Bukan Yang Pertama

Bukan Yang Pertama
EP. 32 Mandi Bareng


Benar saja, kegaduhan terjadi saat waktunya mandi. Sore itu, mereka sudah membuat jadwal untuk bertemu dengan kelompok pemuda yang ada di desa setempat guna memperkenalkan diri dan menyampaikan program kerja mereka di bidang SDM.


"Satu orang tidak boleh lebih dari 5 menit, buruan!" Rara mengingatkan temannya yang sudah lebih dulu masuk ke kamar mandi.


"Lima menit bisa ngapain, gosok giginya aja udah 3 menit,"


"Gosok gigi di luar aja," teriak yang lain menyahuti.


"Duh, ini cewek pada gaduh banget. Kenapa ga ada yang mau ngalah. Mandi ke belakang aja kenapa?" Pandu yang masih mengenakan celana pendek dan kaos oblong dengan peralatan mandi di tangannya masuk ruangan. Ia dan Dion baru saja mandi di kali.


"Jam segini masih sepi. Alex masih di sana. Ngumpet di balik batu dia. Mau buang air. Ha...ha...." Tawa Pandu pecah begitu saja mengingat Alex yang mengendap-endap di balik batu karena ingin buang air besar.


"Ogah," seru Mely.


"Airnya dingin. Bersih kok," Sahut pandu memberikan penjelasan.


"Bodo amat. Gua ga bisa mandi pake kemben,"


"Ga usah kembenan. Ngumpet di balik batu. Tenggelam di air. Ga ada yang liat kok,"


"Enak aja. Ogah banget,"


"Kalo laki enak mandi ditempat terbuka seperti itu, yang perlu ditutupi cuma satu bagian aja. Kalo kita? Kudu atas bawah. Masa harus berendem sampe batas leher," sewot Melly lagi.


Pandu tidak melayani ocehan Mely dan teman-temannya lagi. Ia segera beranjak ke kamar untuk sholat ashar dan berkemas agar tidak terlambat ke balai desa.


"Gua kan cuma kasih solusi, ga mau ya udah," gerutunya sembari melangkah ke kamar.


"Tapi bener juga sih, airnya kan cetek. Aku aja harus lari ke tengah biar bisa menutup hingga puser," pikirnya lagi sembari tersenyum.


Karena perkara mandi yang bikin ribet, alhasil susah setengah jam lebih baru dua orang yang selesai mandi. Akhirnya diputuskan, dua orang sekaligus sekali masuk kamar mandi. Bisa kebayang ga tuh gaduhnya? Berbagai kometar mereka yang ada di dalam cukup mengundang perhatian seisi rumah. Begitu juga saat Rey dan Rara ada di dalam.


"Ya,. Kok banyak tanda merahnya sih. Parah loh, ya. Ganas banget pacarmu sampe gerilya ke sini-sini segala,"


"Ssettt....apaan, sih. Malu di denger orang," Rey berusaha menutupi bagian-bagian tubuhnya yang telah di stempel Wibie.


"Percuma ditutupi, ini....ini....ini.....ini juga," teriak Rara makin histeris.


"Parah Lo, Rey. Diam-diam ganas juga,"


"Sssttttt .....,"


"Ha.....ha......jadi pengen punya begituan. Gimana rasanya, Rey," tanya Rara menyelidiki.


"Diam kataku, brisik," Rey masih berusaha menutup mulut Rara yang terus berkomentar dengan nada yang cukup keras. Akibatnya suara mereka makin terdengar berisik karena Rara merusak mengelak dan memberikan perlawanan pada Rey.


"Kecupan di dada begini apa ga bikin pingsan? Kesentuh lehernya aja sudah gemetar apalagi dibikin yang seperti ini. " tanya Rara lagi. Ia memejamkan matanya sembari membayangkan bagaimana jika ada cowok ganteng yang iklas melakukan itu padanya.


"Ra.....please deh. Diem, ih,"


"Aku cuma pengen tau doang, tega sekali kau ini. Jangankan mau berbagi, cerita sedikit aja kau pelit sekali," gaya Rara yang lucu dengan logat bataknya.


"Apa Rey seperti itu?" suara lirih Alex terdengar begitu kecewa. Sejak tadi ia ada di dapur karena ingin meletakkan perlengkapan mandinya. Namun secara tidak sengaja ia mendengarkan ocehan Rara yang sedang berada di kamar mandi bersama Rey.


"Ayo, Rey. Bisikin aja. Mati penasaran aku jika kau tidak mau cerita,"


"Kau mau tau rasanya?" tanya Rey dengan nada menantang.


"He...eh," sahut Rara dengan nada polos.


"Satu kata saja. Melayang....," Rey mengucapkan kata itu dengan penuh penghayatan dan mata terpejam. Ia seolah-olah ingin mengingat dengan detail bagaimana Wibie begitu memanjakan malam tadi.


"Rey, kau bikin aku kejang,"


"Ha...ha....... Bagaimana priamu itu. Apa dia melakukannya dengan penuh nafsu atau begitu lembut?"


Rey tidak mau meladeni Rara yang makin gila, apalagi ini menyangkut privasinya dengan sang suami.


"Bahkan ia juga melakukannya pada dua bukit kabarmu? Gila kau , taman! teriak Rara yang tiba-tiba mebalikkan tubuh Rey yang sedang membelakanginya. Kali ini suaranya lebih keras karena ia shock melihat bagian dada Rey yang merah-merah. Kini ia bisa melihat dengan jelas bahwa di area ini jumlah stempelnya lebih banyak dari yang ada di punggung Rey.


" Plaaakkk....." Suara gayung terdengar mendarat di tubuh seseorang.


"Sakittt," teriak Rara kaget.


"Iya-iya. Gua diem," Rara menyerah juga karena Rey masih mengangkat gayung di tangannya dan siap-siap mendaratkan pukulannya lagi.


Tak ada suara setelah itu. Sesekali hanya terdengar suara tawa mereka berdua yang membahas tentang dinginnya air di kampung ini meskipun udara di luar masih cukup panas.


Sementara Alex, ia masih terpaku di tempatnya semula. Tubuhnya lemas bak tersengat listrik. Apa yang didengarnya itu benar-bebar melukai hatinya. Kini ia hanya bisa menarik nafas dalam-dalam dan melepaskannya dengan pelan.


"Siapa yang beruntung bisa menjadi laki-lakinya? Bagaimana hubungan mereka hingga sudah berbuat sejauh itu?" Alex berpikir dengan keras.


"Eh, kau sudah sampe. Buruan," Pandu yang muncul dari ruang tengah cukup mengagetkan Alex.


"Sudah siap semua?" tanya Alex


"Sudah, tinggal Rey sama Rara tih yang lagi mandi. Yang lain udah siap kok,"


"Rey, buruan," panggil Pandu dengan suara yang cukup keras.


"Iya, bentar lagi kok,"


"Kita sudah siap, tinggal nunggu kalian berdua nih. Bukannya cepet malah ngerumpi di kamar mandi,"


"Iya, iya. Ini sudah selesai," sahut Rara.


Sebelum Rey dan Rara keluar dari kamar mandi, Alex dan Pandu lebih dulu meninggalkan rusnga itu. Alex segera melaksanakan sholat Azhar agar hatinya sedikit tenang.


Percakapan Rara dan Rey itu masih terngiang-ngiang di telinganya. Hatinya begitu sedih. Hingga pada sujud terakhir, Alex tak kuasa menahan air matanya.


"Kamu nangis, Lex?" tanya Pandu yang masih ada di kamar, menunggu Alex selesai sholat.


"Biasa, jika sholat aku suka begini," sahutnya terpaksa berbohong.


"Inget dosa atau khusyu mohon ampunan," Pandu berusaha menggoda.


"Bisa jadi keduanya,"


"Ha...ha.....jangan -jangan kau juga termasuk golongan kaum bejad nih," canda Pandu.


Alex hanya tersenyum kecut. " Bejad? Orang seperti apa yang dibilang bejad? Apa yang seperti dilakukan oleh pria yang sudah berhasil membuat begitu banyak tanda di tubuh wanita yang beberapa hari ini begitu menyita perhatiannya?" Gumam Alex dalam hati.


'Ya Tuhan! Kenapa aku bisa sekakit ini?" Pekiknya lagi.


*****


Happy reading all! Author tidak bosan-bosan minta dukungannya. Mohon untuk tinggalkan


✓ LIKE


✓ KOMENTAR


✓ VOTE -nya ya🙏🙏🙏


Apresiasi dari kalian semua membuat saya semakin bersemangat untuk update. terimakasih 😊😊😊