
"Kita buka puasa dulu, ya. Baru jalan. Tanggung nih, bentar lagi udah magrib kalau berhenti di jalan belum tentu ketemu rumah makan dan mushola," kata Wibie begitu mereka sudah sampai di Lubuk Linggau dan sudah bertemu dengan Ayah dan Doni yang menjemput mereka menggunakan mobil baru pemberian Wibie.
"Iya, bentar lagi adzan. Baiknya kita tunggu di sini," sahut Ayah.
"Kakek puasa, gak?" tanya Nathan begitu polosnya. Meskipun mereka jarang ketemu tapi anak ini cepat akrab dengan siapapun yang baru di kenalnya.
"Puasa, dong. Masa Kakek kalah sama Nathan," sahut Kakek dengan bangga.
"Nathan puasa potong-potong. Kata mama belajar dulu nanti kalau sudah kayak kakak baru boleh puasa penuh,"
"Betul, sayang. Nathan belajar puasanya potong-potong dulu," Ayah mengikuti istilah anak itu yang menyebut puasa setengah hari dengan puasa potong-potong.
Sekitar 45 menit mereka buka puasa dan sholat magrib di restoran yang tidak jauh dari bandara. Setelah itu mereka mereka melanjutkan perjalanan. Wibie yang mengambil kemudi.
Nathan dan Devara sangat senang, ini pengalaman pertama mereka ikut mudik lebaran. Mereka tak henti-hentinya bertanya tentang banyak pada kedua orangtuanya.
"Kenapa jalan rayanya kok gelap?, Kenapa banyak pohon di pinggir jalan? Kenapa kok rumahnya jauh jauh?"
Pertanyaan-pertanyaan itu terlontar dari mulut polos anak-anak itu. Dengan sabar kakek yang duduk di bangku tengah dengan kedua cucunya menjawab semua pertanyaan itu.
Sementara Doni yang duduk di bangku paling belakang sesekali ikut menimpali obrolan kakek dan cucunya itu.
"Om ganteng bobok aja, aku mau main sama Kakek," protes Nathan yang tidak terima karena obrolan antar cucu dan kakek itu di ganggu oleh keisengan Doni.
"Iya, deh. Om tidur aja kalo gitu," sahut Doni pasrah karena keponakannya itu lebih memilih ngobrol sama Kakek di banding dengan dirinya.
"Ha..ha.....," Wibie dan Rey hanya tertawa mendengar ucapan Doni.
*****
[Pagi hari di rumah Kakek]
Namanya juga di kampung, jika ada orang yang merantau ke luar kota akan dibilang sukses jika pulang bisa punya mobil dan penampilan yang serba wah.
Rey tidak demikian, meski ia mampu untuk tampil serba mewah dan berhias emas permata namun ia tetap saja seperti Rey empat tahun yang lalu. Sederhana, cantik dan sopan pada siapapun. Terutama pada orang yang lebih tua.
Tetangga di sekitar rumahnya tahu jika Rey sudah berhasil meraih gelar sarjana dan tinggal menunggu wisuda. Tentu saja cerita itu mereka dapat dari sang ibu yang gemar pamer kemewahan pada sang tetangga.
Mereka juga tahu jika Rey punya usaha konveksi yang besar dan punya karyawan yang banyak. Rey yang awalnya sebagai karyawan di perusahaan, kini sudah menjadi direktur utama. Ibu selalu cerita jika putrinya itu hidup mewah di Jakarta. Punya rumah yang besar dan mobilnya mewah-mewah keluaran luar negeri.
Para tetangga percaya saja akan cerita itu apalagi mereka bisa melihat perubahan ekonomi yang begitu drastis pada keluarga pak Rohman. Bahkan mereka baru saja di beri mobil baru oleh menantu kesayangan mereka, mobil mahal yang konon harganya hampir 500 jutaan.
Tidak salah jika orang-orang di sekitar mereka jadi ramah dan menaruh hormat pada Rey. Berbondong-bondong mereka datang meskipun hanya untuk menanyakan kabar Rey dan anak-anaknya.
"Kamu sekarang sukses, Rey. Tidak rugi meninggalkan kampung jika bisa berhasil seperti sekarang ini," ujar .....tetangga sebelah rumah mereka.
Ia menghampiri Rey yang tengah bermain bersama kedua anaknya di halaman depan rumah sembari menghirup udara pagi.
"Alhamdulillah, Bu. Terimakasih. Semuanya rezeki dari Allah SWT," jawab Rey berusaha bijak.
"Masuk Bu," ajak Rey yang melihat tetangganya itu masih berdiri d iuar pagar.
"Terimakasih," perempuan itu membuka pintu pagar dan duduk di teras, persis di samping Rey.
"Anakmu ganteng banget. Kalo yang ini pasti anak tirimu, ya?"
"Deg...," jantung Rey berdegup seketika itu juga. Ia tidak mengira akan mendapatkan pertanyaan seperti ini. Buru-buru ia melihat ekpresi Devara untuk memastikan apa dia mendengar percakapan mereka. Rey bisa bernafas lega, sepertinya Devara tidak mendengar pertanyaan tatangganya itu. Ia begitu asik menginjak rumput Jepang yang tumbuh subur di halaman rumah itu dengan kaki telanjangnya.
"Mohon maaf Bu, sebaiknya jangan bertanya seperti itu di depan anak-anak. Bagi saya, mereka semua anak-anakku," sahut Rey dengan nada yang lembut. Ia tidak mau Devara jadi sedih karena ini.
"Maaf, ibu salah bicara ya? Soalnya dia sudah besar tidak mungkin jika ia anak kandungmu?"
"Aduh, Bu. Kenapa kok di pertegas lagi. Ini orang lugu atau sengaja cari masalah, sih?" Pikir Rey mulai terpancing emosinya.
Rey mengapit lengan tetangga itu menuju ke ruang laundry agar apa yang mereka bicarakan tidak terdengar oleh anak-anak. Wibie yang baru muncul dari samping rumah bersama ayah jika ikut mendekati tetangganya itu.
"Eh, Bu.... Mau laudry, ya?" tanya Ayah begitu ramah.
"Engga, Pak. Tadi liat anak-anak Rey lagi main di depan jadi pengen kenal. Anaknya ganteng banget, yang cewek juga tak kalah cantiknya sama Rey,"
"Iya, mereka lagi main. Baru tau kalau pagi-pagi begini rumput bisa berembun, jadi penasaran," sahut Ayah.
Wibie segera menghampiri perempuan itu dan mengulurkan tangannya. Dengan senyum yang begitu ramah ia mencoba basa-basi pada tetangga mertuanya itu.
"Apa kabar Bu?"
"Baik, Nak. Terakhir lihat kamu ketika berantem saya koh Aldy sore-sore di depan rumah ini. Udah lama banget, ya?"
"Deg," Rey kembali dikagetkan oleh pernyataan ibu itu.
"Kapan Mas Wibie berantem dengan Aldy di rumah orang tuanya? Kenapa ia tidak pernah tahu masalah itu?" Pikirnya dalam hati.
"He..he....iya, Bu. Sudah lama sekali. Karena sibuk di tempat kerja yang baru, Rey juga harus kuliah dan kerja jadi baru bisa pulang sekarang," Wibie memberi alasan.
"Ah, bisa aja. Kalo lebaran kan pasti libur ya, ga?" Todong perempuan itu lagi. Ia mengarahkan pandangannya pada Pak Rahman.
"Iya, tapi Rey punya anak kecil. Belum kuat jalan jauh," ayah berusaha membela putri dan menantu.
"Iya, Bu. Mereka sudah besar. Insyaallah kita bisa pulang sesering mungkin,"
"Gitu, namanya juga masih punya orang tua. Kudu rajin-rajin di tengok," nasehatnya lagi.
"Iya, Bu. Terimakasih sudah diingatkan,"
"Ngomong-ngomong oleh-oleh dari Jakarta mana nih?"
"Oh, sepertinya belum dibongkar sama ibu. Ibu lagi belanja sama sama Doni. Tunggu sebentar, Bu. Saya minta Kak Nay bongkar dulu, ya!" Rey ingin beranjak dari tempat duduknya, namun perempuan itu mencegahnya.
"Ga usah. Nanti aja nunggu ibumu pulang. Bisa marah ibumu kalau kau tidak izin padanya,"
"Ah, ibu. Bisa aja,"
"Oh, iya. Kakakmu cariin jodoh tuh. Kasian. Masa adeknya udah punya dua anak, ia masih belum laku juga,"
"Waduh, nih orang kok makin ngeselin banget omongannya. Dikira Kak Nah itu dagangan apa? Di bilang belum laku!" gumam Rey makin kesal.
"Iya, Bu. Kita juga memikirkannya, kok,"
"Oh, ya Bu. Hesty gimana kabarnya?" tanya Rey mencoba mengalihkan pembicaraan.
" Dia kerja di Karawang. Sudah dua tahun di sana ikut teman sekelasnya yang sudah lebih dulu kerja di pabrik sepatu,"
"Lebaran pulang, ga?"
"Belum ada kabar. Sejak merantau, lebaran tidak pernah pulang. Dia milih di rumah neneknya di Serang yang lebih deket. Kerja di pabrik, Rey. Berapa gajinya? Kalo lebaran pulang ongkosnya dua kali lipat, sayang duitnya,"
"Iya, Bu. Biar gajinya kecil yang penting halal. Nanti juga kalau sudah lama kerja kan bisa nambah penghasilannya," Rey coba menghibur.
"Namanya buruh pabrik ya begitu- begitu aja. Mau naik dari mana? Palingan juga ngikut standar gaji UMR, kalo mau tambahan ya harus rajin-rajin lembur,"
"Iya, yang sabar aja. Siapa tau nanti dapat kerjaan yang lebih bangus,"
Mungkin karena merasa tidak nyaman saat membicarakan tentang keberadaan anaknya, perempuan itu segera pamit. Ia buru-buru meninggalkan Rey dan suaminya dengan alasan sedang masak.
"Oh, iya. Ibu lupa kalau lagi ngerebus ketupat. Takut kering airnya. Ibu pamit dulu ya,mampir ke rumah,"
Wibie mendekati istrinya, dengan lembut ia menepuk bahu perempuan yang begitu di cintainya itu.
"Kamu akan mendapatkan pertanyaan yang sama dari orang-orang di sini, juga teman-teman sekolahmu. Jangan emosi. Hadapi dengan senyuman. Jangan ikut terpancing," Wibie coba mengingatkan istrinya yang terlihat begitu kesal dengan tetangganya tadi.
"Iya, mas,"
"Kamu menikah dengan siapapun dan dengan kondisi ekonomi seperti apapun pasti akan menimbulkan pertanyaan menyelidik, kok. Jangan terlalu dipusingkan. Penasaran itu sudah jadi watak mereka yang penting bahagia itu milik kita,"
"Iya, Terimakasih,"
"Senyum. Jangan jutek begitu," pinta Wibie.
"Iya," sahut Rey lagi.
"Kamu ga bikin ketupat, sayang?"
"Udah di rebus, ibu juga lagi belanja beli daging buat rendang dan teman-temannya,"
"Ayah sudah nangkep ayamnya, tuh. Katanya mau dipotong bakal opor,"
"Iya, seriap lebaran ibu memang bikin opor ayam kampung buat teman makan ketupat,"
"Enak, jadi ga sabar nunggu beduk,"
"Dih, kenapa jadi cengeng begitu. Ini hari terakhir. Akan berasa berat karena aroma masakan bentar lagi akan menggangu penciuman,"
"Iya, jangan lupa pesan pempek yang banyak ya buat besok sekalian,"
"Sudah, Mas. Sudah beres sama ibu. Semua permintaan menantu tersayang sudah masuk daftar list belanjaan,"
"Masa sih? Apa iya aku jadi mantu kesayangan?" tanya Wibie pura-pura tidak sadar diri.
"Iya, lah. Kan mantu di rumah ini cuma satu,"
"Hemmm .... kirain," gumam Wibie cemberut.
Rey tersenyum melihat tingkah suaminya yang mendadak manja di rumahnya. Memang harus diakui, ia jadi orang yang diperhatikan oleh ibu. Semua makanan kesukaannya sudah masuk daftar menu mereka selama di sini. "Dasar, ibu masih aja matre," gumam Rey dalam hati.
*****
Hay semuanya, maafkan diriku yang tidak sanggup update lebih dari satu bab, minggu-minggu ini . Demi kesetiaanku pada kalian semua, aku sempat-sempatin nulis walau cuma satu Chapter agar target untuk menyelesaikan novel ini di bulan Juni dapat terealisasi.
Mohon maaf, ya!
Ojo lali!
VOTE, like, dan spam komentar dari kalian tetap jadi semangat untukku.