
Pagi ini, Rey sudah bangun sejak pukul 4 pagi. Semalam, Ia sudah bilang ke Bu Fat akan membuat menu spesial untuk Pak Wibie dan Devara. Pindang iga sapi sebagai menu sarapan mereka hari ini.
Seluruh penghuni rumah belum ada yang bangun, termasuk Bu Fat. Wanita itu masih terlelap di tempat tidurnya. Rey bisa melihatnya, selain letak kamarnya yang ada di samping dapur, hordeng yang menggantung di jendela kamarnya itu ia biarkan terbuka sedikit.
"Istirahat saja, Bu. Biar aku yang bikin sarapan," seru Rey dalam hati ketika mengintip Bu Fat dari jendela kamar.
Iga sapi yang telah dikeluarkan dari prizer sejak semalam sudah mencair. Bahkan sudah kembali lagi ke suhu ruang. Setelah dicuci, ia direbus dengan api sedang.
Rey memang cukup piawai memasak. Beberapa masakan yang sering diolah oleh ibunya, Rey sudah hafal betul resep dan cara mengolahnya. Begitu juga tips-tips masak yang praktis. Diantaranya, jika merebus sesuatu yang membutuhkan waktu cukup lama ada rumusnya, 5.30.7 begitu ilmu yang senantiasa Rey ingat.
Rebus iga dalam panci yang tertutup selama 5 menit, matikan kompor dan biarkan panci dalam keadaan tertutup rapat selama 30 menit ke depan. Selanjutnya rebus lagi selama 7 menit. Hasilnya sungguh luar biasa. Daging iga sapi itu akan empuk dan gampang lepas dari tulangnya.
Sementara menunggu proses rebusan, Rey mempersiapkan bumbu pindang yang terdiri dari berbagai racikan rempah-rempah. Semua bumbu di iris halus olehnya.
"Cabenya cukup 2. Takut Devara kepedesan. Nanti bikin sambel ulek sendiri jika yang lain suka pedes," ujar Rey pada dirinya sendiri.
Semua ia kerjakan dengan cekatan karena sejak kecil ia memang sudah terbiasa bangun pagi dan membantu ibunya di dapur untuk menyiapkan sarapan dan beres-beres. Semua ia lakukan sebelum berangkat ke sekolah.
Tidak lupa, Rey juga menanak nasi. Ia melihat majic com yang ada di samping kompor itu kosong. Pancinya sudah dicuci bersih oleh Bu Fat.
Rey memasak seperti wanita dewasa yang sudah profesional menangani urusan dapur. Semua dikerjakannya dengan iklas. Kali ini ia akan menyajikan sesuatu yang mungkin bisa membuat bosnya itu akan senang. Rey sadar, ia belum bisa memberikan sesuatu atas semua kebaikannya padanya.
Satu pepatah lama mengatakan, jika engkau ingin bahagia untuk hari ini maka nikmatilah makanan kesukaanmu (baca manjakan perutmu), jika engkau ingin bahagia dalam sepekan maka lakukan sebuah perjalanan, dan jika engkau ingin bahagia di sepanjang usiamu maka cintailah pekerjaanmu.
Untuk saat ini hanya point kesatu yang bisa Rey berikan. Itu juga belum tentu sukses. Jika apa yang ia olah memenuhi standar selera Pak Wibie, ia bisa sedikit bangga. Tapi setidaknya Rey sudah mencoba.
Saat Rey sedang menghaluskan cabe menggunakan cobek, ia dikagetkan dengan suara yang tiba-tiba berada pas di telinganya.
"Baunya kecium dari atas. Kamu masak apa?" tanya pak Wibie yang sudah berdiri di belakang Rey.
Pria itu masih mengenakan kaos putih dan celana pendeknya.
"Iga sapi, Pak. Aku bikin pindang," jawab Rey setelah ia memalingkan wajahnya ke arah Pak Wibie sebentar dan kembali meneruskan mengulek cabe yang
belum halus.
"Tiba-tiba perutku jadi lapar," gumam Pak Wibie lagi. Ia masih berdiri di situ.
Kali ini menyandarkan tubuhnya pada meja dapur yang terintegrasi dengan kompor dan wastafel, menghadap ke arah Rey.
"Sudah jadi kok. Cuma tunggu sebentar, ya! Nasinya belum mateng," jawab Rey diiringi dengan suara tawanya yang pelan.
Pandangannya masih terjatuh pada cobek kecil dan dengan piawainya tangan itu tetap mengulek. Ia tak ingin memalingkan mukanya karena Pak Wibie berdiri begitu dekat dengannya. Rey yakin Pandangan mereka akan bertemu mengingat jarak mereka yang begitu dekat.
"Ok. Aku ke atas dulu ya. Belum sholat. Buruan kau kerjakan! Begitu aku turun, semua harus selesai," perintah Pak Wibie dengan nada sok galak.
Ia meninggalkan Rey yang masih menyelesaikan pekerjaannya menuju ke kamarnya yang berada di lantai dua.
"Cantik, mandiri, dan tidak manja. Kamu makin mengemaskan, Rey," Bisik Wibie begitu pelan. Pelan sekali, bahkan kata-kata itu juga tak mau terdengar oleh telinganya sendiri. Ia melangkah dengan senyum yang mengembang dan perasaan yang makin sulit untuk dimaknai.
*****
Sarapan sudah siap untuk di santap. Pindang iga sapi yang masih ngebul, sambel ulek mentah, serta gorengan tempe, tahu dan sosis.
(Pindang iga sapi bumbu cinta)
Ketika Bu Fat melarang Rey membersihkan cucian piring, Rey begitu girang. Ia memang suka memasak namun hal yang paling dibencinya adalah ketika sudah harus membersihkan perlengkapan dapur.
"Alhamdulillah. Terimakasih Bu Fat," sahut Rey dengan riangnya.
Bu Fat juga menyiapkan susu dan teh manis sebagai pelengkap hidangan di meja.
"Susu untuk Devara. Begitu bangun ia pasti cari susu. Ini sudah ibu buatkan," Bu Fat menjelaskan.
"Sepertinya dia sudah bangun. Suaranya terdengar di kamar atas," lanjutnya lagi.
"Kalau teh manis untuk Mas Wibie. Teh hangat lebih tepatnya karena gulanya cuma seujung sendok kecil. Dia ndak suka manis,"
Rey hanya menyimak semua penjelasan Bu Fat sembari mengangguk-anggukan kepala.
Satu gelas susu putih dan satu teko kecil teh hangat itu di letakkan dalam nampan kecil dan dibawa ke atas meja makan.
"Pagi ini kita ke sekolah Devara dulu. Ukur baju seragam dia,"
Ucap Wibie setelah ia duduk di meja makan bersama Devara dan Rey. Bu Fat tidak pernah ikut sarapan karena ia tidak terbiasa berat di waktu pagi.
Wanita yang sudah seperti keluarga sendiri bagi Wibie dan keluarganya itu sedang membereskan kamar atas.
Rey mengambil piring kosong yang ada di depannya dan mengisinya dengan satu centong nasi yang masih ngebul.
"Cukup," sela Pak Wibie ketika Rey akan menambah satu centong lagi.
Kemudian piring itu diulurkannya ke Pak Wibie. Ia mengambil satu potong iga ke piringnya. Tidak lupa menambahkan satu sendok sambel ulek yang tadi dihaluskan sendiri oleh Rey.
"Hemmmm," ujarnya. Ketika satu suapan sudah berhasil menyentuh ujung lidahnya.
Rey hanya tersenyum, ia mengambil satu piring lagi untuk Devara. Porsi yang sama dengan bapaknya. Seperti halnya pak Wibie, anak itu mengambil sendiri potongan iga yang ada di mangkuk besar itu dan menambahnya dipiring yang sudah Rey letakkan di depannya.
"Setelah itu aku akan mengantarmu. Mendaftar kuliah. Sudah kau tentukan akan kuliah dimana?" tanya Wibie lagi
"Sudah. Tapi aku belum yakin. Ada dua universitas yang membuka jurusan yang aku minati," jelas Rey sembari menyendok nasi dan menuangkan pindang ke piringnya.
"Oh, ya. Universitas apa? Kemarin aku memberimu 7 brosur. Aku sengaja milih kampus yang cukup terjangkau dari rumah biar kamu ga capek di jalan,"
Rey menyebutkan dua universitas yang sudah ia kantongi. Jika dilihat dari brosur yang ia baca, biayanya lumayan mahal dibanding yang lainnya.
"Nanti kita cek TKP aja ya, kamu putuskan setelah melihat lokasinya secara langsung," tawar Wibie lagi.
"Pa, aku mau dagingnya tapi nyangkut di tulangnya. Gimaba, ini?" seru Devara dengan suaranya yang manja. Ia terlihat begitu gigihnya melepas daging iga dari tulangnya.
Wibie dan Rey tertawa seketika. Dengan sigap Rey membantu sebelum Wibie meraih piring anak itu.
"Begini caranya, sayang. Nih lihat. Gampang kan?"
Rey memberi contoh cara melepaskan daging yang menempel di tulang dengan begitu gampangnya. Dengan menekan ujung tulang dan menarik daging itu dengan garpu. Anak itu begitu senang ketika daging yang sejak tadi ingin disantapnya itu sudah bisa masuk ke mulut mungilnya.
Mereka meneruskan sarapannya tanpa ada yang bersuara lagi. Sepertinya pindang iga sapi ini cukup mencuri selera makan Pak Wibie, terlihat ia mengambil dua potong iga lagi berikut kuahnya yang masih hangat tanpa tambahan nasi. Ia menyantap potongan daging itu dengan tak henti-hentinya berdecak kagum pada sang koki.
Rey tersenyum bangga dan sekaligus bahagia. Masakan yang ia sajikan dengan racikan cinta sudah mampu memanah sang empunya. Usahanya untuk membuat orang-orang yang dikasihinya bahagia bisa sukses tanpa cela.