
Usai sarapan, Rey dan Wibie memilih duduk santai di ruang keluarga. Devara yang sudah mandi dan berdandan rapi juga ada bersama mereka. Gadis kecilnya itu sedang mengelar beberapa slime yang dimilikinya.
"Mas aku ingin memperlihatkan sesuatu," Rey membuka HP dan terlihat sedang mencari sesuatu
"Apa," sahut Wibie namun pandangannya masih terpaku pada berita pagi dari tayangan televisi.
Rey menyodorkan foto Pras dan Dhiza yang begitu mesra ke arah suaminya. Seketika itu juga Wibie terbelalak
"Kok bisa, kapan mereka kenalan, siapa yang ngenalin," tanya Wibie dengan tidak sabar.
"Aku juga kaget. Foto ini dipasang Pras jadi DP WA-nya loh,"
"Rupanya bujang lapuk itu sudah menemukan gadis impiannya," seru Rey lagi.
"Eh, katamu dulu Pras menyukai sesama jenis, kenapa sekarang sama Dhiza?"
Rey tertawa geli melihat ekspresi suaminya yang terlihat lucu.
"Aku dulu bohong sama kamu, abis kalau ga dibilang begitu kamu cemburuan terus,"
"Eh, dasar ya. Udah bisa bohongi aku," Kali ini Wibie menarik hidung istrinya hingga terlihat merah.
"Mau aku ceritain ga gimana mereka bisa ketemu?"
"Jangan-jangan kamu yang usil, nih," selidik Wibie
Rey menceritakan kronologisnya dari awal, dimulai sejak Dhiza ingin mengajaknya bicara saat di sekolah hingga skenario Pras yang menemuinya di mushola.
"Tuh, kan kalian berdua memang usil,"
"Tapi kelihatannya mereka cocok. Pras yang banyak omong dan suka bercanda ketemu Dhiza yang terlalu serius dan cenderung kaku,"
"Iya, sih. Dhiza sebenarnya anak yang baik dan cukup menarik, entah kenapa hingga kini belum menikah. Dia selalu tertutup untuk urusan asmaranya,"
"Aku malah sempat mikir kalau dia itu menyukaimu," selidik Rey.
"Dari mana kau tau? Jangan sembarangan menebak, kami sudah layaknya keluarga. Aku sudah menganggapnya seperti saudara sendiri,"
"Ya, aku liat dari sikapnya saja,"
"Tapi ga terbukti kan? Nyatanya ia terlihat begitu bahagia dengan laki-laki homo itu,"
"Pras tidak homo. Jangan dinget-inget lagi," teriak Rey.
"Emang homo apaan, Pa?" Devara yang sedang asik bermain ternyata mendengar teriakan mamanya itu.
"Nah, loh. Jawab sono. Kau yang bilang itu tadi,"
"Mas yang mulai," sahut Rey mulai kesal.
"Homo itu artinya sejenis, sayang. Nih contohnya, semua slime yang ada diberbagai tempat ini di sebut homogen atau sejenis. Karena sifatnya sama dan terbuat dari bahan yang sama," jelas Wibie menjelaskan pada anak itu.
"Kalo slime sama air?" tanya Devara lagi.
"Beda, disebutnya heterogen,"
"Manusia juga homo?"
Wibie makin gemes karena pertanyaan anaknya itu terus berantai
"Iya, kalau laki-laki semua disebut homo juga"
Devara menganggukkan kepala namun pandangannya masih pada koleksinya mainannya.
"Ah, semoga saja apa yang kubilang tadi tidak terekam dengan baik olehnya. Pertanyaan iseng dia saja," Wibie segera menghela nafas karena anak itu tidak lagi meneruskan pertanyaannya.
"Menurutmu, apa yang mau dibicarakan Dhiza?" Wibie masih penasaran kenapa gadis itu sampai ingin bicara empat mata dengan istrinya.
"Entahlah, sejak janjian waktu itu aku ga pernah ketemu dia lagi. Dia juga ga pernah WA lagi. Pras sudah mengalihkan pikirannya hingga lupa segalanya,"
"Emang gombal abis tuh cowok, ya!" ujar Wibie.
"Sudahlah ga usah bahas Pras, semoga kita segera dapet undangannya dalam waktu dekat," ujarnya lagi.
"Iya deh, Aamiin" sahut Rey.
"Mas, aku sudah dari bulan kemaren ga dapet. Biasanya sih siklus DB aku ga normal tapi tadi pagi aku tes ternyata kok ada dua garis biru. Apa mungkin aku hamil?" tanya Rey mulai serius.
Wibie cukup kaget mendengar ucapan istrinya itu. Dia langsung membalikkan tubuhnya, kini posisi persis di hadapan istrinya.
"Sejak nikah kamu belum pernah dapet?"
"Belum," jawab Rey sambil menggelengkan kepalanya dengan ragu.
"Yakin?" tanya Pras lagi.
"Iya, terakhir dapet dua hari sebelum kita nikah," Rey mulai mengingat-ingat
"Aku kira pas aku dilapangkan kamu DB gitu. Kenapa baru bilang sekarang,"
"Aku kan ga tau. Biasanya juga suka telat. Aku juga tidak begitu memperhatikan tanggal berapa aku biasa dapet?"
"Haduh nih anak, masa perkaranya sendiri aja ga open,"
"Kita ke dokter. Ayo!" Wibie segera beranjak dari tempat duduknya dan menarik tangan Rey.
"Emang aku hamil, ya? " tanya Rey penasaran.
"Kalau hasil testpack sih biasanya akurat. Tapi kita harus ke dokter biar yakin,"
Rey beranjak menginikuti suaminya.
"Bentar, aku ganti baju dulu. Masa pake beginian mau pergi,"
"Buruan, aku tunggu di mobil ya,"
"Yakin ga mau ganti, cuma koloran doang ga pake daleman," seru Rey ngeledek.
Wibie nyengir sesat. Saking paniknya ia tidak sadar jika saat itu ia hanya mengenakan celana pendek tanpa CD.
******
Tiba di rumah sakit, mereka tidak mengantre terlalu lama karena week days jadi yang check up ke dokter tidak terlalu banyak.
Saat dipanggil masuk ke ruang dokter, Rey makin deg-degan. Rey tidak sabar memastikan kalau ia benar-benar hamil atau tidak?
Karena ini kehamilan pertama jadi semuanya serba excited dan penasaran juga lihat usg kandungan seperti apa. Ternyata Rey tidak hanya di USG tapi juga dites urin dan darah.
Hasilnya USG bisa langsung kelihatan saat itu juga.
"Hasilnya positif!" teriak Wibie.
Sang dokter yang sedang memeriksa Rey ikut tersenyum melihat kelakuan Wibie.
Saat USG janin sudah berukuran sebesar kacang merah, dengan panjang kira-kira 1,27 cm. Mata bayi mulai terlihat di wajah dengan terbentuknya lipatan mata dan retina yang berpigmen.Telinga bagian luar, bibir, dan hidung bagian atas bayi telah terbentuk.
Pada tubuh bayi juga mulai terbentuk tangan dan kaki yang kecil, jari-jari tangan dan kaki, tulang, dan otot.
"Janinnya sehat ya, detak jantungnya berdenyut sekitar 140-170 permenit,"
"Usianya sudah 8 minggu, nih," ujar dokter itu lagi.
Kini ia meminta Rey untuk merapikan pakaiannya dan mengikutinya duduk di ruang dokter.
"Belum pernah kunjungan ke dokter?"
"Belum dok, selain karena haid saya tidak lancar saya juga tidak memperhatikan tanggal berapa setiap bulannya kalau DB,"
Dokter perempuan yang masih terbilang masih muda itu tersenyum.
"Tidak ada perubahan mood atau apa, gitu?,"
"Kayaknya si enggak. Biasa-biasa saja. Cuma akhir-akhir ini saya lebih cepat laper dari biasanya," jawab Rey jujur.
"Berapa berat badan terakhir?"
"Tidak tau, Dok?"
Lagi-lagi dokter ini tersenyum. Pandangannya kini mengarah pada Wibie yang duduk di samping Rey.
"Saya kerja di luar daerah. Satu Minggu off, dua minggu on. Saya pikir istri saya ini datang bulan ketika saya lagi di lapangan, ternyata dia sendiri juga tidak bisa mengingatnya dengan jelas," Tanpa diminta Wibie mencoba menjelaskan kondisi Rey pada sang dokter.
"Ok, never mine. Yang penting janinnya sehat ya. Next time jaga kesehatan, istirahat yang cukup dan jangan lupa, makan makanan bergizi,"
"Ini kartu kunjungan dan jadwal kontrol berikutnya,"
"Terimakasih, Dok,"
Begitu keluar dari ruang pemeriksaan, Wibie
langsung menelpon Oma memberi kabar soal kehamilan Rey.
Sepanjang jalan menuju ke rumah tak henti-hentinya Wibie mengingatkan agar Rey selalu hati-hati menjaga makanan, menghindari makanan-makanan yang dilarang seperti makanan mentah dan olahan susu yang tidak terpasteurisasi, serta mengonsumsi suplemen yang diberikan oleh dokter.
Kalsium penting buat ibu hamil dan untuk pertumbuhan tulang janin nantinya. Bumil tidak akan keropos tulangnya karena selama 9 bulan lebih membawa berat janin di tubuhnya.
"Ah cerewet sekali, dia," bisik Rey dalam hati.
Tidak lupa mereka juga mampir ke swalayan terdekat untuk membeli susu serta buah-buahan segar dan makanan cemilan.
"Banyak amat, aku ga serakus itu," protes Rey.
"Buat stok, aku kan mau pergi lagi sore ini. Mudah-mudahan cukup sampe minggu depan,"
"Kan bisa pesen Bu Fat untuk belanja buah sayangku, ga usah repot-repot begini,"
"Ah sudahlah, pokoknya aku mau kamu dan anakku sehat. Makan yang banyak dan jangan capek-capek,"
"Ingat ya, kau sekarang harus memenuhi gizi untuk dua orang. Jadi porsi makanmu juga harus ditambah,"
"Dua orang, satu dewasa dan satu janin," Rey mengingatkan suaminya.
Wibie hanya tersenyum, ia merangkul istrinya dan mencium lembut keningnya.
"Ih, malu. Di tempat umum juga,"