Bukan Yang Pertama

Bukan Yang Pertama
Pukul 23.00


Wibie lebih dulu masuk ke kamar. Ia merasa hari ini begitu panjang dan melelahkan.


Setelah menanggalkan celana jeans dan kemejanya, ia segera ke kamar mandi. Cuci muka dan gosok gigi. Rutinitas yang sudah menjadi pembiasaan orang tuanya sejak kecil.


Wibie melangkah ke ruang ganti, ia mengambil pakaian pavoritnya saat di rumah. Celana pendek diatas dengkul dan kaos oblong, polos berwarna abu-abu.


Ia baringkan tubuhnya yang nyaris tidak bertenaga itu di kasurnya yang empuk dan wangi. Kasur yang masih bertebaran bunga melati. Tiba-tiba wibie tersenyum,


"Malam pengantinku," bisiknya dalam hati.Senyum Wibie tak henti-hentinya tersungging.


Sepotong puzzle yang telah lama hilang dari hatinya, telah ditemukan penggantinya. Memang tidak serupa namun tidak merusak warnanya motif gambar sebelumnya.


Kini jantungnya bisa bekerja dengan semestinya. Selalu berdengub dengan kencang ketika tatapnya beradu pandang.


Aliran darahnya mendadak bergemuruh dengan irama yang begitu membuai ketika ia mengingat nama Rey, senyumnya yang begitu manis dan membuat damai setiap orang yang memandang.


Ia melihat jam dinding yang ada di atas pintu kamar. Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Rey belum juga naik ke kamar.


"Apa ibu menghendaki sesuatu lagi padanya," pikir Wibie.


"Atau... Rey sengaja menghindarinya?" tanyanya lagi dalam hati.


Ia meraih remot TV yang ada di atas nakas, di samping tempat tidurnya. Sambil menunggu mempelainya datang, Wibie memilih-milih saluran yang bisa menghiburnya.


Ia memencet tombol remote control itu hingga angka terakhir, sebelum akhirnya ia memilih kembali pada saluran No. 2. Stasiun tv yang khusus menayangkan film-film dari manca negara sepanjang hari.


*******


[ di kamar Ayah ]


Rey masih menemani ayahnya yang hanya seorang diri di kamar. Ketika mereka pulang dari mall, ibu langsung menghambur ke kamar Devara yang sudah ditempati oleh Nay dan Doni.


Ayah terlihat mondar-mandir mencoba tongkat bahu yang baru saja dibelikan Wibie. Tongkat ini begitu membantunya. Ia tak perlu dibantu lagi ketika ingin berdiri.


Rey begitu senang melihat senyum yang terus mengembang dari bibir ayahnya.


"Semoga Ayah lekas membaik dan bisa berjalan lagi," ujar Rey melihat semangat ayahnya untuk sembuh begitu kuat


"Aamiin. Doakan Ayah ya, Nak," pinta Ayah


"Selalu. Rey selalu berdoa kesembuhan Ayah,"


"Sudah larut Rey. Pergilah ke kamarmu. Sudah waktunya Istirahat," Ayah mengingatkan putrinya yang sudah begini larut masih ada bersamanya.


"Sebentar, Ayah. Rey masih ingin bersama Ayah," ujar Rey lagi.


"Tidak baik membiarkan suamimu menunggu terlalu lama. Naiklah. Kau sekarang bukan gadis yang bebas lagi, ada suami yang senantiasa menunggumu di peraduannya," ujar Ayah.


Rey tersipu malu mendengar ucapan ayahnya itu. Namun apa yang ia katakan memeng benar. Ia sudah tidak bisa semaunya sendiri masuk ke kamarnya karena ada seseorang yang menunggunya di kamar.


Sejak tadi Rey menang sudah ingin menikmati pembaringannya yang bernuansa putih dan bertabur melati.


"Temani suamimu, Nak. Ayah belum ngantuk. Masih ingin mencoba tongkat ini pelan-pelan," jelas Ayah lagi.


Ayah tak henti-hentinya mengingatkan Rey untuk istirahat. Rey beranjak dari sisi tempat tidur. Rey begitu lelah, kali ini ia memang benar-benar merindukan kain seprey putih itu dan aroma bunga melati yang menyebar ke setiap sudut kamarnya.


****


Melihat Rey datang, Wibie merubah posisi badannya. Dari rebahan dan menyaksikan box office yang tayang di salah satu tv swasta menjadi bersandar pada kepala tempat tidur.


Wibie tersenyum manis, mendapati istrinya yang sudah berdiri diambang pintu, menatapnya dengan pandangan yang penuh keraguan.


"Sini!" ajak Wibie sembari menepuk sisi kanan tempat tidurnya.


"Kata mbahnya istriku, pamali berdiri di depan pintu. Nanti jodoh yang mau ngelamar pulang lagi," ujar Wibie lagi. Ia berusaha mengembalikan ucapan yang pernah diucapkan Rey.


Rey nyaris terkekeh mendengar ucapan itu. Ternyata Wibie mengingatkan dengan baik candaannya sore tadi.


Namun Rey segera menghentikan tawanya. Pikirannya kembali tertuju pada peralatan mandi di dengan aroma perempuan dan sabun pembersih area V yang ia lihat di kamar mandi.


Tubuhnya setika bergidik jika ingat itu. Ia amati tubuh yang bersandar di kepala kasur itu dengan tatapan yang tajam. Dikulitinya setiap lekuk tubuh Wibie dengan tatapan yang penuh dengan keingin tahuannya.


"Kamu kenapa? Sini! Kenapa hanya mematung di situ? Berbaringlah di sini," ajak Wibie sekali lagi. Kali ini senyumnya sudah berubah menjadi rasa penasaran atas sikap istrinya itu.


Rey mendekat. Langkahnya begitu pelan. Menuju ke tempat tidur, di sisi yang diinginkan Wibie.


Namun ia tidak membaringkan tubuhnya. Rey justru duduk bersila dengan arah menatap tajam ke arah suaminya.


"Jangan bikin aku takut? Kau tidak sedang kerasukan, kan?" selidik Wibie penasaran.


Setelah dilihat dengan seksama dari jarak yang teramat dekat, ternyata kulit suaminya itu putih. Hanya bagian muka dan tangan yang sedikit gelap. Mungkin karena bagian itu lebih sering terkena sinar matahari saat di proyek.


Meski bahunya kekar dan sedikit berotot tapi kulitnya sangat mulus untuk ukuran laki-laki.


"Kulitnya halus. Pori-porinya nyaris tak terlihat," bathin Rey dalam hati.


Rey beralih mengamati dagu hingga bibir atas, tidak ada rambut halus yang tubuh di sekitar situ.


Pandangannya kembali turun ke leher, ia tidak begitu melihat jakun laki-laki itu karena posisinya yang bersandar. Leher Wibie tertutup oleh dagunya.


Karena rasa penasaran belum terjawab, Rey menurunkan pandangannya ke bawah. Seketika itu juga ia memegang bagian perut bawah. Setelah ia menemukan suatu benda yang nyaris tertidur dan mulai bergerak, mukanya memerah saat itu juga


Mendadak mendapat serangan seperti itu, Wibie kaget. Seketika itu juga ia menepiskan tangan Rey dari tubuh si Buyung yang sudah mengeliat karena ada yang mengusik tidurnya.


"Apa-apaan sih? Apa kau mau memperkosaku?"


Rey malu karena tingkahnya yang konyol itu. Ia segera menjatuhkan tubuhnya di atas Wibie dan mendorongnya hingga suaminya itu terbaring di tempat tidur.


Rey menyembunyikan wajahnya di balik ketek suaminya karena malu. Kini ia hanya diam, tidak berani mengangkat wajahnya.


"Kenapa?" tanya Wibie dengan halus.


Ia membelai rambut Rey yang terurai dan mengelusnya berulang-ulang. Detak jantung istrinya itu terasa berdengup kencang. Wibie bisa merasakan itu karena dada Rey menempel rapat di dadanya yang bidang.


Rey masih diam. Bahkan tubuhnya tidak bergerak sedikitpun. Kehangatan tubuh Wibie dan belaian lembut suaminya justru membuat ia ingin berlama-lama menyembunyikan wajahnya di situ.


"Aku bisa sesak napas jika kau tindih seperti ini terus," ujar Wibie. Ia terpaksa berbohong agar Rey mau membalikkan tubuhnya.


Rey segera menggeser posisinya, dari yang menindih setengah tubuh suaminya, kini tergeletak di samping Wibie dengan tubuh yang masih tengkurap. Kepalanya tetap ia sembunyikan di ketiak Wibie. Kali ini yang sebelah kanan.


"Apa kau tidak mencium sesuatu? Aku belum membersihkan tubuhku seharian ini?"


"Bohong," sahut Rey secepat kilat. Namun ia juga sempat mengendus-endus area sekitar situ untuk memastikan penciumannya.


"Tidak ada bau yang aneh. Bohong sekali orang ini," bisik Rey dalam hati.


"Rey,"


"Hemm,"


"Apa Ayah sudah tidur?" tanya Wibie untuk mencairkan suasana.


"Belum,"


"Apa ia yang menyuruhmu naik?"


"Iya," jawab Rey singkat.


"Apa Ayah juga memintamu untuk mengecek si buyung?" selidik Wibie.


"Tidak seperti itu," jawab Rey dengan nada cukup tinggi.


Kali ini ia membalikkan tubuhnya dan duduk bersila kembali menghadap Wibie.


Wibie bisa melihat jelas, rona merah di kedua pipi istrinya yang tidak mampu ia sembunyikan.


"Terus mau apa lagi? Kau mau menyerangku kembali?" tanya Wibie semakin menggoda.


Wajah itu semakin merona. Wibie begitu menikmati pesona istrinya yang semakin cantik jika tersipu-sipu begini.


"Sini,"


Wibie merentangkan tangannya. Menarik Rey dalam pelukannya.


Dalam hitungan detik, Rey sudah berbaring disamping Wibie. Dalam pelukan laki-laki yang kini sudah SAH menjadi suaminya


Rey meraih tangan Wibie dan memegangnya dengan erat.


"Aku hanya ingin memastikan sesuatu?"


Rey mulai membuka suara.


"Kau meragukan apakah si buyung bisa hidup atau tidak?" selidik Wibie


"Keterlaluan," desah Wibie


"Bukan itu,"


"Trus apa? Apa kau mau memastikan ukuran tubuh si Buyung?" canda Wibie lagi.


Rey tidak menjawab, ia mencubit pinggang kiri suaminya sekeras mungkin. Karena kaget Wibie teriak seketika itu juga.


"Sakit. Belum apa-apa kau sudah punya indikasi KDRT padaku?" ujarnya sembari menahan sakit.


"Makanya. Dengarkan dulu penjelasanku. Jangan dipotong-potong terus," ujar Rey kesal


"Iya..iya.....,"


Kali ini Wibie menyerah. Tidak akan memotong pembicaraan nyai ratu sebelum beliau selesai bicara.


"Waktu aku mandi, aku melihat aneka macam sabun dan perlengkapan mandi lainnya ada di rak samping shower. Yang cukup membingungkan, kenapa kau juga menyediakan sabun khusus wanita di sana? Keherananku tak cukup sampai di situ. Dalam tumpukan handuk yang ada di rak, kenapa juga ada warna ungu dan pink. Tiba- tiba aku berpikiran bahwa kau ini transgender,"


Wibie terkekeh seketika itu juga. Tawanya makin menjadi. Ia tidak habis pikir kenapa Rey bisa punya pikiran sejauh itu.


"Aduh, kau ini payah," celetuknya


"Apa kau tidak tau jika lemari hias itu aku sediakan untukmu," ujar Wibie sembari mengarahkan telunjuknya ke arah meja hias yang ada di dekat ruang ganti.


"Iya. Tau," sahut Rey dengan polonya.


"Selain itu aku juga menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh kaum perempuan pada umumnya. Makanya ada perlengkapan mandi yang kau sebutkan tadi," lanjut Wibie lagi.


"Pantes saja kau seperti kesurupan melihatku dan kabur hanya mengenakan handuk sore tadi. Rupanya ini toh alasannya?"


"Padahal aku juga sudah menyiapkan beberapa potong pakaian lengkap di lemariku. Kau tidak perlu turun ke bawah untuk mencari baju ganti. Kau terlalu cepat menilaiku dari sisi yang negatif," suara Wibie begitu pelan. Seolah-olah ada kesedihan yang ia rasakan.


Bersambung......