
Taxi berwarna biru yang ditumpangi Wibie dan Pak Eko tiba di depan toko. Karena hari baru menunjukkan pukul 3 sore, jadi Rey belum menutup tokonya itu. Ibu yang sedang hamil besar itu terlihat sedang mengerjakan sesuatu di laptopnya.
Alfian dan Fauzan tidak terlihat, mungkin keduanya sedang mengantar pesanan ke ekspedisi atau sedang mengambil barang di pabrik.
Pak Eko yang duduk di samping sopir turun lebih dulu, kemudian ia segera membuka pintu mobil bagian belakang dan membantu Wibie keluar dari kendaraan itu.
"Hati-hati,Pak. Ini tingkatnya dipakai dulu," dengan sabar Pak Eko membantu Wibie turun dari mobil itu.
Rey yang melihat kedatangan mereka segera beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri suaminya dengan muka yang begitu panik.
"Aduh mas, kau bilang tidak apa-apa tapi kakimu juga ikut cidera!" Ujar sembari meraih tangan Wibie dan menciumnya.
"Kan aku bilang jatuh dari pohon. Kakiku pasti cideralah. Tapi sudah diperiksa dokter dan di scan. Tidak usah khawatir, bisa pulih beberapa hari ke depan,"
Mereka bertiga melangkah menuju ruang keluarga. Wibie melepas tongkat penyangga nya dan segera duduk di sofa dan kedua kakinya dibiarkan selonjor diatasnya.
"Alhamdulillah, kita Istirahat dulu, pak. Ngopi-ngopi dulu. Masih ada waktu kok," ujar Wibie.
"Loh, memang langsung pulang, Pak?" tanya Rey pada teman kerja suaminya itu.
"Iya, Mbak. Sudah pesan tiket sekalian. Ikut penerbangan terakhir,"
"Bukannya nginep dulu. Apa ga capek?"
"Bisa istirahat di jalan. Dipesawat juga bisa tidur kok," sahut Pak Eko memberikan alasan.
Bu Fat yang datang dan membawakan mereka minuman juga sangat prihatin melihat Wibie yang pulang dengan leher yang menggunakan penyanggah dan berjalan dengan alat bantu. Belum lagi tangan kirinya yang masih terbalut perban.
Wibie bisa membaca kegusaran wanita itu dan mencoba menenangkannya dengan tersenyum dan menggerak-gerakan bagian tangan dan kakinya.
"Tidak apa-apa, Bu. Sebentar juga pulih," ujarnya meyakinkan Bu Fat.
"Mau urut patah tulang, Mas. Kan ada di kampung sebelah," Bu Fat menawarkan.
"Sepertinya ga usah dulu, Bu. Dari hasil scan sih tulangnya bergeser sedikit doang. Saya juga sudah merasa enakan sekarang. Mungkin jika semakin sering dibuat jalan akan segera kembali normal,"
"Syukurlah kalau begitu. Mudah-mudahan cepet sembuh," harap Bu Fat.
"Aamiin," sahut semuanya.
"Devara mana?" tanya Wibie
"Dia dijemput Oma di sekolah tadi dan dibawa pulang ke Duren Sawit. Katanya kangen sama dedek bayi," sahut Rey.
"Oh, pantes ga ada suaranya,"
Kemudian Wibie mengajak Pak Eko untuk menikmati kopi yang sudah disuguhkan Bu Fat juga kue kecil yang terhidang di atas meja.
"Ayo, Pak diminum dulu. Kuenya juga dicicipi," ajak Wibie.
"Ke dapur cokelat aja Bu, minta anterin Alfian sebentar. Tuh orangnya sudah Dateng?" pinta Wibie pada Bu Fat.
"Ga usah repot-repot, Pak. Sebentar lagi juga mau berangkat,"
"Ga apa, masa pulang dari Jakarta tangan kosong. Kasian anak-anaknya!"
Pak Eko tersenyum, ia semakin tidak enak hati karena Wibie terlihat repot memberi kode ke sana dan ke sini agar ia bisa pulang dengan membawa buah tangan.
Wibie memberi kode pada Rey agar menyiapkan uang dalam amplop untuk Pak Eko sebagai tanda terima kasih telah mengantarkan Wibie hingga sampai ke rumah dengan selamat.
Setelah menghabiskan kopinya dan mencicipi kue yang disajikan, Pak Eko segera pamit undur diri. Wibie mengantarkan pria itu hingga di depan toko, memesankan taxi untuknya.
"Terimakasih, Pak. Lima hari ini saya benar-benar sudah merepotkan bapak. Salam untuk keluarga. Sampaikan permohonan maaf saya kerena sudah mengambil waktu bapak yang seyogyanya untuk berkumpul dengan mereka," ucap Wibie sembari memeluk pria itu.
"Sama-sama, Pak. Jika tidak begini mana mungkin saya bisa sampai ke Jakarta," canda pria itu.
Rey keluar membawa satu godybag berukuran besar yang bertuliskan "Dapur Coklat" dan memberikannya pada Pak Eko.
"Ini ada coklat untuk anaknya, saya tidak bisa memberikan apa karena bapak buru-buru pulang,"
"Ga usah repot-repot, Mbak. Saya senang bisa menemani pak Wibie. Selama ini dia sudah banyak membantu saya,"
Pak Eko segera pamit ketika taxi yang dipesan Wibie sudah tiba di depan toko mereka. Pria itu berkali-kali mengucapkan terimakasih karena Wibie juga memasukkan amplop dalam saku bajunya, amplop yang cukup tebal.
"Untuk beli oleh-oleh anaknya, maaf saya tidak bisa memberikan apa-apa," bisik Wibie pada pria pada saat berjabat tangan.
****
"Mas, kita harus bicara?" tegas Rey ketika taxi yang membawa Pak Eko sudah raib dari pandangan mereka.
"Galak banget, aku jadi takut," seru Wibie. Pria itu memasang muka bak anak kecil yang tertangkap sedang mencuri oleh orang tuanya.
"Alfian, kakak ke dalam dulu sebentar. Titip toko," ujar Rey pada asistennya itu.
"Iya, Kak,"
"Yang benar kerjanya, tar diajak bicara empat mata juga loh," Wibie meledek Alfian sembari melirik ke arah istrinya.
Alfian hanya tersenyum menyeringai, ia tidak faham dengan maksud ucapan bosnya itu.
Wibie mengikuti langkah Rey yang sudah lebih dulu masuk ke rumah. Ia yakin, Rey pasti akan mengintrogasinya karena sejak tadi tatapannya penuh curiga pada Wibie.
"Ya, sudahlah. Mau apalagi. Kalau dia tidak percaya dengan alasan yang aku buat, mungkin aku memang harus jujur pada bumil yang satu ini," ujarnya sembari melangkah pelan, masih dengan tongkat pengangah tubuhnya.
"Wanita memang punya perasaan yang lebih peka, tau aja kalau suaminya bohong," ujarnya lagi. Kali ini disertai senyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya.