Bukan Yang Pertama

Bukan Yang Pertama
Cinta Yang Sempurna


Selesai mandi, Rey mengobrak-abrik isi lemari. Ia mencoba beberapa baju, namun belum ada yang dirasa cukup bagus dan pas.


Dia memadu satu persatu blus yang ia punya sampai ketemu setelan yang cocok menurutnya.


Blus merah muda kombinasi bunga abu-abu dipadu dengan Jean warna kaki. Baju terbaik yang dimilikinya saat ini.


Rey jarang sekali membeli pakaian untuk dirinya sendiri, ia lebih suka menyimpan uang hasil kerjanya untuk kepentingan kuliah kebutuhanen mendesak lainnya.


Usai mengenakan pakaiannya, ia berputar-putar di depan cermin. Rambutnya ia biarkan terurai. Rey memang lebih pede membiarkan mahkotanya yang itu teurai daripada menguncirnya.


"Cantik," bisiknya pada diri sendiri


“Rey!” Wibie memanggil dari bawah. Di luar toko.


Rey pun bergegas turun sembari menyambar tas selempang yang menggantung di belakang pintu, menemui Wibie yang sudah menunggunya sejak tadi.


Tidak lupa ia mematikan lampu ruang dan mengunci kembali pintu toko bagian belakang. Pintu yang menghadap teras rumah utama.


Dengan wajah semeringah Rey beranjak ke ruang keluarga. Devara dan Bu Fat sedang duduk di depan TV menonton acara master chef.


Rey heran melihat penampilan Devara masih mengenakan piyamanya dan bertanya kenapa belum siap-siap


“Devara kok belum ganti baju. Ayo kakak bantu, buruan yuk!”


“Aku mau di rumah aja. Mau mewarnai Upin sama Ipin” katanya.


Begitu juga dengan Bu Fat. Wanita itu segera memberi respons agar kami segera pergi. Kemudian beranjak menuju ke arah kami.


"Devara biar di rumah. Biar kalian leluasa menyelesaikan urusan baju" ujar wanita itu dengan senyum yang ramah.


"Seharian Devara tidak tidur siang, sebentar lagi juga tidur. Berangkatlah," tambahnya lagi.


“Saya pamit, Bu.” Rey memberi salam kemudian menghampiri Devara. Mencubit pipi gadis itu dan pamit padanya.


Devara membalasnya dengan malas, ia masih konsentrasi penuh dengan pekerjaannya. Mewarnai tokoh kartun dari negeri Jiran itu.


Kemudian ia langsung menyusul Wibie yang masih menunggunya di depan.


Dalam hati Rey sadar, Bu Fat sengaja memberi kesempatan mereka jalan berdua. Karena selama ini, ketika keluar rumah Devara selalu ikut serta. Selain alasan Devara yang tidak tidur siang tentunya.


***


Bulan di atas sana, sempurna indahnya. Menggantung, menggelayut di antara ribuan gemerlap bintang. Seperti malam kemarin, keindahan alam semesta itu membuat Rey terpesona.


Dia mendesah pelan, memejamkan mata sejenak sembari menghirup udara malam. Dingin dan sejuk.


Terakhir kali ia keluar malam bersama Aldy. Malam yang menjadi penyebab ia bisa menginjakkan kakinya di Jakarta. Malam yang menjadi awal kegarangan Aldy pada dirinya.


Ingat akan kenangan itu, Rey menggigit ujung bibir atasnya yang tipis. Lagi, ia mendesah.


"Kok diem aja?" Tanya Wibie. Sejak ia meninggalkan pintu gerbang itu, belum mendengar suara Rey sama sekali.


“Dingin, ya?" Wibie membuka suara. Rey mengangguk tanpa kata.


“Harus pakai jaket. Bajumu terlalu tipis untuk menahan hembusan angin malam ini,"


“Nggak apa-apa. Kan, bisa meluk, kamu,” kata Rey malu-malu. Disusul tawa geli oleh Wibie.


“Ngomong doang. No action, ah”


Rey tergelak pelan. Dia memang tidak benar-benar ingin melakukan apa yang ia ucapkan.


“Malah ketawa,” kata Wibie lagi.


“Gimana, dong?” Rey mengangkat wajah dan mencondongkannya ke depan.


“Action!” kata Wibie.


“Dih! Apaan, sih? Balas dendam.” Rey menarik wajahnya, menyusup di belakang kepala Wibie. Malu.


“Rapatkan dudukmu”


“Nggak, ah. Malu”


Kini, giliran Wibie yang tergelak pelan.


Hening....


Wibie menatap lurus ke depan, sesekali melihat ke sisi kiri dan kanan. Mereka sudah memasuki wilayah Rawamangun.


Jalan di sini tidak terlalu ramai. Hanya sekali dua kali berpapasan dengan motor dan kendaraan lainnya.


Sepoi angin semakin kencang menerpa wajah, saat dengan sengaja Wibie naikkan laju kendaraan. Ia tak cukup sabar untuk segera sampai. Ia khawatir toko yang ia datangi akan tutup.


Karena merasa semakin dingin, Rey sedikit menggeser tubuhnya. Mendekati punggung Wibie, kedua tangannya memegang ujung jaket pria itu.


"Pelan-pelan aja,” bisik Rey.


Wibie mengangguk, ia mengurangi laju motornya ke angka 40.


“Sebentar lagi sampai.” Wibie berkomentar.


Wibie membelokkan motornya ke sebuah toko yang cukup besar di pinggir jalan raya.


Rumah Pengantin & Bridal, tertulis dengan huruf yang besar pada papan nama yang dipajang di depan toko itu


Setelah mematikan mesin motornya, Wibie mengandeng masuk Rey dan berjalan beriringan. Rey yang belum pernah diperlakukan seperti itu oleh lawan jenis, menjadi tersipu malu.


Pintu kaca di buka, ruangan begitu sepi. Hanya ada suara tv yang terpampang di sudut Diding ruang itu.


Kehadiran mereka disambut ramah oleh perempuan yang mengenakan tunik putih berpatu legging hitam berwarna gelap. Dengan ramah wanita itu mempersilahkan kedua tamunya duduk di sofa yang panjang itu.


"Ada yang bisa saya bantu," tanyanya dengan ramah.


"Tolong dibantu. Calon istri saya mau cari kebaya untuk akad nikah minggu depan," ujar Wibie


" Wah, calon mempelai perempuannya cantik sekali. Kalo begini mah gampang, pake model apapun pasti cocok," puji wanita itu.


Rey hanya tersenyum, sementara Wibie memegang lengan gadis itu dan menepuknya dengan pelan. Berulang-ulang.


"Untuk koleksi kebaya ada di lantai atas. Ayo kita kesana. Bisa pilih-pilih dulu dan langsung di coba,"


Perempuan yang berusia sekitar 40 tahun itu bangkit dari tempat duduknya dan menuju ke arah anak tangga. Rey dan Wibie mengikutinya di belakang.


"Nah, ini. Silangkan dipilih dulu. Untuk mbaknya sepertinya ukuran S. Barisan yang ini" perempuan itu menunjuk pada sederet model kebaya yang berukuran S.


Wibie menghempaskan kembali pantatnya di sofa berwana hitam. Kali ini ia melepaskan pandangannya pada Rey yang sedang memilih pakaian. Tak lama, Rey menunjukan tiga model kebaya padanya.


"Yang ini terlalu terbuka. Coba yang dua ini saja," Wibie memberikan masukan karena Rey minta pendapat padanya.


Tidak butuh waktu yang lama, begitu keluar Rey sudah mengenakan kebaya model yang pertama


"Tuh kan, apa ibu bilang. Dasarnya sudah cakep. Pake apa saja mah cocok," puji Lilik toko itu


Rey hanya tersenyum. Ia semakin malu karena Wibie menatap lekat ke arahnya.


"Aku coba yang satunyaahi. Tunggu ya," Rey segera menghilangkan di balik ruang ganti. Tak lama sudah keluar dengan model yang kedua.


Kedua kebaya itu cantik dan sangat cocok dikenakan Rey. Namun mereka sepakat memilih model yang pertama, kebaya putih tulang.


Kini Rey memilih padanan kainnya. Setelah memilah-milah tumpukan kain, Rey menjatuhkan pilihan pada kain songket berwarna merah.


Usai melakukan transaksi, mereka pamit dan menuruni anak tangga menuju ke bawah.


***


Wibie menyalakan mesin motornya. Memutar balik kendaraannya menuju jalan raya. Disusul Rey yang duduk manis di belakangnya.


"Kita jalan dulu ya, aku ingin menikmati malam ini bersamamu," ajak Wibie ketika sudah berada di jalan raya kembali. Namun arah yang diambil berlawanan dengan arah mereka ketika datang ke toko ini.


"Apa Devara tidak mencarimu?" tanya Rey. Dia khawatir anak itu akan menunggu mereka pulang.


"Bu Fat bilang dia sudah tidur," jawab Wibie singkat


"Kalau sudah tidur, Devara jarang terjaga hingga pagi. Kecuali jika ingin buang air kecil. Dia pasti membangunkanku," jelas Wibie lagi.


"Kita mau kemana?" tanya Rey


"Aku lapar. Kita makan dulu,yah?"


Wibie menambah gas motornya. Kali ini ia melaju dengan kecepatan hingga 60 di jalan raya yang mulai sepi.


Rey merapatkan tubuhnya yang mulai berasa dingin ke punggung pria itu. Tangannya kembali memegang ujung jaket yang dikenakan Wibie.


******


Menuju ke arah pasar Senen, Wibie membelokkan arah motornya. Melewati RS. Islam Jakarta menuju komplek perumahan elit.


" Sebelah kanan bukannya menuju ke arah rumah, Tente?" tanya Rey. Ia mengingat dengan baik, jalan ini pernah ia lewati ketika Wibie membawanya dari Kemayoran menuju ke rumahnya.


"Iya. Betul sekali," jawab Wibie


"Tapi hari ini kita ga usah ke sana dulu ya, nanti saja sekalian mengundangnya," tambahnya lagi


"Iya. Aku cuma memastikan saja. Berati ingatanku masih cukup baik," balas Rey


Ternyata yang disebut RUMAH PUTIH itu suatu rumah makan yang tempatnya memang tersembunyi di antara warga komplek.


Dari luar tidak telihat jika itu sebuah resto, tampilannya seperti rumah pada umumnya namun lebih dominan dengan nuansa putih ini.


Ketika kami memasuki ruang itu pengunjung lumayan rame, outdoor maupun indoor. Banyak customer yang sedang menikmati makanan. Outdoornya nyaman, since it feels like home.


Suasananya memang menjadi nilai penting di tempat ini terutama untuk ngobrol santai dengan teman atau pasangan. Para pengunjung juga dimanjakan dengan live musik yang membawakan lagu-lagu pesanan pengunjungnya.


Pak Wibie pesan nasi goreng merah dan Air jeruk hangat. Rey sendiri hanya es kacang merah. Ia masih kenyang, jadi hanya menemani Wibie menikmati santapannya.


"Aku boleh nyanyi, ga?" tanya Rey pada Wibie yang sedang menunggu pesanannya.


"Hemm. Ga bisa lihat panggug. Gatel pengen naik," jawab Wibie.


"Satu lagu aja, boleh kan" Rey membujuk lagi dengan mengedip-ngedipkan mata dan alis matanya yang turun naik.


"Terserah saja. Jika kau suka, silahkan,"


Aaahh meski itu bukan suatu bentuk perizinan yang bagus namun Rey tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia segera menuju panggung dan siap beraksi.


Tak lama ia sudah menegang micropon dan diiringi musik yang dimainkan oleh sekolompok pemain yang sejak tadi sudah menunjukkan aksi panggungnya. Suara merdunya terdengar seketika


Jujur saja 'ku tak mampu


Hilangkan wajahmu di hatiku


Meski malam mengganggu


Hilangkan senyummu di mataku


Kusadari aku cinta padamu


Meski 'ku bukan yang pertama di hatimu


Tapi cintaku terbaik untukmu


Meski 'ku bukan bintang di langit


Tapi cintaku yang terbaik


Jujur saja 'ku tak mampu


'Tuk pergi menjauh darimu


Meski hatiku ragu


Kau tak di sampingku setiap waktu


Kusadari aku cinta padamu


Meski 'ku bukan yang pertama di hatimu


Tapi cintaku terbaik untukmu


Meski 'ku bukan bintang di langit


Tapi cintaku yang terbaik


O-o-oh


Meski 'ku bukan yang pertama di hatimu


Tapi cintaku terbaik untukmu


Meski 'ku bukan bintang di langit


Tapi cintaku yang terbaik


Wibie yang melihat kelakuan Rey itu senyum-senyum sendiri. Isi kepala gadis itu memang susah di tebak.