
Sepanjang sore, ibu hanya diam, mengurung diri di kamar. Tak ada yang tau apa yang terjadi pada dirinya. Ibu tidak cerita pada siapapun terkait dirinya yang dipanggil polisi untuk dimintai keterangan dan tetang kondisi Wibie yang sedang di rawat.
"Aldy memang keterlaluan. Kenapa ia sampai segitu dendamnya pada Wibie?"
"Untung uang itu belum aku berikan padanya. Anak sialan itu pasti akan berbuat hal yang sama meski aku sudah membayar ganti rugi yang ia minta,"
"Aku tidak pernah menyangka dia sepelit itu. Semua yang sudah diberikan padaku diminta kembali bahkan berikut bunganya. Apa dia kira selama ini menitipkan saham padaku hingga berani-beraninya minta bunga yang berlipat," sesal ibu dalam hati.
"Aku malu. Sungguh sangat memalukan sekali diriku ini. Tanpa mempertimbangkan perasaan Rey, aku sudah menyodor-nyodorkan dirinya pada pria bejad itu. Aku tidak mau mendengar apapun yang dikeluhkan anaknya tentang kebejatannya. Yang aku pikirkan hanya bisa mendapatkan menantu kaya,"
"Rupanya Allah begitu baik padaku. Kedoknya yang pura-pura loyal terhadapku akhirnya terbongkar. Pria yang selama ini aku harapkan bisa menopang ekonomi keluarga ternyata pelitnya ga ketulungan," gerutu ibu lagi.
"Ah... Bagaimana ini? Dia sudah membuat situasi menjadi sulit. Wibie pasti begitu kesal padaku. Bagaimana jika ia benar-benar marah dan tidak mau memberi apapun lagi padaku,"
"Uang yang diberikan sebagai biaya pernikahan masih utuh padaku, aku memang tidak mempergunakannya untuk apapun. Saldo tabunganku juga senantiasa bertambah setiap bulannya karena Rey rutin mentransfer uang untuk berobat ayahnya. Baru sekarang ini aku merasa punya duit setelah sekian lama ekonomiku morat-marit. Tapi apakah semua itu akan berhenti di sini?"
"Aku tidak mau masuk penjara. Aku juga tidak ingin kehilangan sumber keuanganku. Tapi jika melihat sikap Wibie yang mulai dingin, aku takut dia berubah pikiran?"
"Apa yang harus aku lakukan? Bicara lagi pada Aldy, tidak mungkin. Dia sudah begitu murka karena statusnya yang sudah ditetapkan sebagai tersangka. Aahh....," teriak ibu semakin pusing.
Saat adzan berkumandang, ibu menyeka air matanya. Ia tergerak untuk sholat magrib. Sudah lama ia melupakan kewajibannya sebagai umat muslim dengan alasan sibuk dan lelah dengan pekerjaannya.
Ibu beranjak dari tempat tidur dan mengambil wudhu, ia melihat ayah dan kedua anaknya masih sibuk di ruang laudry menyelesaikan pekerjaan yang sudah ibu titipkan pada mereka.
Saat air wudhu membasuh mukanya, ada rasa sejuk yang mengguyur hati ibu. Hatinya mulai tenang, kegelisahan terlupakan sesaat.
Dengan khusyuk ibu menyelesaikan rakaatnya, hingga di sujud terakhir tangisnya tumpah. Segala kesedihan luruh seketika itu juga. Kepalanya tiba-tiba menjadi ringan.
"Aku sudah terlalu jauh meninggalkan-Mu. Langkahku mulai tersesat. Aku panik, sedih, dan begitu takut orang-orang yang telah aku tinggalkan tidak mau memaafkan ku. Ampuni hambamu ini Ya Allah. Beri aku petunjuk. Aku ingin kembali, mendekap mereka dengan kasih sayangku. Kasih sayang seorang ibu," ucap ibu dalam doanya.
Ibu semakin sesugukan, ia begitu menyesali dirinya yang sudah begitu kejam pada Rey dan anak menantunya, juga sudah begitu durhaka kepada suaminya
Ketika Ayah masuk ke kamar, ibu serta merta menyambar pria itu dan bersujud di kakinya. Ibu meminta maaf atas kekhilafannya selama ini.
Meski Ayah sempat kaget melihat istrinya kembali sholat setelah cukup lama tidak pernah dilakukannya lagi, Ayah juga dikagetkan dengan permintaan maaf ibu padanya.
Ayah tidak ingin mempertanyakan alasannya. Pria itu hanya bisa meraih pundak istrinya dan membawa ke pelukannya. Kini mereka terlihat saling memaafkan dengan hati yang iklas dan hati yang lapang.
*****
"Alhamdulillah sudah bisa pulang," seru Pak Eko ketika masuk ke ruang perawatan dimana Wibie masih dalam kondisi setengah berbaring menunggu kedatangannya.
"Dokter sudah mengizinkan pulang dengan catatan harus kontrol setiap minggu," lanjut pria itu lagi.
Wibie terlihat bahagia. Kini ia bisa meninggalkan ruang yang telah dihuninya selama 5 malam ini. Kondisi tulang kakinya sudah membaik, hanya saja untuk sementara ia harus menggunakan alat bantu untuk berjalan.
Pak Eko sudah membereskan segala sesuatunya, baik urusan administrasi maupun keberangkatan Wibie ke Jakarta.
Pria itu memang ditugaskan oleh perusahaan untuk menemani Wibie selama dalam perawatan.
Tiket pesawat sudah dipesan dua hari sebelum, Pak Eko sendiri yang akan mengantar rekan sejawat sekaligus atasnya itu hingga sampai di Jakarta
"Mobilnya sudah siap, kita bisa pulang sekarang," kata Pak Eko
"Baik, pelan-pelan saja pak. Kita langsung ke Bandara kan? tanya pria itu meyakinkan.
"Iya,"
"Bapak ga pamit dengan keluarga di sini?" Pak Eko coba mengingatkan.
"Maunya begitu. Tapi saya tidak mau ayah mertua saya melihat saya dalam kondisi begini. Ia baru saja sembuh dari stroke,"
"Oh, baiklah kalau begitu. Kita berangkat sekarang,"
Pak Eko yang membawa tas kecil berisi beberapa pakaian ganti dan obat-obatan Wibie mengiringi bosnya yang mencoba berjalan dengan tertatih. Dengan sabar pria itu mensejajarkan langkah untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu pada Wibie.
Tiba di mobil, Wibie segera mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Kini ia terlihat menyalakan ponsel itu dan juga data internetnya.
Seketika itu ratusan notifikasi muncul tak henti-hentinya. Termasuk dari istrinya. Terlihat Rey beberapa kali mengirimkan pesan bahkan melakukan panggilan suara.
Wibie segera menghubungi istrinya, tanpa menunggu sambungan itu langsung diterima Rey saat itu juga.
"Aku baru keluar dari hutan belantara. Sekarang sedang menunju ke bandara," ujar Wibie setelah ia mendengar suara istrinya dari seberang.
Rupanya Rey begitu khawatir akan keadaan suaminya, ia mengubah panggilan suara menjadi vcall. Kini ia kaget sendiri mendapati keadaan suaminya yang masih mengenakan penyanggah leher.
"Kamu kenapa, Mas. Apa yang terjadi. Kenapa lehermu pake alat begituan?" tanyanya begitu khawatir.
"Ga usah panik gitu ih. Aku cuma jatuh dari pohon. Sebentar lagi juga bisa sembuh kok," Wibie mencoba membuat suasana menjadi tenang.
"Jatuh dari pohon, gimana. Emang kamu ngapain sampe manjat-manjat segala?"
"Ada pohon durian yang lagi banyak buahnya. Aku pengen makan durian yang aku dapet dengan memetiknya sendiri. Bawaan orok, kali," canda Wibie.
"Ah. Ada aja alasanmu. Tapi kamu ga apa-apa, kan?"
"Enggak. Ini kan lagi mau pulang. Bentar lagi kamu bisa liat sendiri kalau ga yakin!"
"Kamu diantar siapa?"
"Ada pak Eko dan sopir kantor yang akan mengantarku hingga bandara,"
Rey tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia hanya memandangi wajah suaminya dari layar ponselnya.
"Udah, jangan khawatir. Aku baik-baik saja kok," hibur Wibie lagi.
"Ok. Hati-hati, ya. Sampai ketemu di rumah,"
"Ga ada ciuman, nih?" sela Wibie menggoda.
"Apaan, sih. Malu sama yang ada disampingmu," ujar Rey memerah.
Wibie tertawa melihat istrinya yang sudah tidak panik lagi. Ia bahagia bisa melihat wajah itu berubah menjadi bersemu merah.
Pak Eko yang ada disampingnya hanya tersenyum melihat kelakuan bosnya yang berhasil membongi istrinya itu.