Bukan Yang Pertama

Bukan Yang Pertama
EP. 41 Meeting


"Jangan pada tidur, ya! Kita ada meeting dengan Agus," pekik Alex yang tengah memperingatkan teman-temannya. Ia khawatir mereka sudah pada tidur karena tidak mendengar suara apapun dari kamar cewek-cewek itu.


"Ya," terdengar satu sahutan dari kamar yang di tempati oleh Rey dkk. Sedangkan kamar yang satunya sudah sepi bak kuburan.


Alex sendiri masih setia di ruang TV bersama Pandu. Lima menit yang lalu bahkan masih ada pemilik rumah ikut gabung dengan, namun karena takut kesiangan Pak Haji pamit tidur duluan.


"Udah jam 11 nih, kenapa Agus belum menghubungi kita?" tanya Alex pada Pandu.


"Dia bilang nunggu kesiapan Pak Gun dan Pak Hendra. Kalo dia mah ga masalah. Kapanpun waktunya bisa aja," sahut Pandu.


"Kok tau?"


"Pan ada di grub, bos. Ga dibaca ya?"


"Oh,aku kira ratusan notifikasi itu hanya berisi curhatan anak-anak cewek. Ga terlihat kalo ada info dari Agus,"


"Pak Gun juga kometar, kok. Dia bisanya malem,"


"Ini udah malem, bro. Bentar lagi malah udah mau ganti hari," sanggah Alex.


"Ya, begitu itu. Aku juga cuma meneruskan info dari grub"


"Setengah jam lagi ga ada kabar,kita tidur. Apaan kali? Ga profesional banget,"


Belum kelar ngedumel, tiba-tiba ada undangan bergabung yang dikirim oleh Agus berikut no password-nya. Buru-buru Alex menyiapkan laptopnya dan memanggil teman-temannya untuk segera bergabung.


"Udah ada panggilan, nih. Buruan gabung ya?" Teriak Alex lagi.


"Iya, aku udah masuk kok," sahut Rey dari kamarnya.


"Siap, gua di sini aja ya," Doni ikut menimpali.


Ketika Alex membuka laptopnya dan ikut bergabung tampil Agus, Pak Gun, Pak Hendra yang sudah siap untuk rapat. Disusul kemudian oleh Rey, Doni, Risya, dan Adel.


"Segini aja cukup ya, Pak? Yang lain udah pada tidur," Alex menjelaskan pada dosennya itu.


"Ok. Ga masalah. Yang penting udah lebih dari separo anggota," sahut Pak Hendra.


"Kita mulai ya, izin untuk menampilkan gambar," Agus yang sudah siap dengan paparannya segera memberi penjelasan pada dosen dan kakak tingkatnya itu. Ia diminta secara khusus oleh Alex untuk membuat web yang akan diperuntukkan sebagai usaha online para pemuda di kampung ini.


Semua yang ikut rapat via aplikasi zoom cloud meeting menyimak dengan serius apa yang disampaikan oleh Agus. Hanya pak Gun yang terlihat sedikit gusar dan kurang konsentrasi. Entah apa yang ada dipikiran saat itu? Namun tingkahnya itu sempat tertangkap oleh Alex.


Setelah hampir 10 menit paparan itu berlangsung, akhirnya Agus memberikan sesi tanya jawab. Yang aktif berbicara dan bertanya tentang seluk beluk web itu hanya Alex, Pak Hendra dan Pandu. Sementara Doni, Risya terlihat ngantuk dan sudah sangat ingin memejamkan matanya. Hanya Adel yang terlihat sedang mencatat sesuatu.


Meskipun Alex bisa menyimak apa yang disampaikan Agus dengan baik namun matanya tak henti-hentinya mengamati reaksi Pak Gun dan Rey. Pak Gun yang terlihat sedang menunggu sesuatu sedangkan Rey merasa tidak nyaman dalam forum rapat virtual itu.


"Ada apa dengan mereka?" tanya Alex dalam hati.


Tak lama Alex mengangguk-anggukkan kepala seolah sudah mampu mengingat sesuatu.


"Jangan-jangan mereka chating," pikir Alex yang mulai suuzon.


Sekitar 15 menit berlangsung, rapat sudah selesai. Web yang dibuat oleh Agus sudah bisa dioperasikan oleh Alex dan pemuda di sini. Agus juga bersedia membantu jika masih ada kendala saat penggunaannya.


Semua pamit. Karena waktu memang sudah larut malam, Alex dan Pandu kembali ke kamarnya. Mereka ingin segera istirahat setelah seharian ini cukup lelah melakukan kunjungan lapangan.


Alex penasaran, ia cek WA pak Gun ternyata orang itu masih online, begitu juga dengan Rey.


"Hemmmmm......dugaanku benar," gumam Alex.


Tak lama dari itu, Agus mengirim pesan WA ke Alex. Alex kira ini masih menyangkut diskusinya tadi namun kenapa Agus membicarakannya via japri. Karena penasaran ia buka pesan itu.


"Maaf, Bang gangu. Aku mau tanya. Perempuan yang rambut sebahu pake kaos biru itu Reyna ya?"


"Iya, kenapa?" jawab Alex


"Anak kelas karyawan semester 7?" tanyanya lagi


"Iya,"


"Maaf bang, ini sebenarnya pribadi banget. Tapi aku percaya Abang bisa jaga rahasia,"


"Iya, kenapa ya?"


"Kurang tau, tapi dia ada usaha konveksi. Pakaian safety gitu deh?"


"Gini Bang. Beberapa Minggu yang lalu saya dimintai tolong sama Pak Gun untuk mengacaukan bisnisnya. Intinya Pak Gun ingin memberi pelajaran pada wanita itu. Pak Gun cerita ke saya kalau Rey berusaha memeras dia. Rey sudah menjebak dia dan mengancam akan menyebar luaskan foto-foto saat dia di ruang pak Gun dan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Pak gun melakukan secara tidak sadar karena sebelahnya Rey memberi minuman padanya. Ada indikasi minuman itu sudah dikasih obat yang bisa membuat seseorang kehilangan kesadarannya,"


"Lah, terus apa hubungannya usaha Rey dan perselingkuhan mereka?"


"Pak Gun cuma mau kasih pelajaran aja biar wanita itu tidak mencari mangsa yang lain di kampus kita karena sumber utamanya bisnis online itu,"


"Oh....terus apa yang sudah kamu lakukan sama Rey?"


"Saya dan teman-teman sudah hacker beberapa toko onlinenya sehingga ratingnya turun. Dengan begitu tingkat kepercayaan konsumen akan berkurang. Saya liat sih tokonya sudah tidak aktif lagi sejak saat itu. Dalam keterangan "Libur", gitu Bang. Saya kasih tau Abang supaya teman-teman cowok di sana lebih hati-hati, terutama Bang Alex. Jika ia tahu kalau Abang anak pemilik kampus, bisa jadi korban dia berikutnya," Agus mencoba mengingatkan Alex.


"Iya, terimakasih atas infonya ya,"


"Sama-sama, Bang,"


Pembicaraan itupun berakhir. Dada Alex begitu bergemuruh, mungkin jika kamar itu dalam keadaan terang, Pandu dan Doni bisa melihatnya wajahnya yang merah menahan amarahnya. Namun mereka berdua hanya mendengar gigi Alex yang mulai bergemelatak. Memarah itu sudah sampai ke ubun-ubunnya.


"Sialan,"


"Aku tidak mengira dia sejahat itu. Bedebah sekali," umpatnya dalam hati.


"Kenapa, Lex?" tanya Pandu yang mendengar suara gigi itu.


"Enggak,"


"Sepertinya sedang emosi?"


"Begitulah,"


"Sama teman-teman di sini?"


"Enggak. Ini urusan pribadi,"


"Oh, tidurlah. Jangan larut dengan emosi. Besok kita ada pekerjaan yang menguras energi,"


"Iya, terimakasih sudah diingatkan,"


"Aku ga mau capek kalau kau sakit,"


"Ah....sial juga lo, Bang. Ku kira memang simpati,"


"Ha..ha..... sudahlah. Ayo kita tidur,"


"Iya,"


Alex mematikan Hp dan memasang kabel charger agar batrenya yang tinggal 10 persen itu besok pagi sudah terisi penuh. Ia memang sesalu begitu, sebelum berangkat tidur selalu ngecas hp dan laptopnya.


"Ngecas ini dulu biar besok ga repot,"


"Rajin banget," sahut Pandu yang sudah mulai memejamkan mata.


"Habis cuma bisa ngecas ini, Bang. Mau ngecas yang lain belum ada barangnya,"


"Wkkkkk. Parah lo, Lex. Otak lu kadang bengkok juga,"


Alex tidak menjawab, ia berbaring di sisi Pandu dan mulai merenggangkan tubuhnya. Sementara Doni yang tidur di bawah sudah mendengkur, suaranya sudah mirip kereta lokomotif saking berisiknya.


*******


Happy reading all! Jangan lupa tinggalkan


✓ LIKE


✓ KOMENTAR


✓ VOTE -nya ya🙏🙏🙏


Apresiasi dari kalian semua membuat saya semakin bersemangat untuk update. terimakasih.


Kunjungi juga novelku yang lainnya ya, yang berjudul I am Feeling Blue dan Temani Aku, Ken! Barangkali kalian berkenan. Terimakasih!!!