
Pagi sekali, ibu sudah siap berangkat ke pasar. Cukup aneh, memang. Padahal stok deterjen dan pewangi untuk laundry masih cukup untuk beberapa hari ke depan. Begitu juga stok sayur dan lauk pauk di kulkas juga masih ada. Cukup untuk dua hari ke depan.
Niat ibu kali ini memang bukan untuk belanja. Ia hanya ingin mengunjungi Aldy, calon mantu kebanggaannya dan memastikan keberadaan Rey, putrinya.
"Semalam ia tidak pulang. Aku sampai berbohong pada suamiku prihal ini. Mungkinkan Aldy menahan Rey untuk menginap di tokonya? Jika memang begitu. Ini suatu perkembangan yang sangat baik. Sebentar lagi mereka akan menikah. Jadi tak apa jika mereka semakin intim," pikir ibu dengan sumringah.
Ibu menyalakan gas motornya, meninggalkan rumah diikuti pandangan Ayah yang sedang berolahraga ringan dan menghirup udara pagi.
Setelah mengantar Doni ke sekolah, ibu langsung tancap gas ke toko harapan. Ia begitu ingin tau reaksi dari calon mantunya itu dan bagaimana ia bisa membujuk Rey hingga mau bermalam dengannya.
Sepanjang perjalanan ibu senyum-senyum sendiri. Hatinya teramat gembira, sebentar lagi impiannya untuk mendapatkan menantu yang kaya raya akan menjadi nyata.
"Terimakasih,Rey. Kali ini kau benar-benar sudah menjadi anak yang baik," bisik ibu dalam hati.
Sampai di depan toko, ibu mendapati suasana toko yang begitu ramai. Banyak pembeli yang memadati toko itu. Dari tempat ia memarkirkan motornya, ibu bisa melihat Aldy dan pegawai lainnya yang begitu sibuk hingga tidak ada menyadari keberadaannya di depan toko hingga beberapa lama.
"Kenapa Rey tidak terlihat? Apa mungkin anak itu ada di atas? Kenapa ia tidak membantu calon suaminya yang begitu sibuk pagi-pagi begini? Apa mungkin anak itu masih tidur? Kebiasaan buruknya setelah tidak sekolah lagi," pikir ibu dengan keras.
Satu persatu pembeli yang yang sudah mendapatkan barang yang dibutuhkan meninggalkan toko itu. Namun belum legang, sudah masuk pembeli yang lain.
Ibu tau jika toko ini sangat ramai di waktu pagi, namun ibu baru melihat langsung suasana kerja Aldy di pagi ini. Biasanya jika mau belanja, ibu datang sekitar pukul sepuluh. Suasana toko sudah cukup legang.
Ada keraguan dihati perempuan separuh baya itu untuk masuk ke toko. Selain calon mantunya masih begitu sibuk, ia juga tidak melihat putrinya di sekitar ruangan itu. Diurungkan niat untuk berkunjung pagi ini. Sore ia berencana akan kembali lagi.
Setelah mempertimbangkan beberapa hal tersebut, perempuan itu membalikkan tubuhnya dan melangkah ke arah parkiran motornya.
Dalam waktu yang bersamaan, seorang pria keluar dari dalam toko dengan jinjingan di kedua tangannya. Kantong plastik hitam ukuran yang paling besar penuh dengan barang belanjaan. Pria itu mengantar barang milik pembeli menuju motor yang terparkir di sebelah motor ibu.
Seketika Bu Laura menarik lengan pria itu begitu ia selesai mengantar barang si empunya. Ibu menarik pegawai Aldy agar kehadiran tidak terlihat dari arah toko harapan. Pria itu hanya diam dan mengikuti arah wanita yang menarik lengannya.
"Ada apa Bu?" Tanyanya dengan tenang pada wanita yang masih memegang lengannya. Ya, dia mengenal baik perempuan ini sebagai ibu dari kekasih bosnya.
"Aku tidak melihat Rey di toko. Kau tau di dimana?"
"Sejak datang aku belum melihat Rey. Koh Aldy hanya sendiri sejak pagi,"
"Kamu yakin kalau Rey tidak ada di atas?" Tanya perempuan itu semakin penasaran.
"Iya Bu. Saya datang lebih dulu dari Koh Aldy. Saat buka toko tidak ada siapa-siapa. Hanya kami berdua. Yang lain memang datang lebih telat karena semalam kami lembur. Barang dari agen datang setelah isya," jelasnya begitu terperinci.
"Apa semalam Rey juga ikut membantu kalian?"
"Rey semalam di sini, kan?" Tanya perempuan itu lagi.
"Tidak Bu. Sejak siang Rey sudah pulang dan tidak kembali lagi hingga kami selesai memindahkan barang-barang ke gudang pukul sebelas,"
Ibu semakin panik. Namun ia tidak ingin kegusaran hatinya terbaca oleh pria itu.
"Baiklah. Terimakasih. Tolong jangan cerita ke Aldy tentang apa yang kita bicarakan ini. Nanti sore ibu akan menemui Aldy jika toko sudah mulai senggang,"
"Tolong ya," ulangnya lagi
Pria itu hanya tersenyum. Ia tahu bahwa ada sesuatu yang disembunyikannya dan ia tidak ingin Bosnya tau.
"Baik Bu. Amanlah," jawabnya dengan nada yang tegas dan begitu sopan.
"Saya izin masuk dulu ya. Masih banyak pembeli yang mau dilayani,"
Tanpa menunggu jawaban dari Bu Laura. Pria itu menundukkan kepalanya dan mengayunkan langkah nya menuju toko harapan tempatnya bekerja.
********
Sesampai dirumah ibu membuat kaget penghuninya. Sampai-sampai bapak mengayun kursi rodanya menghampiri ibu.
"Nay, cepat kau hubungi teman Rey yang ada di daftar kontak hpnya. Apa Rey menginap di rumah mereka," teriak ibu sembari menyerahkan hp yang ada ditangannya ke putri pertamanya itu.
Nay segera melalukan apa yang diperintahkan ibu. Ia membuka hp milik Rey dan mulai menanyakan keberadaan adiknya pada teman-temannya. Dari sekian orang yang telah dihubungi, tak ada satupun yang mengetahui keberadaan Rey. Ibu yang belum beranjak dari tempat itu semakin murka
"Ada apa Bu. Ada apa dengan Rey?" Tanya Ayah dengan terbata-bata.
"Reyna kabur, yah. Entah dimana anak yang tidak tau diuntung itu?"
"Apa semalam dia tidak pulang?" tanya Ayah lagi. Ayah semakin bingung. Semalam ia tidur lebih awal karena pengaruh obat. Ia memang tau jika Rey belum pulang, namun istrinya bilang Rey ada acaranya dengan teman-temannya. Kemungkinan menginap di rumah Rina.
Ibu tidak menjawab. Ia menjatuhkan tubuhnya di kursi dan tidak henti-hentinya mengeluarkan sumpah serapah pada Rey. Meski ayah sudah berkali-kali menenangkan perempuan itu dengan mengusap-usap pundaknya, namun tidak menyebabkan itu tenang. Ia tetap menangis dan sesekali mengupat.
"Tega sekali anak itu padaku. Kenapa ia begitu menyusahkanku?" Oceh ibu masih dengan nada yang keras dan Isak tangisnya.
"Sudahlah Bu. Tenang dulu. Siapa tau Rey memang menginap di rumah temannya yang belum kita kenal. Mudah-mudahan anak itu segera kembali" bujuk ayah. Meski ia panik namun ia tidak mau menambah kegusaran hati istrinya.
Ibu hanya diam. Ia tetap menyesalkan prilaku Rey yang sangat melukainya. Ia yakin anak itu kabur dari rumah dan tidak akan kembali karena Rey selalu pamit padanya jika mau nginap atau main ke rumah temannya. Kali ini ibu yakin. Rey pasti pergi ke suatu tempat yang tidak ingin dia ketahui.