Bukan Yang Pertama

Bukan Yang Pertama
Kembali Ke Lapangan


Wibie baru saja turun dari pesawat yang ditumpanginya. Melangkah pelan menuju ke pintu keluar menghampiri travel yang akan membawanya ke kota kelahiran istrinya.


Hp yang ada di kantongnya tiba-tiba bergetar, cukup lama dan akhir berhenti.


Always love U n Miss U. Fii amalilah Beib


Satu pesan yang dikirim Rey diterima Wibie.


Laki-laki yang menyandang tas ransel lengkap dengan kaca mata hitam dan topi warna navy itu tersenyum tipis.


[ Belum juga dua jam, Neng. Udah kangen aja ]


Pesan dikirim.


Tak berapa lama, pesan masuk. Masih dari istrinya


[ Hati-hati ya, love you so much ] lengkap dengan tebaran emoticon love-love.


Wibie juga membalas pesan itu tak kalah lebaynya dan tebaran emoticon serta stiker love-love.


Dalam hati ia tertawa sendiri atas tingkahnya yang sedikit konyol ini. Mungkin karena menikahi anak yang baru lulus SMA menjadikannya sedikit alay dan ala- ala bucin.


Hari ini, Wibie kembali ke Sumatera. Jatah libur dan cuti menikahnya sudah selesai. Mulai besok ia akan kembali ke lapangan, berjibaku menggali perut bumi demi sesuap nasi.


Ia harus bekerja lebih giat, kini jumlah tanggungannya sudah bertambah. Belum lagi keluarga Rey yang tidak pernah putus dengan segala kebutuhan dan minta bantuan darinya.


Semua sudah menjadi tanggung jawabnya. Begitu ia siap menikah dengan Rey berati harus siap dengan segala tingkah laku keluarga besarnya.


*****


Travel yang membawa Wibie berhenti tepat di depan rumah Rey. Sebelum ke mess, Wibie memutuskan untuk mengantarkan titipan ibu mertuanya itu agar ia tidak mondar-mandir lagi.


Ibu mertuanya itu minta dibelikan daster berbagai model terbaru pada Rey dan minta dititipkan ke Wibie jika kembali ke Lahat.


Bada Azhar, masih ada pelanggan ibu yang datang. Melihat kedatangan Wibie, ibu yang sedang menunggu di teras itu berteriak pada Bu Laura dengan suara yang lumayan keras.


"Bu, anak mantunya datang nih,"


Wibie yang melangkah menuju rumah cukup bingung mendapati situasi itu.


"Kok dia tau kalau aku suami Rey?" tanya Wibie dalam hati.


Bu Laura keluar dari ruang laundry dengan tentengan plastik di tangannya. Ia menyerahkan bungkusan itu pada tetangga yang menunggunya di teras untuk mengambil cuciannya.


"Assalamualaikum," Wibie memberi salam pada kedua wanita yang menyambut kedatangannya itu.


"Waalaikum salam," sahut keduanya nyaris bersamaan.


"Pesawat jam berapa, kok jam segini sudah sampe?" tanya ibu dengan suara yang cukup tegas. Ia ingin agar tetangganya itu tau bahwa menantunya datang naik pesawat


"Pesawat jam 3 Bu. Kebetulan tadi travel langsung jalan jadi bisa lebih cepet sampe,"


"Wah enaknya pulang pergi naik pesawat, kan bayarnya mahal Mas?" Ujar tetangganya itu kagum.


"Iya Bu. Tidak setiap hari kok Bu," sahut Wibie dengan ramah.


"Tapi tetap aja ga cukup 2 juta sekali jalan" samber Bu Laura.


Wibie hanya nyengir kuda mendengar ucapan mertuanya itu. Tetangganya pun segera pamit karena ia merasa Bu Laura sudah mulai kumat sombongnya.


"Saya mau nganterin titipan Rey, Bu," ujar Wibie ketika tetangganya itu sudah meninggalkan mereka berdua.


"Oh, kalau ibu tidak memintip sesuatu kamu ga menjenguk kami di sini?"


"Insya Allah datang lah Bu. Kita kan sudah menjadi satu keluarga,"


"Oh, ya. Ayah dimana kok sepi?" tanya Wibie yang sejak tadi tidak melihat ayah mertuanya.


Saat melihat ke arah ruang tamu, Wibie langsung menangkap foto pernikahannya dalam ukuran besar terpajang di dekat pintu ruang tengah.


"Oh, pantes ibu tadi langsung mengenaliku," gumam Wibie dalam hati.


"Ada di belakang, lagi kasih makan ayamnya,"


"Oh, ayah peliharaan ayam sekarang? tanya Wibie penasaran.


"Iya, baru seminggu yang lalu," sahut ibu.


"Ayah....," teriak ibu dengan suara yang memekakkan telinga.


Tak lama Doni datang dengan motor bebeknya, ia membawa satu kantong plastik cucian yang baru saja diambil dari mess besar.


Ia menghampiri Wibie dan mencium tangan kakaknya itu.


"Rajin sekali, abis ambil cucian ya?" tanya Wibie


"Iya, Mas. Tadi kamarnya kok masih tutup," Doni bertanya balik.


"Ini baru sampe, langsung ke sini,"


"Oh, pantesan,"


"Punya motor cuma satu. Jadi kalau mau ke mana-mana harus gantian. Masih banyak laundry yang akan diantar tapi motornya dibawa Doni," Ibu mulai mengeluh pada Wibie.


"Laudry yang terakhir sudah Doni kirim Bu. Memang ada lagi," tanya Doni pada Ibunya.


"Tadi ibu bilang tingal mengirim ke mess besar sama di RT 9. Tau gitu dibawa sekalian, Bu. Sini Doni anterin sekalian," Doni sedikit kesal dengan ibu karena masih ada laundry yang harus dikirim tapi tidak bilang sebelumnya.


"Sudah gelap. Mau hujan. Biar ibu yang anter. Kamu masuk saja," cepat-cepat ibu menyuruh anak laki-lakinya masuk ke dalam agar ia tidak banyak bicara.


"Motornya jangan dimasukin," ujar ibu lagi.


Kini Doni melangkah ke dalam. Tak lama Ayah muncul dari samping rumah dengan langkah yang masih pelan. Ditopang dengan tongkat bahu pemberian Wibie


Melihat kemunculan Ayah, Wibie segera menghampiri pria itu dan memberi salam.


"Gimana kabarnya, Yah? Sepertinya ayah kelihatan lebih sehat,"


"Alhamdulillah, Nak. Sejak bisa jalan meskipun tertatih ayah selalu mencari kesibukan. Tuh, ayah melihara ayam biar ga suntuk,"


Wibie tersenyum. Memang benar, Ayah istrinya ini terlihat lebih sehat dan bugar dari sebelumnya.


"Ibu mau anter laundry dulu, keburu hujan," sela Ibu sembari menenteng kantong plastik yang berisi pakaian yang sudah rapi.


"Ada Wibie kok ditinggal pergi, Bu. Bukannya laundry hari ini sudah dianter sama Doni?" kata Ayah.


"Ada yang ketinggalan. Yang punya sudah telpon terus dari tadi. Begini ini kalau cuma punya motor satu. Repot," keluh ibu.


Ayah hanya diam. Begitu juga dengan Wibie. Mereka berdua hanya melihat ibu yang menyalakan motornya dan meninggalkan mereka berdua.


"Ayo kita ke dalam," ajak Ayah pada anak mantunya itu.


"Tidak usah dipapah, justru Ayah harus bisa berjalan sendiri meski pelan," elak Ayah ketika tangan Wibie sudah terulur ke arahnya dan ingin memapah Ayah.


****


Ibu mengendarai motornya dengan pelan, ia bingung hendak kemana. Karena terlanjur berbohong, mau tidak mau dia harus pura-pura mengantarkan laundry agar dramanya di depan Wibie bisa menarik simpati.


Baju yang ia bawa ini sebetulnya milik karyawan mess namun orang yang bersangkutan sedang tidak ada di rumahnya karena lagi off. Jika ia antar sekarang berati akan sia-sia, belum lagi penjaga


keamanan akan mengenali kenapa barang itu tidak diantar sekalian.


"Dititip ke siapa, salah -salah malah dia yang harus ganti rugi jika barang ini rusak," pikir ibu.


Ia menghentikan motornya sejenak di perempatan jalan sebelum tau mau belok ke arah mana. Jika ibu kembali masih membawa barang ini, orang yang ada di rumahnya pasti curiga.


"Ah...," seru ibu bingung sendiri.


"Mudah-mudahan rencanamu ini mengundang simpati Wibie. Ia mau membelikan motor baru untukku,"


Ibu memutuskan untuk berjalan tanpa tujuan, ia mengambil arah menuju ke pasar dengan laju kendaraan yang lumayan pelan. Hari semakin gelap, meski jam baru menunjukkan pukul empat.


Tidak berapa lama, ibu mampir ke toko yang ada dipinggir jalan. Membeli kantong plastik ukuran yang paling besar.


"Bang, ada kantong plastik yang paling besar,"


"Ga ada bu. Saya ga jual kantong plastik,"


"Kalo yang bekas ada ga? Saya beli deh. Butuh banget soalnya,"


"Kalau bekas ada. Nih ambil aja Bu. Ga usah bayar," pemilk warung itu merogoh kolong mejanya dan mengambil plastik bekas yang sudah lusuh kemudian memberikan pada ibu.


"Terimakasih, pak. Maaf sudah merepotkan. Saya takut belanjaan saya kena hujan, langitnya sudah gelap," ibu memberi alasan.


Pemilik toko itu hanya tersenyum sembari melihat ibu membereskan pekerjaannya. Kini Laundryan itu sudah ia masukkan ke dalam plastik bekas. Orang pasti percaya kalau ini baju kotor.


Ibu mengembangkan senyumnya pada pemilik toko sebelum ia memutar motornya kembali ke rumah.


****


Tiba di rumah, Wibie dan atah masih ngobrol di ruang tamu. Ibu melemparkan Bungkusan yang ia bawa ke ruang loundry sebelum menghampiri mereka.


"Alhamdulillah, nganter yang bersih dapet lagi cucian koyor," ujar ibu sembari duduk di samping Ayah.


"Alhamdulillah," sahut ayah.


"Kamu nginep di sini saja daripada tinggal di mess. Toh ini juga rumah orang tuamu" ibu menawarkan pada mantunya itu.


"Terimakasih, Bu. Mess itu fasilitas kantor. Biar saya disana saja. Saya akan sesering mungkin main ke sini,"


"Kalau kamu tinggal disini kan enak. Jika kamu pake mobil, motornya bisa dipinjem Doni untuk anter jemput cucian,"


"Mobil dan motor juga fasilitas kantor, Bu. Tidak enak kalau dilihat orang motor itu digunakan oleh keluarga karyawan,"


"Oh, ya sudah. Berarti sudah nasib Doni harus bekerja lebih keras," sahut ibu lagi sambil memaksakan tersenyum pada mantunya itu.


"Kan tidak semua pelanggan minta dianter jemput, Bu. Ayah rasa masih bisa diatur kok,"


"Ah, Ayah ini. Yang ngejalanin itu ibu dan Doni. Ayah bisa apa?"


Hening.....tidak ada yang bersuara. Ayah hanya mampu menundukkan kepalanya. Apa yang dibilang ibu itu memang benar.


"Sudah, begini aja. Nanti saya beliin motor lagi. Biar usaha ibu makin lancar,"


"Bener, Nak. Terimakasih ya," ujar ibu kegirangan.


"Iya Bu. Insya Allah,"