
"Mas.....," teriak Rey yang mengagetkan seluruh penghuni rumah. Ia masih setengah berbaring di atas tempat tidur, sementara tangannya memegang HP.
Wibie yang sudah lebih dulu bangun dan sedang menikmati kopi buatan Oma di ruang keluarga sembari menyaksikan berita pagi langsung berdiri dari tempat duduknya dan kabur menuju ke kamar.
Oma, Ardi dan Devara yang mendengar jeritan itu juga langsung menghamburkan diri ke kamar.
"Ada apa?" tanya Wibie panik.
"Lihat ini! Kenapa bisa begini?" tanya Rey dengan panik sambil menunjukkan beberapa tokonya di beberapa marketplace ternama.
"Apanya?" tanya Wibie masih bingung dengan maksud pertanyaan istrinya.
"Lihat, Mas. Bintangnya jadi turun semua. Dari kisaran 48 hingga 49 kini sudah terjun bebas. Semuanya di bawah 2,5,"
"Lihat lagi nih, kenapa banyak komen barang tidak sesuai pesanan, jahitannya rengang, bahan panas, tidak sesuai gambar, dan kalimat negatif yang menjatuhkan pasaran," teriak Rey lagi begitu kesal.
"Sabar, istighfar dulu. Jangan panik. Coba aku lihat,"
Wibie dan Ardi yang sudah berada di kamar itu mengamati apa yang dikeluhkan Rey. Memang benar komen itu di buat oleh beberapa akun karena jika di lihat dari toko yang satu dengan yang lainnya, nama pemilik akunnya itu-itu saja. Jika di hitung ada sekitar 30 akun dengan komen serupa,"
"Kenapa begini?" tanya Wibie pada Adik iparnya itu.
Ardi menggelengkan kepalanya dengan ragu, sepertinya ia ingin mengatakan sesuatu namun ia sendiri belum yakin jika pendapatnya itu benar.
"Coba klik salah satu akun, Mas," Wibie mengikuti apa yang dikatakan oleh Ardi. Ia klik salah satu akun yang bernama Sayla dengan komentar "Barang beda banget dengan foto, bahannya kasar, jahitannya renggang,"
"Tuh, kelihatan komen dia tidak hanya di Laku-Laku, tapi ada di Jual Beli Laris, dan Toko Panda. Akun tersebut menulis beberapa ulasan di toko online milik Rey dalam sekali waktu,"
Ujar Ardi lagi.
"Jadi gimana ini? Bisa-bisa aku akan kesulitan untuk mendapatkan pelanggan baru,"
"Sabar, Kak. Kita pikirkan gimana cara ngeberesinnya,"
"Bug," tanya Wibie
"Bukan Mas, kalo bug human eror dari sistem informasi nya, tapi ini beda. Ada yang sengaja membuat akun palsu dengan maksud menurunkan rating toko dengan demikian calon pembeli mempunyai penilaian yang buruk terhadap produk yang dijual oleh toko tersebut. Akhirnya calon pelanggan atau pelanggan yang sudah ada akan berpikir ulang untuk transaksi lagi,"
"Oh, iya. Faham aku," Wibie manggut-manggut sembari memikirkan sesuatu.
"Iseng banget tuh orang. Kok jahat banget sama Rey," seru Oma yang sejak tadi ikut menyimak apa yang di bahas oleh Ardi dan Wibie. Di sampingnya juga ada Devara yang mengelus-elus bahu Mamanya.
"Sudah,kita ke belakang dulu yuk. Biar Ardi dan Wibie yang urus. Semoga tidak terjadi apa-apa,"
Rey mengikuti saran Oma. Dia bangkit dari tempat tidurnya dan melangkah menuju ke dapur. Devara dan Oma mengikutinya dari belakang.
"Seperti ada yang teriak, siapa Oma?" tanya Pras yang muncul dari pintu samping.
"Rey, ada yang ngisengin toko onlinenya,"
"Lah, ceritanya gimana?" tanyanya penasaran.
"Itu ada Ardi dan Wibie di kamar. Masuk aja," Oma menunjuk ke arah kamar Wibie yang tetap terbuka lebar pintunya.
Setelah Pras mendapatkan penjelasan dari Wibie, langsung saja nyerocos ga karuan.
"Ini pasti ada yang iseng, sengaja bikin usaha Rey tipis kepercayaan sehingga menutup usaha online. Kemungkinan ada dua nih, kalau bukan persaingan antar sesama pelaku usaha pasti ada seseorang yang dendam sama Rey,"
Ketika menyebutkan kata "dendam" tiba-tiba ingat pada Pak Gun dan seketika itu juga pandangannya terpaku pada Wibie.
"Aku rasa dia ga akan setega itu, kepentingan untuk apa dia melakukan ini semua. Aku lebih percaya alasan yang pertama,"
"Emang ada apa, Mas?" tanya Ardi , karena ia tidak mengerti apa yang dimaksud dalam pembicaraan kakak iparnya itu sama Pras.
Wibie menceritakan perihal Pak Gun pada Ardi degan detail agar ia bisa mengambil kesimpulan setelah mendengar penjelasannya.
"Aku sependapat dengan Mas Wibie, sepertinya terlalu jauh jika ia sampai melakukan hal seperti ini,"
"Apa?" tanya Wibie dengan wajahnya yang cemas.
"Ketika salaman, pria itu berani-beraninya meremas-remas tangan Rey. Padahal selain mereka berdua ada aku dan satu mahasiswa reguler. Di tempat terbuka, depan koperasi," jelas Pras dengan emosi.
"Rey tidak cerita tentang itu,"
"Mungkin dia khawatir jika kau akan melakukan sesuatu lagi pada Pak Gun,"
"Apa setelah kejadian malam itu dia tidak pernah menghubungi Rey lagi," tanya Ardi.
"Entahlah. Sejak saat itu, Rey selalu mematikan ponselnya jika sudah jam 9. Kalau siang aku ga tau,"
"Pengen banget aku kremes tuh muka mesumnya," gerutu Pras gereget. Ia memang paling tidak suka dengan pria yang suka menggoda wanita yang sudah bersuami.
"Sudahlah, masalah itu bisa kita pikirkan nanti. Yang penting ini dulu, bagaimana caranya agar Rey tidak sedih lagi. Usaha online ini dirintis dia dari nol, sejak ia mulai bekerja sebagai asisteku waktu itu. Ia sudah menikmati pekerjaan ini dan hasilnya juga lumayan. Makanya mengetahui hal ini ia sehisteris itu," jelas Wibie.
"Kita buat laporan ke CS masing-masing untuk sementara waktu. Sembari menunggu aku akan menghubungi teman kantor, dia lebih faham soal webside dan urusan beginian," sahut Pras.
"Bagus juga idenya. Sementara hanya itu yang bisa kita lakukan," sahut Ardi menimpali.
"Ya sudah. Semoga urusannya cepat selesai. Kasian, dia," gumam Wibie yang ikut merasakan bagaimana sedihnya Rey.
"Ayuk sarapan dulu," ajak Oma.
Di meja makan sudah duduk manis Devara dan Dhiza. Sementara Witha masih di kamar mandi karena semalaman habis tempur dengan lawannya yang begitu tangguh.
"Iya, Oma," sahut Wibie.
Ketiga pria itu segera keluar dan bergabung di meja makan. Witha yang baru selesai mandi juga ikut duduk, di sisi suaminya.
"Ga sholat subuh?"
"Kesiangan, kamu sih," bisiknya sembari mencubit perut suaminya.
Karena Pras dan Dhiza mulai curiga dengan bisikan-bisikan mereka,Witha tidak meneruskan omelannya ke Pak Suami. Padahal ia begitu kesal dengan Ardi, begitu pria itu selesai menyalurkan hasratnya, ia biarkan Witha tergeletak di kamar sendiri. Dirinya kembali ke sofa dan bisa tidur nyenyak meskipun nyamuk cukup mengganggu pendengaranya.
"Sialan, aku sampe kesiangan ga ada yang mbagunin," gerutunya lagi.
"Udah Rey, kita sarapan dulu. Biar para lelaki di rumah ini yang beresin toko online-mu, ayo. Butuh tenaga agar bisa berpikir dengan jernih," Oma mengingatkan Rey yang masih saja terlihat sedih atas kejadian yang menimpannya.
"Iya, di kantor Mas Pras ada ahli IT, tar bisa minta tolong ke dia. Barangkali ada solusinya," Dhiza coba menenangkan sahabat suaminya itu.
"Ayo, pada di mulai. Kenapa pada bengong. Pras, Wibie, Ardi, ayo ambil nasinya duluan. Kalau yang ini masakan khas ibu. Rawon khas Surabaya,"
"Telur asinnya beli. Ibu ga bisa bikin sendiri," lanjut ibu lagi.
"Wah, aromanya saja sudah sedap Oma. Apalagi rasanya," Pras menimpali.
"Ya sudah, mulai aja. Jangan lada bengong,"
Tanpa menunggu perintah lagi, Pras mengisi piringnya dengan satu centong nasi kemudian diguyur dengan rawon yang masih ngebul. Setelah di tambah dengan sambal gerus dan telur asin, hidangan itu disantapnya tanpa bersisa sedikitpun.
Begitu juga yang lain, melihat Pras begitu semangat menikmati sarapannya, mereka jadi ikutan lapar. Dalam sekejap masakan Oma ludes diserbu anak, mantu, dan cucu-cucunya.
Happy reading all! Author tidak bosan-bosan minta dukungan. Mohon untuk tinggalkan
✓ LIKE
✓ KOMENTAR
✓ VOTE -nya ya🙏🙏🙏
Apresiasi dari kalian semua membuat saya semakin bersemangat untuk update. terimakasih 😊😊😊