
Seorang diri di hotel tanpa kegiatan apapun membuat Rey jenuh. Tidak ada yang bisa dilakukannya kecuali makan, tidur, dan nonton TV. Oleh sebab itu, dua hari ini Rey lebih banyak menghabiskan waktunya dengan tidur siang. Akibatnya, ia susah tertidur waktu malam harinya.
Sabtu malam, tepatnya sekitar pukul sebelas Rey belum bisa memejamkan matanya. Sudah dua film yang selesai ia tonton, namun matanya tak kunjung terpejam.
Pintu kamar Rey diketuk seseorang. Rey kaget dan sedikit ragu untuk membukanya. Mengingat hari sudah begitu larut, Rey juga tidak sedang memesan apapun di resepsionis.
"Makan malam sudah diantar sejak tadi. Malah Rey sudah langsung menghabiskannya saat itu juga," pikir Rey dalam hati.
"Siapa, ya?"
Rey sedikit deg-degan. Perasaannya menjadi tidak enak seketika itu juga. Sudah selarut ini ada yang mengetuk-ngetuk pintu kamarnya.
Pikirkan langsung terbayang pada hal-hal yang kurang baik. Ia menjadi khawatir jika yang datang itu adalah laki-laki hidung belang.
"Tok...tok..."
Rey masih terdiam di kasurnya. Suara tv dari saluran yang ia tonton sedikit dikecilkannya agar bisa mendengar suara dari luar. Pintu itu kembali diketuk seseorang namun tidak ada suara panggilan.
Karena Rey begitu yakin bahwa suara itu dari pintu kamarnya, ia melangkah pelan menuju ke arah pintu. Dari lubang kecil yang ada persis didepannya , Rey bisa tersenyum dengan lega. Ternyata ia bisa melihat siapa yang datang dengan tiba-tiba selarut ini.
"Hadew.....ku kira siapa," bisik Rey yang tiba-tiba merasa menjadi lega.
"Kenapa juga ga manggil? Sok misterius juga nih orang," oceh Rey karena sempat dibuat ketakutan oleh ketukan pintu tanpa panggilan.
Ia segera membuka pintu dan memberikan senyum yang begitu manis pada tamunya. Namun Rey tidak berani bertanya, kenapa ia datang semalam ini? Apalagi ia tidak memberitahu Rey sebelumnya. Rey sadar, fasilitas yang ia tempati selama dua hari ini, semua dibayar oleh pria itu.
Wibie nyelong masuk begitu pintu itu terbuka. Tak ada senyum yang mengembang dari bibirnya. Sedikitpun tak ada. Apalagi mengucapkan salam atau basa-basi lainnya.
Seketika itu juga, Wibie melepaskan alas sepatunya. Membantingkan tubuhnya di atas kasur. Ia masih diam. Tak ada suara apapun yang keluar dari mulutnya. Mukanya terlihat begitu lelah hingga Rey tidak berani untuk bertanya apapun padanya.
Cukup lama Rey hanya bisa memandangi pria itu dari tempat duduknya. Di sofa panjang yang ada di depan kasur dimana Wibie merebahkan tubuhnya yang begitu lelah.
"Ada apa dengan orang ini?"
"Kenapa datang tiba-tiba dan langsung merebahkan diri bak orang yang tak bernyawa?"
Kali ini, Rey tidak setakut dulu lagi. Ia hanya tersenyum segaris setelah beberapa saat ia mendengar dengkuran lembut dari pria yang sudah banyak membantunya itu. Pria yang hingga saat ini masih begitu ia harapkan dapat membawanya pergi ke Jakarta.
"Wah, rupanya dia sudah tertidur,"
"Baiklah, berarti ini giliran ku tidur di sofa malam ini,"
Akhirnya Rey memilih merebahkan dirinya di sofa. Ia tidak mau tidur satu kasur dengan Wibie meskipun ia hanya menempati kurang dari sebagian saja dari kasur yang luas dan empuk itu.
Matanya belum bisa terpejam. Ia pandangi langit-langit kamar yang begitu putih bersih. Mungkin karena ia tidur siang cukup lama hingga jam segini ia belum bisa memejamkan matanya.
Ia ingin melanjutkan film yang ia tonton tadi tapi takut mengganggu tidur pak Wibie. Akhirnya ia milih mematikan tv dan kembali memandangi langit-langit kamar, dimana ia merebahkan diri
Rey tidak ingat, kapan ia bisa terlelap di sofa itu. Ia terbangun ketika hidungnya dipencet dengan sedikit keras oleh pak Wibie.
"Rey, bangun,"
"Kau ini. Kalau sudah tidur susah sekali dibangunkan," ocehnya pada Rey yang masih menahan kantuknya.
"Cepatlah berkemas. Pesawat kita berangkat pukul lima. Jangan sampai terlambat," ujarnya lagi.
Rey terduduk seketika itu juga. Ia begitu kaget mendengar apa yang dikatakan Wibie barusan.
"Jam lima pagi pak?" tanya Rey meyakinkan.
"Jika jam lima sore, untuk apa larut malam aku ke sini?" ucap Wibie sedikit ketus. Balik bertanya pada Rey.
Rey tidak menjawab, ia hanya tersenyum begitu hambar. Dia baru sadar jika pertanyaannya itu sangat konyol.
Rey mengucek- ucek matanya sesaat. Kantuknya masih menguasai tubuhnya. Namun karena Ia begitu kaget seketika itu juga tubuhnya menjadi segar.
Pria itu tidak pernah bilang jam berapa ia akan berangkat. Yang Rey tau, ia akan terbang ke Jakarta pada hari Minggu.
"Ah, kenapa ga bilang sebelumnya kalau mereka akan berangkat sepagi ini?"
"Masih ada waktu. Tapi jangan bermalas-malasan juga kali," sindirnya lagi. Ia menangkap sinyal Rey yang masih begitu enggan beranjak dari sofa itu.
"Buruan mandi dan berkemas," jelasnya lagi.
Rey segera bangkit dari sofa dan menuju ke kamar mandi. Ia lihat, pak Wibie memang sudah rapi. Baju yang ia kenakan sudah berbeda dengan baju yang dipakainya semalam. Aroma tubuhnya juga sudah wangi. Tercium oleh Rey saat ia menarik nafas begitu dalam.
Ia merasa tubuhnya begitu kedinginan. Semalam Ia tertidur menahan dingin karena tidak berani menarik selimut yang tertindih oleh tubuh pak Wibie.
"Ah, tapi ini dingin sekali,"
"Aku tidur sudah terlalu larut juga tanpa selimut. Tubuhku tiba- merasa begitu dingin,"
Rey mencoba memutar kran air panas, namun sepertinya tidak berfungsi dengan baik. Akhirnya ia hanya bisa menerima nasib. Mandi dengan air dingin.
Agar tidak menggigil, cukup lama Rey menetralisir tubuhnya dengan tetap menyalakan shower namun ia hanya berdiri mematung hingga rasa dingin itu pelan-pelan hilang dari tubuhnya.
Setelah rasa dingin itu enyah, Rey mulai menggosok gigi dan mencuci muka. Akhirnya ia bisa mandi dan keramas menggunakan air dingin meskipun sempat ragu tubuhnya bisa kuat menahan dingin yang lebih dulu menyerang.
Saat Rey di kamar mandi, Wibie meninggalkan kamar untuk sholat subuh. Ia akan melaksanakan sholat subuh di mushola horel.
Alasan lainnya agar Rey bisa ganti baju dan berkemas tanpa harus merasa terganggu oleh kehadirannya.
"Baiknya aku sholat di mushola saja agar dia bisa ganti baju dan bersiap-siap. Sikap malu-malunya itu kadang membuatku semakin gemes,"
"Rey, aku sholat di bawah ya. Begitu aku kembali kau harus sudah rapi," teriak Wibie dari balik pintu kamar mandi.
"Iya,"
" Ingat, kita berangkat jam 5. Jangan menghabiskan banyak waktu di kamar mandi," pekik Wibie lagi.
"Iya,"
Wibie bergegas meninggalkan kamar setelah ia mengingatkan kembali pada Rey bahwa mereka akan berangkat pukul lima.