Bukan Yang Pertama

Bukan Yang Pertama
EP. 21 Sedikit Pelajaran


"Siang, Pak. Bisa di cek hasilnya. Sudah saya kerjakan sesuai perintah, Bapak!"


"Luar biasa, kamu memang hebat! Kapan mau ke kantor saya?"


"Senin aja, Pak. Kebetulan saya ada jadwal kuliah,"


"Inget, ya. Rahasiakan soal ini. Cukup kita yang tau!"


"Baik, Pak. Bapak bisa percaya sama saya,"


"Bagus, senang bisa ketemu mahasiswa secerdas kamu,"


"Saya membantu sesuai kemampuan saya. Saya tidak terima jika dosen saya di perlakukan seperti itu oleh perempuan itu,"


"Sebenarnya saya tidak mau mempermasalahkan hal ini. Tapi wanita itu terus menerus mengganggu saya,"


"Iya, Pak. Saya faham. Semoga apa yang saya lakukan bisa membantu bapak,"


"Sangat membantu. Saya ingin memberi dia sedikit pelajaran agar dia tahu siapa yang dia hadapi sekarang?"


"Terimakasih, ya. Anda sudah begitu membantu saya. Ditunggu kedatangannya ke kantor saya," lanjut Pak Gun lagi


"Baik, Pak. Terimakasih,"


Pak Gun segera menutup telponnya begitu tidak ada suara lagi dari lawan bicaranya. Ia membuka aplikasi yang ada di HP-nya dan tersenyum puas dengan hasil kerja orang yang baru saja menghubunginya itu.


"Luar biasa, benar-benar terjun bebas. Aku ingin liat ekpresimu begitu mendapati ini, Rey?" Senyum licik Pak Gun mengembang saat itu juga.


"Aku juga ingin tau, seberapa kuat suamimu yang belagu itu bisa membantumu?"


"Dasar *****, berani-beraninya kau mengumumkan perang denganku. Bagaimana jika usahamu hancur? Apa suamimu itu masih bisa tersenyum menertawakan ku,"


"Kita lihat saja. Siapa yang lebih kuat diantara kita, laki-laki sialan. Aku belum pernah diperlakukan seperti ini oleh wanita yang aku dekati. Bahkan mereka dengan iklas melemparkan tubuhnya kepadaku. Lah kamu siapa, Rey? Baru juga kuliah di kelas karyawan, baru juga merintis usaha kacang-kacang, tapi lagumu itu bikin mual isi perutku,"


Pak Gun tak henti-hentinya ngomel pada diri sendiri. Ia masih begitu kesal terhadap suami Rey yang dianggap cukup berani mengumumkan perang pada dirinya.


"Aku dosen istrimu. Aku punya pengaruh di kampus ini. Lihat saja, jalanmu akan semakin sulit untuk menyelesaikan semuanya!" Teriaknya begitu geram.


Ia panangi lagi ponsel yang masih ada di tangannya. Amarah hilang begitu ia melihat hasil kerja mahasiswanya itu lagi.


"Ha.....ha.....aku membalas perbuatanmu dengan cara yang elegant, Rey. Bukan seperti suamimu yang kampungan itu. Aku orang terpelajar, kau lupa yang satu ini,"


Yah, Pak Gun baru saya menerima telepon dari salah satu mahasiswa teknik informatika yang dimintai bantuan untuk memberikan permainan kecil pada Rey.


Agus Cahyono, mahasiswa semester empat yang sudah dua tahun berturut-turut menjadi duta IT dan beberapa kali menyabet juara dalam kompetisi teknologi informasi itu beberapa waktu lalu di panggil Pak Gun ke ruangannya.


Ia merasa mendapat kehormatan begitu orang yang punya pengaruh di kampusnya itu menemui dirinya untuk minta bantuan.


"Suatu kehormatan bagi saya, Bapak mengundang saya ke ruangan bapak yang begitu nyaman ini," puji Agus ketika ia diterima oleh Pak Gun yang mewah dan full AC itu.


Setelah Pak Gun menceritakan kronologis dan tujuan beliau memanggilnya, Pak Gun menyodorkan ponselnya ke arah Agus dan memperlihatkan beberapa akun marketplace milik Rey.


"Ini yang saya maksud. Wanita ini berkedok sebagai pedagang online untuk menutupi profesi aslinya. Saya sudah terjebak. Beberapa waktu lalu saya melihat barang dagangan karena saya membutuhkan barang itu untuk karyawan-karyawan saya saya membuat pesanan dalam jumlah yang cukup banyak. Ia datang ke kantor ini untuk mengantarkan PO dan pelunasan DP. Namun pertemuan itu di salah artikan, prilakunya yang sopan dan malu-malu ternyata hanya tameng. Dia merayu saya dan saya tergoda, akhirnya terjadilah sesuatu yang tidak pantas di ruang ini. Saya diperas karena dia punya rekaman adegan itu. Jika saya balas dendam atas perbuatan itu, saya akan menghancurkan karier saya. Jadi saya minta bantuan anda agar alat pelantaranya untuk mencari mangsa tidak mendapatkan kepercayaan dari calon konsumen nya,"


"Bisa, kan?" tanya Pak Gun cukup serius.


"Bisa diakali, Pak," sahut Agus ragu.


Ia tahu, perbuatan itu sangat keji dan sangat merugikan orang lain. Namun karena Pak Gun bisa meyakinkan pemuda yang begitu polos ini bahwa ia telah di jebak oleh mahasiswa yang mempunyai profesi sebagai pedagang online merangkap ayam kampus.


"Mohon dibantu, saya sudah nyaris kehilangan akal menghadapi perempuan satu ini,"


"Baiklah, Pak. Akan saya coba. Hanya ini yang saya bisa lakukan untuk membantu Bapak ," sahut Agus yang begitu prihatin terhadap pria yang sudah berumur itu menjadi mangsa wanita-wanita muda yang ingin hidup mewah dengan jalan pintas.


"Terimakasih, Nak. Bapak minta no rekeningnya. Biar nanti saya transfer uang pulsanya,"


"Tidak usah, Pak. Saya hanya membantu sesuai dengan apa yang saya bisa. Tidak mengeluarkan biaya. Bapak tidak udah repot-repot seperti itu," elak Agus.


"Ya, sudah. Beri kabar secepatnya jika sudah dikerjakan. Saya sudah cukup bersabar menghadapi wanita itu. Malah dia juga sudah mendapatkan mangsanya yang baru. Anak kampus ini juga,"


"Busyet, ga punya harga diri sekali perempuan itu. Kalau boleh tau, siapa orangnya? Fakultas apa dan semester berapa?" Selidik Agus begitu penasaran.


"Kira viralkan saja biar tidak ada korban lagi. Kasian, apalagi jika pria yang dijadikan mangsanya itu sudah berkeluarga," ujar Agus lagi. Nada bicaranya sudah semakin geregetan.


"Kita tegur dulu dengan cara ini, jika tidak berhasil baru langkah yang kedua. Viralkan!,


"Baik, Pak. Ada benarnya juga. Kita kasih teguran dulu. Jika tidak mempan baru di sikat,"


"Nah itu anda faham maksud saya!"


"Ha...ha.....," Keduanya pun tertawa setelah menyadari bahwa satu sama lain punya ide yang sama.