
"Bisa bicara sebentar?" tanya Dhiza pada Rey yang terlihat terburu-buru setelah mengantarkan Devara hingga ke kelasnya.
"Maaf, aku lagi ada janji dengan seseorang,"
"Sebentar saja. Sekitar 10 menit,"
"Maaf banget mbak, bukan saya ga mau, tapi saya memang sudah ada janji dengan seseorang," belum selesai bicara hp yang ada di saku Rey berbunyi. Panggil telpon dari Pras.
"Sudah ditunggu di kantor Mas Fauzan. Buruan ya, karena dia juga ada janji dengan klien yang lain," seru Pras tanpa basa-basi ketika panggilan itu diangkat oleh Rey.
"Iya, aku lagi di sekolah Devara. Sekitar 15 menit lagi sampe TKP,"
Tak berapa lama sambungan telpon itu mati. Rey kembali memandang Dhiza yang masih menunggu kesediaan waktunya.
"Maaf, mbak. Itu telpon dari orang yang sudah membuat janji denganku,"
"Maaf, tidak bermaksud untuk menghindari, apa ada sesuatu yang penting?" tanya Rey dengan serius.
"Iya, cuma jika kau sibuk tidak apa. Never mine," Dhiza mengangkat kedua bahunya sembari tersenyum hambar.
"Bagaimana jika di rumah saja," Rey menawarkan kesempatan.
"Tidak. Aku tidak ingin mengundang kecurigaan dari keluarga Wibie. Bukannya Bu Fat sudah kembali lagi ke rumah?"
"Iya, karena Devara lagi pengen sama aku jadi Bu Fat juga ikut pulang,"
"Kalau begitu sore saja. Di kampusku. Bagaimana?"
"Kampusnya dimana?"
"FBS,"
"Wow, kamu kuliah di sana? Ok, jam berapa?"
"Sebelum jam 4 ya,"
"Ok. Nanti aku kabari," ujar Dhiza lagi.
Rey segera beranjak dan meninggalkan Dhiza yang masih memandangi kepergiannya hingga Rey benar-benar hilang di balik koridor sekolah.
"Beruntung sekali gadis itu bisa kuliah di universitas yang mahal. Siapa sebenarnya gadis itu hingga Wibie begitu cepat menjatuhkan hatinya padanya," Dhiza menghela nafas dengan berat. Dia masih belum bisa menerima kenyataan bahwa Wibie telah bersama yang lain.
*****
Peluang untuk menjadi rekanan pengadaan seragam safety di wilayah pemrov yang ditawarkan oleh salah satu pelanggannya juga kepercayaan yang sudah diberikan oleh Wibie dan keluarganya menumbuhkan atmosfer yang begitu luar biasa bagi Rey.
Ia menangkap dua peluang itu dan akan membuktikan pada Wibie dan keluarganya bahwa meskipun diusianya yang masih terbilang remaja, ia mampu menjalankan usaha ini.
Otaknya yang bisa dibilang cukup cerdas, ditambah dengan pengalaman yang ia dapat selama menjadi asisten Wibie serta ilmu yang sedang dipelajari di kampusnya, sudah menjadi modal yang cukup bagi Rey untuk mengembangkan usaha milik keluarga suaminya.
"Aku harus membayar semua kebaikan Wibie padaku juga pada keluargaku dengan mengelola usaha ini dengan serius. Mudah-mudahan bisa menjadi besar agar bisa membantu keuangan ibu tanpa harus membebani Wibie," seru Rey dalam hati.
Rey memasuki kantor Notaris Fauzan dan Patner yang ada di Graha Cempaka Mas. Pras yang bersedia menemaninya sudah lebih dulu sampai di kantor kakaknya itu.
Mereka berdua masuk ke ruangan Fauzan yang sudah menunggu sejak tadi.
Setelah berbasa-basi sedikit, Fauzan langsung bicara pada pokok perkara yang akan ditangani nya.
"Berkas yang saya WA kemarin sudah siap,kan?"
"Iya, semua ada di sini. Rey menyerang salinan surat menyurat yang dibutuhkan untuk menerbitkan badan hukum usahanya,"
"Saya pelajari sebentar," kemudian pria itu membuka dan membaca dengan teliti surat menyurat yang menjelaskan kepemilikan toko dan rumah konveksi yang masih atas nama almarhum ayah Wibie.
"Susunan kepengurusan PT dan pas photo juga sudah?" tanya pria itu lagi.
"Sudah, ada dilembar terakhir,"
"Ok. Berati posisi mbak disini sebagai direktur utama, ya?"
"Iya," sahut Rey singkat.
"Ok, saya buatkan dulu surat perjanjian dan permohonannya. Setelah itu bisa dibawa pulang untuk dipelajari kembali. Untuk tanda tangan komisaris dan pemilik perusahaan serta yang lainya bisa di kantor ini atau kita atur bagaimana baiknya nanti,"
"Saya ikut saja. Jika bapak bisa datang ke rumah mertua saya itu lebih baik karena semua kumpul di sana. Jika tidak memungkinkan mereka bisa ke sini kok," jelas Rey.
"Ok. Saya siapkan surat menyuratnya dulu. Silahkan ditunggu,"
Kemudian Pak Fauzan meminta sekretarisnya untuk membuat surat yang dibutuhkan. Tak lama ia juga sudah bersiap-siap, sepertinya ingin segera pergi.
"Maaf ya Mbak, saya tinggal dulu. Sekretaris saya sedang menyiapkan suratnya. Bisa ditunggu sebentar. Jika sudah dipelajari oleh semua keluarga dan pihak komisaris, segera hubungi saya. Biar secepatnya bisa kita urus surat permohonannya. Maaf aku tinggal dulu, jika ada yang kurang jelas bisa hubungi saya atau seketaris saya. Gampang lah. Sama Pras juga bisa," ujar pria itu sembari menghampiri Rey dan mohon pamit.
"Terimakasih, Mas. Tolong dibantu, ya! Kalau bisa secepatnya. Soalnya ada Pemkot yang minta menjadi rekanan," Pras mencoba menjelaskan.
"Oh bagus itu. Bakal ada tender besar-besaran nih," seru Fauzan.
"Iya. Maklumlah, BANGGAR di pemerintahan harus ada surat izin pendirian perusahaan,"
"Ok. Bisa diatur itu. Secepatnya saya kerjakan,"
Rey dan Pras masih duduk di ruang pak Fauzan, menunggu surat yang sedang disiapkan oleh sekretaris kantor itu.
"Pras, nanti sore Dhiza mau membicarakan sesuatu padaku,"
"Mana ku tau. Dia cukup serius. Ekspresinya begitu berharap aku bisa meluangkan waktu untuknya,"
"Trus?"
"Kan aku buru-buru ke sini, jadi ga sempet. Jadi aku bikin janji di kampus nanti sore,"
"Wow, apa kau siap menemui?" tanya Pras.
"Entahlah. Tapi aku tidak harus menghindar juga. Bagaimanapun juga ia orang yang punya hubungan dekat dengan keluarga Wibie. Aku harus menjaga sikap padanya,"
"Jam berapa kalian janjian?"
"Jam 4,"
Pras membisikkan sesuatu ke telinga Rey. Cukup serius. Setelah itu Rey terlihat begitu sumringah.
"Oke, tapi jangan macam-macam ya. Ingat, dia itu teman suaminya dari kecil,"
"Siap," ujar Pras sembari tersenyum puas.
*****
[ Jam 4 sore, di kampus ]
Dhiza sudah memarkirkan mobilnya, sesuai pembicaraan di WA, mereka akan bertemu di depan mushola kampus B.
Setelah bertanya pada petugas parkir, Dhiza melangkah pelan menuju tempat yang di maksud. Sore itu ia mengenakan celana jean warna kaki dan blues navy kombinasi bunga. Ia terlihat lebih muda dan pres dibanting ketika mengenakan seragam kerjanya.
Ia belum melihat Rey di tempat itu. Setelah mengedarkan pandangannya, ia memutuskan untuk memberitahu Rey bahwa ia sudah sampai.
Panggilan telponnya tidak diangkat, WA yang dikirim juga belum diterima. Akhirnya Dhiza memutuskan untuk menunggu. Ia duduk di anak tangga mushola sembari melihat sisi gedung yang megah dan mewah itu.
Selang beberapa detik saja, muncul seorang pria dari dalam mushola dan terlihat sedang bicara serius.
"Iya, Rey. Aku sudah di kampus ini. Kamu di mana?" ujar pria itu dengan suara yang lumayan keras.
Beberapa kali ia menyebut nama Rey dan itu cukup mengundang perhatian Dhiza.
Cukup lama mereka bicara via telepon hingga laki-laki itu menahan diri di anak tangga sambil mengenakan kaos kakinya.
Dhiza mendekati pria itu, ia menunggu hingga hingga pembicaraan mereka via telpon selesai.
"Maaf, aku mendengar anda menyebut nama Rey. Apa dia anak akutansi semester 1?" tanya Dhiza pada pria itu setelah sambungan telepon itu berakhir.
"Iya," ujar pria itu dengan tatapan heran.
"Aku sedang menunggunya. Kami sudah janji akan ketemu di tempat ini jam 4, tapi aku tidak bisa menghubungi," keluh Dhiza
" Oh, aku juga sedang menunggu dia," seru pria itu.
"Oh ya, di sini juga? " tanya Dhiza
"Tidak, kebetulan sudah waktunya sholat jadi aku kemari,"
"Oh, anda kuliah di sini?" tanya Dhiza lagi.
"Iya. Saya mau ketemu Rey mau nitip tugas dan absen. Soalnya ada urusan penting jadi ga bisa ikut kuliah sore ini," pria yang masih mengenakan kemeja slim fit itu menjelaskan.
"Rey bilang apa di telpon? Apa dia sudah menuju kemari?" tanya Dhiza penasaran.
"Itu dia. Biasanya anak itu paling tepat waktu. Jam segini sudah ada di kampus. Dia bilang agak telat karena Devara minta dimandiin dulu,"
"Apa?" Dhiza cukup kaget mendengar alasan itu.
"Maaf mbak siapa? Teman dekatnya? Mamang belum tau kalau Rey sudah berkeluarga?" pria itu balik bertanya.
"Iya, saya tau. Saya kenal baik dengan keluarga suaminya,"
"Hem....jadi sudah tau kan gimana repotnya punya anak seumur Devara. Karena Rey begitu sayang pada anak itu, jadi gadis kecil itu kerap berlaku manja padanya. Contohnya sekarang, tumben-tumbenan anak itu minta dimandiin. Mungkin dia lagi tidak mau ditinggal mamanya," ujar pria itu lagi.
Dhiza diam. Dalam hati ia berpikir apa yang dikatakan pria itu memang benar. Tidak gampang untuk menjadi seorang Rey, ia harus berbagi perasaan dan perhatian dengan orang - orang yang dikasihinya.
"Sudah ngobrol lama tapi kita belum Kenalan," pria itu memulai pembicaraan setelah cukup lama keduanya diam. Pria itu mengulurkan tangannya ke arah gadis yang berdiri di depannya.
"Dhiza,"
"Prasetyo, biasa dipanggil Pras!"
"Bagaimana jika kita ke kantin saja. Butuh waktu juga ibu - ibu satu ini untuk sampai kemari," ajak Pras dengan ramah.
"Boleh,"
Sesaat kemudian keduanya sudah melangkah beriringan menuju kantin. Mereka terlihat begitu akrab dan sesekali tawa lepas keduanya memecah suasana kantin yang sudah sepi.
Pras memang pria yang menyenangkan, baru kenal beberapa saat Dhiza sudah terbuai dengan banyolannya hingga ia tidak menyadari satu pesan yang Rey kirim membuat HPnya bergetar.
Baik Pras maupun Dhiza tidak ada yang memberi kabar hingga menjelang magrib. Rey tersenyum tipis begitu dosen akuntansi itu mengakhiri pertemuannya.
"Semoga keduanya cocok satu sama lain," bisik Rey dalam hati.