Bukan Yang Pertama

Bukan Yang Pertama
EP. 50 Surprise


Pukul 12 siang, baik kelompok satu maupun kelompok dua sudah stanbay di bandara. Mereka sengaja kumpul lebih awal agar tidak ketinggalan pesawat. Lebih baik makan dan sholat di sekitar sini daripada harus merepotkan orang lain menunggu mereka.


Usai sholat, Rey melihat orang yang begitu ia kenal dari kejauhan. Ia sedang duduk dengan tenangnya sembari memandang hp yang ada ditangannya. Rey terus melangkah ke arah pria itu untuk meyakinkan penglihatannya.


"Kok mirip banget, tapi ga mungkin juga. Dia ga bilang kalau mau ke sini. Tadi pagi masih sempat vc dia lagi main sama anak-anak di rumah Oma," pikir Rey.


Rey menghentikan langkahnya ketika jarak mereka hanya tinggal dua meter saja. Masih dengan tatapan tidak percayanya, Rey melihat pria itu dari jarak yang begitu dekat.


"Rey, ada yang cari," Rara segera memberi tahu Rey ketika ia keluar dari gerai burger yang ada di area bandara.


"Noh," unjuk Rara lagi menggunakan mulutnya karena kedua tangannya sudah menegang makanan dan minuman. Setelah menyampaikan informasi itu, Rara terus pergi entah kemana.


Pria yang duduk menyendiri itu seketika itu juga menengok ke arah Rara karena ia cukup keras memanggil nama Rey. Kemudian beralih ke arah Rey Kini mereka beradu pandang. Rey masih tidak percaya kenapa suaminya bisa ada di tempat ini.


Dengan menahan senyum, ia menghampiri Wibie yang terus menatapnya. Wibie juga pura-pura tidak membaca keterkejutan istrinya itu. Berlagak sok cuek, seperti tidak tidak terjadi sesuatu apapun.


"Kok ga bilang-bilang sih kalau mau nyusul ke sini," Rey meninju bahu suaminya sedikit kesal.


"Kenapa, ga suka? Aku pulang lagi kalau begitu?" Wibie pura-pura mau beranjak dari tempat duduknya.


"Bukan begitu," Rey meraih tangan suaminya, kemudian ia duduk di samping Wibie.


"Malu sama teman-temanmu?" godanya lagi.


"Bukan begitu," Rey semakin gemez dipojokkan seperti itu. Tonjokan nya beberapa kali mendarat di bahu Wibie.


"Surprise, sayang," bisik Wibie kemudian.


"Tau, ga! Aku akan membawamu ke mana?" tanya Wibie setengah berbisik di telinga kiri Istrinya.


Rey menggelengkan kepalanya, ia memang belum bisa membaca apa yang direncanakan oleh suaminya itu.


"Aku sudah izin sama ketua kelompokmu dan petugas yang akan mengantarkan kalian hingga ke Jakarta,"


"Izin untuk apa?" tanya Rey masih penasaran.


"Kau tidak balik ke Jakarta hari ini," ujar Wibie menahan senyum.


"Mas, ih.....kok ga bilang-bilang dulu sih,"


"Kan sudah bilang tadi. Penculikmu ini sudah lebih dulu bicara pada orang yang punya kewenangan di sini,"


"Bukan izin sama mereka, tapi kenapa ga bilang dulu sama aku!" Protes Rey.


"Kalau aku bilang ke kamu, kau pasti tidak akan meluruskan permintaanku,"


"Sok tau," sergah Rey.


"Sudah ke baca,"


Saat Rey dan Wibie masih saya bersih tegang, Alex menghampiri mereka berdua. Dengan begitu tenang ia menyapa Rey yang tengah bercengkrama dengan suaminya.


"Rey, suamimu sudah bilang mau menahanmu beberapa hari di sini. Jadi kita pulang duluan, ya!"


"Iya, aku ga tau kalau dia punya rencana begini," sahut Rey malu-malu.


"Sepertinya sebuah kejutan ya, Mas?" tanya Alex pada Wibie.


"Iya, kami akan bukan madu kedua di sini," sahut Wibie tanpa dosa.


Terlihat wajah Alex yang begitu merah mendengar ucapan itu, namun ia berusaha untuk menguasai diri.


"Romantis sekali," sahut Alex berusaha untuk tetap tenang.


"Saya pernah tugas di sini selama tiga tahun, jadi kangen dengan keindahan daerah ini. Mumpung istri saya ada di sini, saya nyusul. Saya ingin menikmati akhir pekan ini bersama dia,"


"Oh, pernah tugas di sini?" tanya Alex cukup kaget.


"Iya, saya kerja di PT. XX,"


"Keren Mas, pantes Rey buru-buru menikah ketika bertemu dengan anda, ya?" canda Alex.


"Iya, dia terpesona dengan ketampanan saya. Ha...ha....," canda Wibie.


Rey memukul bahu suaminya karena malu dibilang seperti itu, apalagi di depan Alex. Teman dekatnya selama ia menyelesaikan tugasnya selama sepuluh hari terakhir.


"Lex.. maaf ga bisa nunggu kalian berangkat, ya, saya juga baru sampe di sini. Belum makan dan sholat. Jadi mau langsung ke hotel,"


"Iya, Mas. Nginep di mana?"


"SPB,"


"Waw, hotel paling mahal di sini. Bagus banget karena viewnya ke pantai,"


"Iya, kita permisi dulu ya,"


"Silahkan, Mas. Selamat bersenang-senang. Sampai ketemu lagi di Jakarta, Rey!" Ujar Alex.


"Iya, sepertinya mereka lagi pada di mushola. Tinggal aja. Nanti aku sampaikan ke mereka,"


Setelah saling menjabat tangan, Rey yang sudah dipegang erat tangannya oleh Wibie langsung membalikkan tubuhnya. Mengikuti langkah suaminya, meninggalkan ruang tunggu bandara.


*******


"Mas, bilang apa sama anak-anak. Apa mereka ga pengen ikut ke sini?" tanya Rey ketika mereka jalan beriringan menuju ke luar bandara.


"Aku bilang pengen jemput mama biar cepet pulang,"


"Dih, anaknya kok dibohongi,"


"Aku kan ga bohong. Bener kan jemput kamu?"


"Iya, tapi kan memang udah waktunya pulang juga kali?" Rey mencubit perut suaminya.


"Ya, sambil nyelam minum air," gumam Wibie.


"Maksudnya?"


"Nathan sudah pantas kok punya adek. Biar capeknya sekalian. Aku ingin kita nambah satu pasukan lagi,'"


"Hemmm...," Rey semakin geram. Ia tidak bisa membayangkan, masa selama kuliah dua kali hamil.


"Kok diem?" tanya Wibie.


"Masa harus hamil lagi. Belum juga selesai S1-nya?"


"Ga usah malu. Emang ada yang tau waktu kamu hamil waktu itu. Perutmu itu malah tidak terlihat seperti orang hamil, kok,"


"Iya,sih. Mereka bilang waktu itu aku lagi gendut aja,"


"Tuh, kan?"


"Tapi aku lagi mau skripsi, mas"


"Aku bilang sambil nyelem minum air, kalo ga bisa keduanya kita nikmati aja masa berdua ini. Ya ga? Wibie mencolek genit pipi istrinya.


"Udah ga usah dipikirin, namanya juga proses pembuatan. Jadi Alhamdulillah, ga juga diulang lagi,"


"Dih, kamu tuh ya. Sekarang makin genit aja,"


Rey kembali mencubit suaminya.


"Kangen sayang," sahut Wibie pelan.


"Tuh, mobil yang sudah aku sewa untuk dua hari ini. Kita akan berbulan madu di sini. Maaf ya, telat,"


"Iya, terserah Mas aja. Aku mah ngikut aja dan siap melayani apapun yang kau butuhkan,"


"Nah begitu dong. Kamu makin terlihat cantik sayang,"


"Baru juga sepuluh hari ga ketemu,gombalnya ga ketulungan," .


"Habis ditinggal lama" sahut Wibie dengan nada memelas.


"Kok nyalahin aku, sih. Kan Mas Wibie sendiri yang punya usul supaya aku KKN di sini?"


"Iya, biar aku ada alasan buat nyusul kamu di sini. Setelah pisah sepuluh pasti kita sama-sama ingin melepas rindu. Untuk itu aku tidak mau diganggu oleh siapapun,"


"Aku kepikiran anak-anak,"


"Mereka sama Oma, ada anaknya Dhiza juga di rumah. Mereka juga tidak sadar kalau kehilangan orang tuanya untuk dua hari saja,"


"Oma ga keberatan,"


"Ga, justru ia kasih izin kita. Sebelum calon cucunya jadi tidak boleh pulang,"


"Boong banget," lagi-lagi Ken mencubit perut suaminya.


Mereka pun segera menuju ke mobil putih yang terparkir tidak jauh dari pintu ke luar. Wibie tetap memegang tangan Rey dengan kencang ketika mereka berjalan beriringan sembari terus bergurau dan sesekali terlihat tawa mereka yang pecah dan cubitan gemes yang sering mendarat di perut Wibie.


Alex melihat kemesraan mereka sejak tadi hingga keduanya masuk ke dalam mobil dan meninggalkan parkiran bandara. Ada perasaan sakit yang begitu menghujam hatinya. Ia harus menyaksikan Rey dengan suaminya di saat detik-detik mereka ingin berpisah. Entah kapan bisa melihat wajah yang begitu ia rindu. Meskipun satu kampus, pada kenyataannya mereka jarang sekali bisa bertemu.


*****


Happy reading all, terimakasih atas kunjungan setianya!


Jangan lupa vote, like, dan komen yang banyak, ya ( spam komen juga ga apa) biar saya makin semangat untuk update.


Aku juga nulis novel yang lain loh,


Temani Aku, Ken!


Jangan lupa kepoin juga, siapa tau kalian juga suka sama ceritanya.