
Sejak kejadian di rumah Rey beberapa hari yang lalu, memang Wibie belum menemui Aldy untuk menyelesaikan permasalahan mereka. Selain Aldy yang tidak merespon telpon dan pesan WA yang dikirim Wibie, Wibie juga tidak cukup banyak waktu untuk mengurus semua itu.
Pekerjaan di lapangan begitu menyita waktunya akhir-akhir ini karena setiap akhir pekan ia usahakan pulang ke Jakarta untuk menemani Rey yang sudah hamil tua.
Ia ingin Rey merasa diperhatikan dan ada yang menemani ketika tubuhnya semakin tidak nyaman untuk melakukan apapun.
Kadang Wibie menghabiskan waktunya di toko hanya untuk mengelus punggung Rey yang pegal, gatel, gerah, atau apalah sebutannya. Wibie iklas melakukan semuanya dengan sabar agar istrinya itu tetap bahagia selama mengandung buah hatinya.
Hari ini jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Ketika ingin kembali ke mess hp yang ada di sakunya bergetar. Wibie mengeluarkan hp itu dan membuka pesan yang dikirim oleh nomer yang tidak di kenal.
"Hati-hati, Pak!Jangan melintas dusun Talang sendirian?"
Cukup lama Wibie diam, namun ia tetap mengemudikan kendaraan dengan pelan menembus jalanan yang mulai gelap.
"Siapa ini? Hampir setiap hari aku melewati jalan yang sama. Bukan kali ini saja aku kembali ke mess saat hari sudah gelap. Kenapa baru kali ini ada pesan seperti ini?" tanya Wibie dalam hati.
Dalam hati kecilnya Wibie mau mengabaikan pesan itu, namun bisa jadi isi pesan itu dikirim oleh seseorang yang mengetahui rencana jahat yang direncanakan orang lain padanya. Untuk berjaga-jaga saja, Wibie meneruskan pesan itu pada temannya yang tinggal tidak jauh dari dusun yang dimaksud.
"Aku kok dapet pesen begini. Maksudnya apa ya? Sekarang aku lagi otw mess sebentar lagi melewati dusun,"
[ Pesan di terima ]
"Sepertinya ancaman, Bos! Ok saya coba jaga-jaga di sekitar sini,"
"Terimakasih," balas Wibie.
Wibie kembali fokus mengemudikan mobilnya, sesekali ia bernyanyi kecil untuk menghilangkan kesunyian. Kini ia melintasi hutan karet yang akan memasuki dusun kecil di desa Merapi.
Satu-satunya akses jalan keluar masuk pertambangan tempatnya bekerja memang melewati beberapa dusun yang masih sepi, diselingi hutan dan kebun milik warga setempat.
Jangankan malam, sore hari jalanan ini sudah sepi. Kendaraan umum hanya melintas dua kali sepanjang hari, pagi mengangkut penduduk setempat yang ingin bekerja atau sekedar berbelanja ke kota dan jam 4 sore angkutan yang sama datang lagi dengan isi penumpang hampir sama.
Jika ada kendaraan penduduk yang melintas, itu hanya kendaraan roda dua. Jumlahnya juga sangat terbatas.
Sudah lebih dari satu tahun Wibie melintas daerah ini setiap hari, ia sudah hafal kendaraan milik warga sering berpapasan dengannya.
Iklim penduduk di sini juga kurang sehat. Penduduk setempat kurang simpati pada pegawai pertambangan yang menggali perut bumi di tanah kelahiran mereka.
Rasa empati itu berawal karena pihak perusahaan tidak mau mempekerjakan penduduk lokal pada perusahaan tersebut karena SDM mereka yang tidak menunjang untuk lowongan pekerjaan yang dibutuhkan.
Akhirnya, jika ada penduduk lokal yang bisa kerja di tambang, posisinya hanya sebagai sopir atau keamanan. Jumlahnya juga tidak mencapai sepuluh orang.
Karena jalanan belum di aspal, masih berupa batu kerikil yang dicampur adukkan aspal, mau tidak mau mobil hanya bisa melaju dengan kecepatan tidak lebih dari 40 km/jam.
Sepanjang jalan juga sangat minim penerangan. Jika melintasi hutan, penerangan satu-satunya hanya dari lampu kendaraan, namun jika sudah masuk dusun sudah mulai terang. Sebagian warga sudah ada yang sadar untuk memberikan penerangan pada jalan atau di depan rumah masing-masing.
Ketika memasuki dusun Talang, dari kejauhan Wibie melihat seekor sapi yang tengah duduk di tengah jalan. Sapi itu melihat ke arah datangnya kendaraan namun ia tidak bergeming sama sekali meskipun sudah berkali-kali klakson dibunyikan tidak membuat sapi itu bergerak, bangun dan meninggalkan tempat itu.
"Perkara ini. Kalau kenapa-kenapa dengan sapi ini, bisa diamuk warga. Salah-salah ia yang dituduh menabrak sapi itu hingga tidak bisa bangun lagi," pikirnya.
Wibie menghentikan mobilnya, dengan tenang ia turun dan ingin melihat keadaan si sapi.
Namun hanya selang beberapa detik saja, terdengar teriakan seseorang yang mengarah padanya.
"Sapi pak kades mati ditabrak pegawai tambang! Sapi pak kades mati...," teriakan itu sengaja diulang-ulang hingga mengundang warga untuk datang ke TKP.
Saat itu juga, tubuh Wibie diserang seseorang dari belakang. Kepala dan kakinya ditendang secara bersama hingga tubuhnya yang belum siap jatuh mencuim bumi saat itu juga.
"Ini pelakunya. Dia yang menabrak sapi pak kades," teriak orang yang sama.
Akibatnya, penduduk yang baru saja datang ikut-ikutan menyerang Wibie. Pukulan, datang bertubi-tubi dari depan, belakang juga samping kanan dan kirinya tidak bisa terelakkan. Serangan yang bertubi-tubi itu membuat Wibie tidak mampu mengelak atau membuat pembelaan hingga akhirnya ia sudah tidak merasakan apa-apa lagi.
****
Begitu sadarkan diri, Wibie sudah berada di rumahnya sakit nomer satu di kabupaten itu, diruang perawatan kelas satu.
Leher, tangan dan kakinya sudah dipasang gift. Ia hanya mampu melihat searah, pada orang atau benda yang persis ada di depannya.
"Sudah berapa lama aku di sini?" tanya Wibie pada teman sejawatnya yang ada di ruang itu.
"Semalam. Saya bersama warga yang membawamu ke sini. Maaf, aku datang terlambat. Begitu aku menemukan mobilmu, kau sudah tidak sadarkan diri dikerumuni massa," ujarnya dengan sangat prihatin.
"Rupanya pesan itu memang dikirim orang yang benar-benar tahu rencana jahat seseorang," ujar Wibie dengan pelan.
"Sepertinya begitu. Siapa ya?" tanya temannya itu.
"Aku terpikir seseorang, cuma harus punya bukti yang kuat dulu untuk menyeretnya ke polisi,"
"Siapa, Pak?" tanya temannya itu lagi.
"Kalau memang dia, berarti ini masalah pribadi," ujar Wibie lirih.
"Pihak perusahaan minta ke saya untuk segera memberi kabar jika bapak sudah sadar. Boleh saya kasih kabar sekarang?"
"Silahkan,"
Sebentar kemudian, pak Eko yang saat itu ditugasi untuk menunggu Wibie di rumah sakit terlihat sedang berbica dengan seseorang prilhal kondisi Wibie
*****
Dalam kondisi begini, Wibie jadi bingung sendiri. Ia tidak ingin Rey menjadi khawatir atas keadaannya jika ia memberitahukan hal yang sebenarnya. Dalam kondisi tubuh yang terbalut perban ini pasti akan membuatnya histeris dan panik.
"Bisa-bisa ia lahiran sebelum waktunya karena kaget," pikir Wibie.
Ia begitu ingin menjaga hati istrinya itu agar tetap bahagia selama hamil. Wibie tidak ingin apa yang menimpa mamanya Devara akan terulang lagi pada pada rumah tangganya yang sekarang.
"Jika aku diam, dia akan berisik cari tau kabar dan keberadaanku,"
"Duh, gimana ini?" Wibie berpikir keras untuk mencari cara bagaimana agar Rey bisa percaya dengan alasan yang dia buat.
Untuk itu, ketika siuman, hal yang pertama ia lakukan adalah mencari ponselnya. Untung HP-nya pada saat kejadian ada di dalam mobil sehingga tidak hancur atau raib diamankan oleh orang lain.
Satu pesan ucapan selamat malam dan pesan suara yang dikirim oleh Rey dengan sudah payah dibaca oleh Wibie.
"Tuh, baru semalam ga kasih kabar saja berisiknya minta ampun," bisik Wibie pada dirinya sembari tersenyum.
Akhirnya ia minta bantuan pada Pak Eko agar menuliskan pesan untuk istrinya.
"Dalam beberapa hari ini aku ada di daerah yang sulit terjangkau oleh satelit. Maaf jika tidak bisa komunikasi setiap hari. Jaga kesehatan, ya. Jangan terlalu capek!"
Pesan di kirim ke Rey. Setelah itu Wibie meminta pada pak Eko agar menonaktifkan sambungan Internetnya.
"Apa dia tidak curiga, pak?" tanya Pak Eko.
"Bisa jadi dia akan curiga. Paling tidak akan aman untuk dua atau tiga hari ini. Yang penting dia tidak melihatku dalam kondisi yang seperti ini," jelas Wibie.
Pria itu hanya mampu tersenyum tipiselihat Wibie yang lebih memperhatikan kondisi istrinya pada saat kondisinya begitu memprihatinkan.
"Sungguh sikap yang luar biasa," bisik Pak Eko dalam hati dan memandang kagum pada atasannya itu.