Bukan Yang Pertama

Bukan Yang Pertama
Hari Pertama Sekolah


Pagi ini, sinar mentari muncul lebih dini. Jam 6 pagi, langit sudah begitu terang. Wajar saja jika Devara menganggap jika ia sudah harus bergegas ke sekolah.


Hari ini, hari pertama Devara sekolah. Sejak semalam anak itu tak henti-hentinya mengingatkan seisi rumah agar membangukannya lebih pagi dan menyiapkan bekal untuk ke sekolah.


"Roti bakar pake seres sama selai kacang, dua ya! Susunya yang gede. Aku maunya susu putih aja," begitu pesannya pada Bu Fat, sebelum ia berangkat tidur.


Devara sudah siap dengan seragam barunya, ia menuju meja makan menyusul papanya yang sudah lebih dulu duduk di sana. Namun ia masih disibukkan dengan urusan rambut. Ia ingin rambutnya dikepang oleh Rey. Tidak seperti biasanya Rey belum menampakkan batang hidungnya jam segini, jadi Devara uring-uringan sendiri.


"Rey, kemana?" tanya Wibie ke Bu Fat


"Toko masih tertutup rapat waktu saya tengok," sahut Bu Fat


"Mungkin Rey masih tidur. Semalam sampai di rumah kan sudah jam 11," lanjut wanita itu lagi.


"Bentar, papa tengok Kak Rey dulu ya," Wibie beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan ruang ini. Dari dapur terlihat pintu toko masih tertutup.


"Rey," panggilnya. Disertai ketukan pintu yang sedikit keras. Khawatir Rey yang ada di atas tidak mendengar panggilannya.


"Masuk, tidak dikunci," sahut Rey dari dalam


Wibie menekan gagang pintu, terlihat Rey sedang mengerjakan sesuatu dari layar komputer di meja kerjanya. Duduk membelakangi pintu.


Wibie melangkah ke arah gadis itu. Berdiri di belakang Rey yang begitu fokus menyelesaikan pekerjaannya. Ia mengelus pundak kanan Rey dengan lembut.


"Ngerjain, apa?" tanyanya pelan


Rey mendongakkan kepalanya sebentar, memberi senyum pada calon suaminya yang sudah rapi dengan kaos putih dan Jean warna kaki.


"Kemarin lusa ada email masuk. Ada calon costumer dari luar daerah yang ingin membeli pakaian safety. Dia minta dikirim surat penawaran secepatnya," jelasnya.


"Aku baru membuka email itu usai subuh. Jadi langsung aku selesaikan. Sebelum jam 8 bisa dikirim. Biar mereka punya mainsed yang positif terhadap layanan kita," jelas Rey lagi.


Pandangannya kembali ke layar komputer. Sementara jari-jari berkeliaran kesana kemari menekan tombol yang ada di keyboard itu.


"Kita semua menunggumu. Devara sudah tidak sabar ingin berangkat sekolah. Sarapan dulu, yuk," ajak Wibie. Tangannya kembali mengelus lembut bahu kanan Rey.


Seketika Rey sadar. Ternyata jam yang tertera di layar komputer itu sudah pukul 6.20.


"Iya, Pak. Sebentar ya. Tinggal di email kok. Maaf, ya,"


"Buruan nyusul ya, sudah ditunggu Devara," ucap Wibie lagi.


Wibie meninggalkan toko, tak lama Rey juga mengikutinya dari belakang


Begitu sampai di meja makan, Rey dihujani ocehan oleh Devara yang sudah menunggu dengan muka cemberutnya.


"Kakak kok lama banget sih. Ngapain aja? Aku mau sekolah, rambut aku belum dikepangin," ocehnya dengan nada kesal dan lucu.


Tingkahnya itu kontan mengundang tawa semua yang ada di sana.


Rey langsung menghampiri gadis itu, berdiri di belakangnya. Mengambil sisir yang sudah disiapkan Devara. Dengan cekatan menyisir rambut Devara yang lurus dan panjang.


"Biar Kak Rey sarapan dulu, sayang," sela Wibie yang melihat Rey segera memenuhi permintaan putrinya itu.


"Nanti aku telat, Pa," protes Devara yang merasa keberatan.


Setelah menyisirnya, rambut Devara yang lurus dan panjang dibagi menjadi dua bagian. Kemudian mengepang setiap bagiannya dan mengikatnya dengan karet rambut.


"Sebentar kok, Pak," Rey membela anak itu.


"Papa suapin Kak Rey dong, biar kakak bisa ngepang aku dan sarapan juga," ucapnya begitu polos.


Wibie jadi kikuk ditembak omongan seperti itu oleh anaknya. Bu Fat hanya tersenyum melihat drama anak dan papanya itu. Sementara Rey pura-pura tidak mendengar ucapan itu.


"Nanti kakak cari pita yang cantik di kamar ya, sekarang sarapan dulu,"


Merasa urusan rambutnya sudah selesai kini Devara bisa sarapan dengan tenang. Ia mengambil piring yang sudah disi nasi dan lauk itu kemudian mulai menyantapnya


******


Tiba di sekolah, seluruh gedung sudah dipenuhi oleh para siswa dan orang tua yang mengantarkan anaknya.


Wibie memakirkan motornya di depan pintu gerbang karena area parkir yang ada di dalam sudah penuh.


Ia segera menuntun Devara menuju ke ruang kelasnya. Ternyata di kelas Devara juga sudah banyak teman-temannya yang lebih dulu ada di ruang ber-AC itu. Devara masuk ruangan dan bergabung dengan teman-teman, sementara Wibie menunggu di luar.


Clingak-clinguk, Wibie mencari posisi yang enak untuk duduk. Di sudut kanan segerombolan ibu-ibu muda sedang membicarakan vermak seragam anaknya.


Ada yang kepanjangan roknya, ada yang kegedean bajunya, dll.


Di sisi lainnya, ibu-ibu sedang membahas grup kelas.


"Kamu adminya ya, aku cukup sesi komen dan spam," sahut ibu yang berkerudung putih.


Wes lah, pokonya obrolan yang bila...bla ...... Ga ada faedahnya bagi Wibie.


Wibie tidak melihat kaum adam yang tampan dan dewasa seperti dirinya.


Menyerah pada keadaan, akhirnya ia memilih duduk di satu bangku yang masih kosong, ia tak ambil peduli meskipun sisi kanan dan kirinya ibu-ibu yang sudah tampil full make up sepagi ini.


"Nganter anaknya juga, Pak" tanya ibu yang baru saja datang dan mengantarkan anaknya masuk ke kelas Devara itu sebelum ia duduk di samping Wibie.


"Iya," jawab Wibie berusaha seramah mungkin dan menggeser pantatnya sedikit agar si ibu bisa duduk dengan leluasa


"Kelas mana anaknya?" tanya si ibu lagi


"Mentari 2,"


"Lah, satu kelas dong sama anakku. Saya mamanya Rara," si ibu mengulurkan tangan ke arah Wibie. Tanda perkenalan.


"Istrinya kerja, Pak. Kok papanya yang nganter?" selidik ibu yang mulai bawel ini.


Wibie tidak menjawab, kecuali nyengir kuda, tidak ada yang bisa dilakukannya untuk menghadapi the power emak-emak jika sudah investigasi sesuatu.


Terdengar instruksi dari pengeras suara agar para wali murid berkumpul di aula. Akan ada pengarahan dari pimpinan.


"Selamet... selamat.....," seru Wibie dalam hati.


Akhirnya ia bisa terhindar dari penyidik yang sudah mulai kepo itu.


Sejurus kemudian, gerombolan ibu-ibu muda tadi bubar dan menuju ke tempat yang dimaksud. Begitu juga Wibie


Di ruang aula, penyiksaan itu makin berat. Dari sekian wali murid yang berkumpul di situ, tak satupun Wibie melihat yang sejenis dengannya.


Ia mengambil posisi duduk yang paling belakang dan mengikuti semua seremonial itu hingga tuntas.


"Disini saja. Aman dari pandangan. Begitu selesai aku juga bisa langsung kabur,"


Kini tiba giliran, para wali murid berkumpul sesuai dengan kelas dimana anaknya belajar. Wibie menuju kelompok mentari 2 yang dikoordinir oleh ibu muda berusia sekitar 30 tahun.


Intinya, sang korlas akan membentuk grup WA agar komunikasi antar pihak sekolah dan walimurid lancar.


Ketika Wibie diminta no hp, ia bingung. Jika no hp miliknya yang diserahkan ke ibu-ibu itu bakal cilaka. Bisa-bisa dalam 24 jam akan penuh notifikasi grup yang membahas tentang hang out, drescode, nobar, dll.


Namun jika ia memberikan nomor HP Rey, alangkah kejamnya dia. Anak gadis yang baru akan dinikahinya itu akan pusing juga dengan urusan ibu-ibu. Paling tidak, Wibie harus izin dulu pada Rey untuk memberikan nomernya pada macan (nama-nama cantik) ini.


"Duh, gimana ya?" bisik Wibie dalam hati.


Benar kata teman-teman di tempat kerja Wibie, jenjang pendidikan pra sekolah itu adalah masa-masa terberat dalam pendidikan. Berat buat orang tuanya.


Saat Wibie sedang begitu pusing, ia dikejutkan oleh sapaan akrab perempuan yang tiba-tiba sudah berdiri di samping tempat duduknya.


"Bie, kamu sendirian," tanya wanita itu. Dhiza lebih dulu tersenyum sebelum Wibie menoleh ke arahnya.


"Iya, sama siapa lagi. Ibu sedang di Surabaya, nungguin Whita yang mau lahiran," jelas Wibie


"Oh," Ia tak melanjutkan pertanyaan.


"Apa harus ikut grup kelas, ya. Jika aku kasih no HP-ku. Aku kan ga selalu di Jakarta. 2 minggu ke depan aku di lapangan," keluh Wibie pada Dhiza


"Besok-besok siapa yang nganter Devara" tanya wanita dengan setelan blezer hijau itu.


"Gantian. Bisa Bu Fat bisa juga Reyna,"


"Tapi aku sudah konfirmasi ke sekolah kok tentang mobil jemputan," tambahnya lagi


"Bu Fat yang dulu membantu ibumu di rumah?" tanya Dhiza sedikit suprise.


"Iya. Sejak aku di penggilingan, ia ikut aku," sahut Wibie


"Kalau Reyna" tanya Dhiza penasaran


"Asistenku. Dia yang menangani konveksi. Dia sangat dekat dengan Devara,"


Sebenarnya Wibie ingin mengatakan bahwa Rey calon istrinya, namun ia takut Dhiza banyak bertanya dan dia lagi males membahas soal itu pada situasi yang seperti ini.


"Untuk sementara, biar aku yang handle semuanya. Jika ada apapun yang berhubungan dengan kegiatan kelas akan aku teruskan ke kamu. Utusan korlas biar aku selesaikan," Dhiza menawarkan bantuan. Dalam hatinya ia begitu senang.


"Ini yang akan menjadi alasan aku bisa menghubungimu lagi,Bie," bisiknya dalam hati. Ia tiba-tiba menjadi begitu girang.


Wibie merasa begitu tertolong. Ia sangat berterimakasih pada Dhiza. Ia tidak menyadari bahwa perempuan yang selama ini menjadi sahabatnya itu sedang mencari jalan untuk menuju ke hatinya