Bukan Yang Pertama

Bukan Yang Pertama
Update Status


Butuh keberanian khusus bagi Rey untuk memberitahu kepada publik tetang statusnya saat ini. Ia memang bukan selebriti yang khawatir akan diterpa berbagai pertanyaan dari kalangan media, namun ia lebih menjaga hatinya agar orang-orang yang mengenalnya cukup tau jika saat ini hidupnya memang sesuai dengan rencana anak-anak seusianya.


Setelah mendapat pandangan dari Pras dan juga kondisi sekarang yang sedang hamil, Rey akhirnya berfikir. Ada baiknya memang ia tidak menutupi kepada siapapun jika saat ini ia memang sudah mempunyai suami. Membina rumah tangga dengan seorang duda beranak satu.


Untuk itu, pagi ini Rey mulai mengubah foto yang menjadi DP WhatsApp-nya dengan foto dirinya bersama sang suami mengenakan baju pengantin.


Rey juga update status di WA dengan memasang foto yang sama disertai dengan caption


" Thanks Beib, telah menemaniku dalam petualangan yang paling menakjubkan ini"


Ah, tentu saja hal yang bukan menjadi kebiasaannya ini langsung mengundang komentar dari teman kuliahnya, costumers, para karyawan dan tentu saja sang suami.


Beberapa saat kemudian, muncul beberapa komentar dari penggunaan WA yang menyimpan no kontaknya.


[ *Pras ]


"Good job, Sis,"


[ Sweet Husband ]


"Bawaan orok nih kayaknya" disertai emoticon love-love


[ Maya Akutansi ]


"Ternyata dirimu sudah bersuami toh, aku kira kau dan Pras itu pasangan kekasih,"


disertai emoticon senyum. Samawa ya, Say,"


[ Rudi Akutansi ]


"Sepertinya suamimu cukup familiar, pernah liat di mana ya*?"


Komentar-komentar itu dibalas Rey satu persatu. Baik dengan mengirimkan stiker/emoticon penjelasan. Rey senang, semua temannya punya tanggapan yang positif terhadap foto itu.


Dari info yang dilihat oleh Rey, ternyata ada 70 orang yang melihat statusnya, termasuk ibunya sendiri. Namun wanita itu tidak memberikan tanggapan apapun terhadap foto anaknya itu.


Setelah mengotak-atik WA, Rey beralih ke Facebook. Sejak HP miliknya ditahan oleh ibu, Rey tidak pernah lagi membuka-buka media sosial miliknya.


FB yang sudah mulai berdebu itu kini Rey buka kembali. Ratusan notifikasi yang muncul Rey lewatkan terlebih dahulu, ia lebih tertarik pada massanger yang masuk.


"***Dimana kau, gadis ******,"


"Jangan pernah berpikir kau bisa lari dariku***,"


Pesan dari seseorang yang belum berteman dengannya. Setelah Rey berkunjung ke FB si pemilik ternyata orang tersebut juga tidak menggunakan foto profil aslinya.


Begitu ditekan profil pengiriman pesan dan melihat profil FB muncul keterangan : satu teman yang sama, bekerja di konsultan hukum jurusan hukum pidana, pernah belajar di Fakultas Hukum UI .


Begitu juga dari foto-foto yang ada di berandanya, hanya ada 5 foto formula F1 dan anjing harder. Status yang di-update juga hanya share beberapa link tentang ilmu hukum.


Sepertinya si pemilik sangat private sekali terhadap dirinya. Meskipun begitu, Rey bisa menebak siapa pemilik FB tersebut.


"Ini pasti Aldy," Rey begitu yakin dengan sangkaannya itu.


Rey tidak menjawab pesan itu, selain karena memang sudah cukup lama pesan itu dikirim padanya, orang yang bersangkutan juga tidak aktif. Bisa jadi FB itu dibuat untuk meneror dirinya


"Mungkinkah dia tau jika aku sudah menikah?" Rey mulai berpikir tentang sesuatu yang selama ini sempat hilang dari ingatannya.


"Ah, sudahlah. Semoga itu hanya emosi Aldy sesaat," pikirnya lagi untuk menenangkan diri.


Rey masih penasaran dengan satu teman yang sama dengan si pengirim pesan. Setelah di cek, orang itu tidak lain teman Rey semasa SMA yang rumahnya di pasar.


"Ah, sudah ketebak. Pengecut yang berani mengirim pesan berupa ancaman tanpa memasang foto profil itu tidak lain adalah Aldy," Rey tiba-tiba merinding mengingat nama itu lagi.


Kini Rey kembali ke notifikasi, dari sekian ratus yang masuk semuanya hanya pemberitahuan biasa. Tidak ada sesuatu yang penting.


Rey membuka kembali status terakhirnya ketika ia dan teman-temannya sedang menyelesaikan praktik IPA di laboratorium. Dalam status ini banyak teman-temanya yang berkomentar bertanya tentang keberadaannya saat ini.


Rey membiarkan itu semua, ia tidak ingin teman-temannya tau jika FB itu masih aktif. Pikirannya masih tertuju pada pesan teror yang dikirimkan Aldy.


Rey akhirnya memilih untuk mengirimkan pesan pada beberapa teman dekatnya saja. Ia ingin menyambung komunikasi yang telah lama terputus hampir 9 bulan itu dengan teman-teman dekatnya. Untuk menjaga keamanan, Rey lebih dulu mematikan notif onlinenya pada FB yang sedang diaktifkan itu.


Dari sosmed yang baru saja ia buka, Rey jadi tau jika Aldy begitu menaruh dendam padanya. Ia tiba-tiba ingat ibunya.


"Bagaimana ibu bisa menghadapi kemarahan laki-laki itu. Aldy pasti akan berbuat sesuatu pada ibu?"


"Maafkan Rey, Bu. Aku tidak berniat membuatmu susah, aku sudah betul-betul tidak tahan dengan sifat Aldy yang begitu arogan,"


"Apa aku telpon ibu untuk menanyakan hal ini?"


Rey log out dari FB nya. Ia diam sesaat, pandangannya masih lekat pada layar laptop yang ada di hadapannya.


Sejak ia pergi, ibu tidak pernah menyinggung soal Aldy. Rey tau Aldy minta ganti rugi atas barang-barang yang telah diberikan pada keluarganya juga dari Mas Wibie dan semua sudah diselesaikan oleh suaminya itu.


"Sepertinya aku memang harus melupakan semua itu. Mungkin ibu dan juga Aldy sudah melupakan hal itu. Jadi apa untungnya membangunkan macan tidur?" pikir Rey lagi.


"Ma...Mama, aku bawa sesuatu nih buat adek bayi!" teriak Devara yang baru saja keluar dari mobil jemputan.


Lamunan Rey menjadi buyar seketika itu juga, ia segera beranjak dari tempat duduknya dan menyambut kedatangan anak itu di depan tokonya.


"Emang bawa apaan buat adek?" tanya Rey sembari sedikit membungkukkan tubuhnya menyamai tinggi anak itu.


Devara segera duduk di ubin dan membuka tas sekolahnya. Rey melambaikan tangan ke arah pak Sopir yang masih parkir di depan tokonya.


"Terimakasih, Pak," ujar Rey dengan ramah.


Pria yang membawa bis sekolah itu membalas lambaian tangan Rey dan tersenyum sebelum akhirnya meninggalkan tempat itu.


"Ini Ma, bagus kan?" Devara menunjukkan squisi berbentuk hello Kitty warna pink yang masih terbungkus plastik pada Rey.


"Wah cantik sekali. Kakak dapet dari mana?"


"Dikasih sama Miss Dhiza, Ma. Tadi aku bisa membaca dongeng dengan lancar," pamer anak itu.


"Oh, Miss Dhiza masuk kelasnya Kakak?"


"Iya, Bu guru aku lagi sakit," jelas Devara lagi.


Rey mengelus lembut rambut anak itu dan duduk di sampingnya.


"Terimakasih, adek pasti suka dapet hadiah dari kakak?"


Devara tersenyum riang karena Rey menerima hadiah itu dengan senang hati. Kini ia mengajak anak itu ke rumah untuk mencuci kaki dan tangannya serta berganti pakaian.