
Ketika Rohmah memberitahu bahwa Rey ada di Jakarta, harapan ibu untuk mendapatkan menantu yang kaya sirna seketika. Apalagi waktu Tante Rey bilang ia tidak tau keberadaan keponakannya itu. Rey hanya datang sebentar kemudian pamit untuk bekerja. Tapi tidak meninggalkan alamat atau nomer kontak yang dihubungi.
Ibu terpaksa memutar otak. Ia harus membuat skenario yang jitu agar Aldy bisa lebih sabar menunggu Rey yang diketahui sedang merawat neneknya.
Namun rencana ibu gagal karena Aldy tidak begitu saja mempercayai kata-kata ibu.
Aldy merasa ditipu, sejak itu juga ia tidak ingin berhubungan dengan keluarga Rey lagi.
Kini, tanpa di sangka-sangka impian yang nyaris sirna itu justru menghampiri sendiri. Kedatangan Wibie yang cukup membuat kaget seisi rumah justru akan menjadi dewa penolong bagi keluarga ini
"Sepertinya dia tidak sepelit Aldy,"
Bisik ibu dalam hati.
Setelah beberapa saat mereka diam, Nay datang dari arah dapur membawa nampan yang berisi 3 cangkir minuman.
"Silahkan, Nak. Maaf ya. Sampai lupa menyediakan air," ujar ibu dengan wajah yang menybunyikan rasa malu.
"Minum kopi, kan?," tanya Ayah
"Iya, tapi sesekali saja," jawab Wibie singkat. Tentu saja dengan dengan nada yang begitu sopan
Wibie meraih cangkir yang sudah terhidang di depannya. Meneguk sedikit kopi yang masih panas itu untuk menghilangkan dahaganya.
"Wangi,Bu. Kopi empay, nih" ujar Wibie berusaha akrab dengan calon keluarga barunya ini.
"Beli di pasar. Memang setiap hari mereka giling sendiri. Jadi kopi yang dijual memang selalu baru," ibu menimpali dengan ramah.
Basa-basi seputar kopi yang tersaji itu cukup membuat suasana diantara mereka sedikit mencair. Wibie jadi lebih rileks dalam mengungkapkan apa yang menjadi tujuannya dan Rey.
"Jadi gimana, Nak? Kapan rencana pernikahan kalian?" tanya ibu.
"Kami sudah sepakat akhir bulan ini,"
"Apa?" tanya Ayah dan Ibu Rey hampir bersamaan.
"Kenapa begitu buru-buru. Bagaimana kami sebagai pihak mempelai perempuan menyiapkan segala sesuatunya?" Protes ibu.
"Maaf, Pak..Bu. Rey minta pada saya agar tidak usah menyelenggarakan pesta. Cukup akad nikah yang dihadiri oleh keluarga terdekat,"
"Rey juga minta akad nikahnya di Jakarta saya. Di rumah yang kami tinggali sekarang," ungkap Wibie lagi
Kedua orang tua Rey saling pandang. Mereka cukup bingung memahami maksud dari ucapan calon mantunya itu.
"Tapi, Nak. Sebagai orang tua perempuan, kami pasti ingin saat pernikahan anaknya diadakan semeriah mungkin. Jujur saja, ibu masih bingung dengan jalan pikiran kalian,"
"Setega itukah kalian kepada kami. Kami tidak dihargai sama sekali. Bahkan untuk urusan sepenting ini, kalian memutuskan sendiri," Kali ini ibu terlihat sedih. Pandangannya lekat tertuju pada Ayah seolah minta penguatan
"Maaf Bu, bukan seperti itu. Rey minta sebelum ia selesai kuliah dan bisa mandiri, ia belum mau pulang ke kampung. Ia ingin membuktikan pada orang-orang bahwa ia mampu untuk mencapai itu," sahut Wibie dengan buru-buru. Ia khawatir orang tua Rey makin berprasangka yang bukan-bukan.
"Saya berharap, Ayah dan ibu juga keluarga disini bisa hadir. Semua biaya ke Jakarta dan lain-lain biar saya yang urus," tambah Wibie lagi.
Cukup lama mereka diam, Wibie kembali menyeruput kopinya yang sudah mulai berkurang panasnya.
"Doni mau ke Jakarta, Yah. Aku kan belum pernah ke sana. Ayolah, Yah," Doni yang sejak tadi terlihat begitu asik dengan tayangan TOP tiba-tiba begitu ngegas mendengar penawaran Wibie.
Ayah dan ibu masih diam. Sepertinya mereka butuh waktu untuk membuat suatu keputusan.
"Rey tidak salah. Seharusnya sebagai orang tua kami faham atas keinginan anaknya. Rey anak yang cerdas. Keinginan untuk bisa kuliah dan bekerja begitu menggebu-gebu," Ayah mulai angkat bicara lagi
"Jika itu sudah kehendak Rey. Kami ikut saja," tambahnya lagi.
Syarat sahnya sebuah pernikahan adalah pengantin, ijab kabul, saksi, wali. Teknis pelaksanaan dan kapan akan dilaksanakan tergantung kesepakatan masing-masing keluarga.
Memang sulit menyatukan mengambil suatu keputusan yang bisa memenuhi keinginan semua pihak. Apa hendak dikata, nasi sudah menjadi bubur.
Rey yang dianggap lebih mandiri dari kedua saudaranya, banyak mengorbankan perasaan. Termasuk ketika sang ibu yang selalu mendorongnya ke pangkuan Aldy tanpa memperdulikan perasaannya.
Ayah merasa bersalah untuk itu. Meski ia tahu istrinya sangat tidak adil pada putri keduanya itu, ia tidak bisa berbuat banyak
"Ya sudahlah. Jika itu yang diinginkan Rey. Kami ikut saja,"
Nada bicara ayah terlihat pasrah. Bukan karena ia tidak iklas atas kehendak putrinya. Namun ayah ingin menebus dosanya pada Rey.
Jika Wibie adalah kebahagia anaknya, ia akan melakukan apapun agar mereka bisa bersama. Rey terlihat bahagia ketika VC dan ayah bisa merasakan itu.
Wibie juga terlihat begitu sabar dan perhatian pada putrinya. Kalau sudah seperti ini, apa lagi yang harus diperdebatkan. Satu-satunya pilihan hanya memberikan restu pada mereka.
Ibu juga terlihat tidak keberatan ayah memberikan persetujuan atas keinginan anaknya. Dalam hatinya ia yakin, Wibie sangat loyal pada keluarga dan berharap anak ini bisa membantu meringankan bebannya.
"Oh Ya, Nak. Rey kan masih punya kakak yang belum menikah. Jadi kalau ia ingin melangkahi kakaknya untuk menikah lebih dulu, etikanya harus ada pelangkah. Apalagi kakaknya juga perempuan," ujar ibu. Setelah semua sudah dibicarakan dan menemukan kata sepakat, tiba-tiba ia mengingat sesuatu.
"Iya Bu. Saya faham. Jika sudah disepakati oleh Nay dan keluarga saya ikut saja. Nanti saya juga akan membicarakannya lagi pada Rey," sahut Wibie
Setelah itu mereka membahas teknis keberangkatan keluarga Rey ke Jakarta. Mengingat kondisi Ayah yang tidak memungkinkan menempuh perjalanan yang lama, jadi diputuskan untuk menggunakan moda angkutan udara.
Doni dan Nay merasa senang mendengar mereka akan ke Jakarta dan naik pesawat. Apalagi Wibie juga berjanji akan mengajak calon adik iparnya itu keliling Jakarta.
Wibie akhirnya mohon undur diri setelah semua selesai. Ayah dan ibu terlihat lebih ramah ketika mengantarkan calon menantunya itu menuju ke mobilnya.
"Saya mohon pamit dulu. Jika ada sesuatu yang ingin disampaikan Ayah dan Ibu bisa menghubungi saya. Nomernya masih yang lama," Sekali lagi Wibie mengalami keduanya sebelum pria itu naik ke mobilnya.
Ayah yang masih duduk di kursi rodanya juga ikut melepas calon menantunya hingga ia meninggalkan pekarangan rumah itu.
*******
"Bu, tunggu. Ayah mau bicara dulu," kata Ayah ketika melihat istrinya akan melangkah masuk ke rumah.
"Ada apa?" tanya ibu datar.
"Apa benar Aldy meminta kembali semua yang sudah diberikan pada Rey?" tanya Ayah begitu serius. Ia merasa kecolongan tentang ini. Selama ini istrinya tidak pernah membahas ganti rugi yang disebutnya istrinya tadi.
"Ibu sudah ngantuk, Yah. Besok saja kita bahas," ujar ibu mengelak.
"Tidak, Bu. Ibu harus jelaskan sekarang. Ayah ingin tau, apa saja yang sudah Aldy berikan pada Rey sehingga total tagihan yang diminta bisa mencapai 20 juta.
"Besok saja, Yah. Ibu sudah ngantuk," ujar ibu lagi. Kali ini ia memasang muka yang memelas.
Ayah menangkap ada sesuatu yang disembunyikan ibu darinya. Untuk itu ayah tidak melepaskan ibu begitu saja ketika istrinya itu mengelak dengan alasan ngantuk
"Jangan beralasan,Bu. Kau hanya mengatakan ya atau tidak. Tidak akan mengurangi waktu tidurmu," kejar ayah lagi.
"Iya," jawab ibu pelan
"Memang apa saja yang sudah ia berikan pada Rey? Kenapa ayah tidak pernah tahu akan hal itu?" Desak ayah lagi.
"Tidak ada. Ia hanya memberi barang-barang belanjaan. Dulu sih bilangnya bonus, aku juga kaget ketika ia mencatat semua itu. Apalagi ia tega memintanya kembali setelah ibu tidak bisa memberi kepastian kapan Rey kembali," ujar ibu malu.
"Sebayak itu cuma sabun, pewangi, dll," Ayah makin mendelik. Kali ini Ia merasa pendengaran terganggu.
"Terakhir kulkas,"
"Masa sebanyak itu, Bu?" Ayah makin tidak percaya karena ia tahu, ibu ketemu Aldy belum lama.
"Tidak sebesar itu, ia hanya minta ganti rugi 7jt," Ibu diam karena malu. Aldy yang ibu anggap baik ternyata begitu perhitungan. Apa yang sudah diberikannya pada ibu selama ini ternyata dia catat.
"Ya,ampun. Sekarang apa bedanya ibu dengan Aldy," Ayah nyaris teriak.
Ternyata sifat istrinya yang materialistis tidak pernah berubah. Urusan pernikahan anaknya sendiripun ia masih mau mengambil keuntungan