning biso jugo ditambah ketimun, pucuk daun kedondong untuk yang berbahan ayam atau daging sapi atau iga,"
"Iyo, timun itu untuk menetralkan rasa pedas pada kuah lempah kuning, kali pucuk kedondong memberikan citarasa segar (asam) pada masakan lempah kuning daging & ayam. Yang paling penting, pucuk kedondong itu diyakini masyarakat Bangka juga dapat membuat daging lebih mudah lunak,"
"Waw, ilmu baru ini. Selamo ini kalo masak ayam biar cepet lunak pake potongan nanas,"
"Biso di cubo. Tapi kalo di kota susah cari pucuk kedondong. Lebih praktis nanas,"
"Iyo, kak. Intinyo mano yang ado. Banyak alternatif rempah yang bisa kita manfaatkan untuk menambah cita rasa masakan agar lebih khas,"
"Betul itu,"
"Terimakasih banget, ya Kak. Kita sudah dijamu dengan hidangan spesial ini. Jadi punya energi yang super ini buat keliling tambak," Alek yang sejak tadi hanya bisa menyimak pembicaraan Rey dan Kak Ros ikut menimpali.
"Samo-samo. Itu Kak Edi yang nganter kalian keliling. Dia pengawas tambak di sini," Kak Ros menujuk pada seorang pria paro baya yang berjalan ke arah mereka.
"Bel, udah di rekam kan?" tanya Alex pada Abel yang ditugaskan sebagai sie dokumentasi selama program ini.
"Siap, bos. Kita ambil beberapa foto dulu ya buat laporan," sahut Abel yang tengah memegang kameranya.
"Berapa luas tebak ini, Kak. Sepertinya luas sekali?" tanya Rara saat tengah mengambil beberapa foto.
"Sekitar 3 hektar,"
"Oh, my God," Rara menepuk jidatnya begitu keras.
"Kenapa?" tanya Rey.
Rara tidak menjawab. Namun bisa dipastikan jika ia pasrah sebelum berjuang ketika mendengar luas tambak yang akan mereka tinjau hanya dengan berjalan kaki.
"Aku butuh pundkmu jika aku tak mampu menopang tubuhku lagi," Rara bergelayut di bahu Pandu yang berdiri di depannya.
"Hemmm......," Sahut Pandu dengan muka kaget bercampur malu. Apalagi teman-teman juga melihat kelakuan Rara yang mendadak menjadi manja seperti itu.
"Ga boleh?" kali ini Rara mendongak ke arah wajah Pandu hingga wajah mereka begitu dekat.
"Waduh, baru tau kalo ikan bisa bikin cewek mendadak agresif begini," gumam Dion sembari cengar cengir.
Pandu tidak menjawab pertanyaan Rara, ia hanya tersenyum simpul dan menepuk-nepuk bahu gadis itu dengan pelan.
****
Happy reading all! Author tidak bosan-bosan minta dukungannya. Mohon untuk tinggalkan
✓ LIKE
✓ KOMENTAR
✓ VOTE -nya ya🙏🙏🙏
Apresiasi dari kalian semua membuat saya semakin bersemangat untuk update. terimakasih 😊😊😊