Bukan Yang Pertama

Bukan Yang Pertama
EP. 62 Kamu dan Aldy


[ Malam hari, di ruang keluarga]


Kakek ibarat mendapat mainan baru. Selama cucu-cucunya di rumah, ia menghabiskan waktu untuk bermain dengan Nathan dan Devara. Bahkan tidurpun sang cucu jagoan ingin bareng sama sang kakek. Mereka ketagihan dengan dongeng-dongeng yang disajikan kakeknya. Meskipun cerita itu kadang membuat mereka sedih dan menangis sesugukan serta tertawa terpingkal-pingkal. Sepertinya Kakek memang punya bakat sebagai pendongeng ulung dan bisa meraih simpati cucunya.


Seperti malam ini, malam keempat mereka di kampung. Nathan sudah merengek minta ke kamar. Ia tidak mengizinkan sang kakek ikut-ikutan kumpul di ruang keluarga. Bagi bocil yang satu ini, malam adalah waktu mereka untuk mendongeng ria.


"Kek, ayo lanjutin cerita yang kemaren! Cerita


Snow White and the Seven Dwarfs," ujar Nathan dengan logat bahasa Inggris yang belepotan.


"Masih sore, sayang. Sebentar lagi, Ya!"


"Ayo, Kek. Adek udah ngantuk. Mau bobok," rengek bocah itu lagi.


"Oala.....anak ganteng sudah ngantuk toh. Ayo, kita pindah sekarang,"


"Ya sudah, kalian lanjutin saja ngobrolnya. Kakek mau ndongeng dulu," ujar Ayah seraya beranjak dari tempat duduknya. Nathan sudah memegang ujung sarung sang kakek.


"Kakak mau bobok sekalian?" tanya kakek pada Devara.


"Iya, aku mau ke kamar aja" sahut Devara yang sudah lebih dulu masuk kamar. Sejak tadi ia bermalas-malasan di kasur lantai, mungkin capek setelah seharian main ke air terjun.


"Bobok sama Kakek lagi, nih?" tanya Wibie pada anak-anaknya.


"Iya, aku mau bobok sama Kakek," sahut Nathan yang sudah bergelayutan di tangan kakeknya.


Di ruang tamu masih ada Rey dan Wibie, Ibu, Kak Nay, serta Doni. Mereka tengah nonton TV dan membahas rencana Doni yang ingin masuk ABRI.


"Nanti Mas yang urus, kamu jaga kesehatan dan banyak-banyak latihan fisik. Lari dan berenang terutama," sambung Wibie, ia melanjutkan diskusi kekuarga. Membahas test yang akan dijalani adik iparnya itu.


"Iya, Mas," sahut Doni.


"Kasih makan yang sehat, Bu. Biar badannya lebih beisi. Tuh otot-ototnya sudah mulai kelihatan tuh,"


"Selalu, pokoknya buat dia selalu empat sehat lima sempurna setahun belakangan ini. Susunya juga ibu double biar tinggi dan beratnya seimbang," sahut itu bersemangat.


"Iya, kita harus kompak biar Doni bisa lulus test dan jadi tentara sesuai cita-citanya,"'


"Aamiin," sahut mereka bersamaan.


*****


"Aku lupa tanya sesuatu,Mas?" Tiba-tiba Rey mengingat sesuatu ketika mereka sudah berbaring di kamar.


"Tentang apa?" tanya Wibie serius. Ia memiringkan tubuhnya. Menatap istrinya tengah memandang langit-langit kamar.


"Waktu tetangga kita bilang liat kamu berantem sama Aldy, menang iya? Kapan Mas? Kok aku ga tau?"


"Apalagi melihat ekpresi Aldy kemaren sore, aku yakin dia memang sangat dendam sama kita,"


"Oh, masalah itu. Dulu banget, itu mah. Waktu kamu hamil muda, waktu aku masih tugas di sini. Pas sore-sore aku main ke sini, eh ga nyangka, Aldy dateng entah ada urusan apa sama ibu. Melihat aku ada di rumah ia langsung naik pitam. Refleks aja, waktu itu kami sempat adu jotos. Nah suami ibu itu yang misahin,"


"Sebelum dia ngeroyok kamu?"


"Iya," jawab Wibie setelah ia berhasil mengingat kejadian empat tahun yang lalu.


"Terlalu banget sih,"


"Udahlah, ga usah dipikirin. Udah berlalu,"


"Iya,sih. Tapi kesel aja. Apalagi liat wajahnya yang murka sekali,"


"Udah, kamu yang minta aku ga ladeni dia kok sekarang diungkit lagi. Dah lah.....biarin aja. T Suka-suka nya dia mau apa? Tar juga capek sendiri. Pokoknya jaga lisan tutup kuping aja kalo ketemu dia," sahut Wibie.


"Kan ada perempuan sama dia, apa itu istrinya?" tanya Rey penasaran.


"Mana ku tau!. Eh, kamu cemburu ya?" goda Wibie.


"Dih, ga lah. Aneh aja sih, dia kan lagi sama cewek kenapa juga masih ngeributin kita?"


"Entahlah. Sepertinya kita harus sabar. Ia akan terus seperti itu karena emosi. Sabar aja. Yang waras ngalah. He..he....Udah ah, bikin rusak mood kalo bahas dia jam-jam segini,"


"Apaan, nih.." Rey menyingkirkan tangan Wibie yang sudah menelusup ke dalam daster yang dikenakannya.


"Kita sedang bertamu, Mas" Rey mencoba mengingatkan suaminya.


"Bertamu? Ini kan rumahmu sendiri! Alasan aja," sahutnya lagi makin merajuk.


"Takut kedengaran dari samping,"


"Pelan-pelan, lah,"


"Buat gerak aja ranjangnya udah bunyi, apalagi buat gituan,"


Wibie melempar selimut tebal yang biasanya digunakan sebagai bantal ke ubin. Selimut itu jatuh di samping tempat tidur. Ia sengaja menyiapkan selimut itu dari Jakarta khawatir udara di sini mendadak dingin di malam hari. Ternyata barang itu tidak berguna karena kamar tidur Rey sudah dipasang pendingin ruangan oleh ibu mertuanya.


"Nekad," gumam Rey yang segera menangkap maksud suaminya.


Wibie menggelung tubuh istrinya. Saking bersemangatnya ia lupa jika ranjang yang mereka tiduri tidak seluas yang ada di rumahnya. Alhasil, tubuh mereka jatuh ke ubin, bertumpuk.


"Bug," bunyi yang cukup keras, mirip bunyi nangka berukuran besar jatuh dari ketinggian


10 meter.


"Ssstttt," buru-buru Rey memberi kode pada suaminya agar tidak tertawa. Akan sangat memalukan jika kejadian ini akan di dengar oleh penghuni kamar sebelah.


"Kak, Nay sudah tidur," bisik Wibie. Begitu pelan.


"Stttt.....," ulang Rey lagi memberi kode karena terdengar suara pintu terbuka.


"Dia belum tidur," seru Wibie menahan tawa.


"Tuh, kan," Rey segera mencibir karena merasa menang.


"Sebentar ya,"


"Mau kemana?" tanya Wibie ketika Rey melepaskan diri dari dekapan Wibie.


"Baca situasi," sahut Rey dengan wajah genitnya.


"Hemmm..,,"


"Bentar aja," Rey melepas tangan Wibie yang terus menahannya.


Wibie tidak bisa mencegah istrinya keluar dari kamar karena Rey sudah membuka pintu dan meninggalkannya seorang diri.


"Ada lotion nyamuk ga, Kak?" tanya Rey pada kakaknya yang ia temukan sedang berbaring di depan TV bersama Doni. Namun Rey melihat Doni sudah mendengkur.


"Ga ada. Adanya yang semprot," sahut Nay singkat. Pandangannya tetap tertuju pada tayangan film yang baru saja diikutinya itu.


"Oh," Rey hanya bergumam. Ia memang tidak sedang mencari lotion nyamuk. Niatnya keluar dari kamar hanya untuk memastikan kondisi di luar agar aksinya tidak menggangu pendengaran penghuni rumah ini.


Untuk menghilangkan kecurigaan Nay, Rey melangkah ke dapur. Minum meskipun tidak begitu haus dan pura-pura ke kamar mandi.


"Bakal zonk nih, kasian suamiku," pikir Rey ketika ia kembali, Nay masih ada di ruang itu. Jika Nay nonton hingga larut malam berarti ia bakal tidur nyenyak dengan suaminya. Ruang tv ini persis berada di depan kamar yang Rey tempati. Dengkuran halus aja terdengar dari sini, apalagi suara yang aneh-aneh.


"Belum tidur, Kak,"


"Belum ngantuk," sahut Nay.


"Aku tidur duluan, ya. Siang tadi ga bisa istirahat jadi capek banget,"


Nay hanya mendengus, ia tahu Rey bertanya seperti itu untuk apa. Namun ia pura-pura tidak ambil pusing dengan tingkah suami istri yang tidur persis di samping kamarnya itu.


"Bikin iri aja," gerutu Nay dalam hati ketika Rey sudah menghilang di balik pintu.


*******


Hay semuanya, maaf ya ..... hanya bisa update satu chapter. Terimakasih atas kesetiaannya mengikuti cerita ini hingga saat ini.


Ojo lali!


VOTE, like, dan spam komentar dari kalian tetap jadi semangat untukku.