
(Satu tahun kemudian)
Rey baru saja menyelesaikan makalah akuntansi pemerintahan sebagai bahan presentasi sore ini. Dilihatnya jam dinding yang tergantung di atas pintu toko, waktu sudah menunjukkan pukul 10.00 wib.
"Saatnya Devara pulang sekolah,nih" pikir Rey sembari membereskan buku-buku yang dipakainya sebagai bahan referensi mengerjakan makalah.
"Tidak berasa, sudah lima semester berjalan, kuliah lancar, anak-anak sehat, usaha lancar, keluarga juga bisa terurus," Rey menghela nafas lega. Ia merenggangkan otot bahunya sebentar dan mengangkat kedua tangan setinggi mungkin.
Belakangan ini ia memang begitu sibuk, Nathan sudah bisa berjalan jadi harus mendapatkan perhatian khusus. Meskipun suster Nisha begitu telaten mengurus anak itu, namun Rey juga tidak mau lepas tangan. Ia tetap memanfaatkan perannya sebagai ibu pada masa golden age pada anak-anaknya.
Terdengar suara suster Nisha berkali-kali memanggil Nathan semakin dekat menuju ke arahnya.
" Nathan .... Ayo satu suap lagi, dek," Seru Nisha yang berjalan mengikuti Nathan.
Tidak salah lagi, ternyata Nathan berlari-lari kecil menghampiri toko diikuti Nisha yang membawa mangkok bayi dan botol minuman.
Rey berdiri di depan pintu dan segera menyambut anaknya itu. Nathan yang montok itu tersenyum ke arahnya dan segera menjatuhkan dirinya ke pelukan Rey.
"Duh anak ganteng. Pudingnya udah abis belum?" tanya Rey sembari menghujani anaknya dengan ciuman.
"Satu suap lagi, Bu. Adek lahap banget nih maemnya," sahut Nisha yang sudah membungkukkan badannya dan menyodorkan sendok uang berisi potongan puding ke arah mulut Nathan.
"Aem," seru Nisha sembari ikut membuka mulutnya.
Nathan menangkap sendok yang menuju ke arah mulutnya dan melahap habis potongan puding terakhir, masih dengan tingkahnya yang bergelayutan di gendongan Rey.
"Adek sama suster dulu ya, mama mau jemput kakak," ujar sembari Rey mengelus lembut rambu anaknya yang tumbuh lebat.
Anak itu masih meluk Rey dengan erat, ia menolak ketika Rey berusaha melepaskan gendongan dan memberikan tubuh montok itu pada suster Nisha.
"Pinteran aja nih, meluknya makin kenceng," seru Rey sembari tersenyum pada anaknya itu.
"Biar saya aja yang jemput kakak, Bu," Nisha menawarkan bantuan karena melihat Nathan yang tak mau lepas dari ibunya.
"Jangan.Tadi Devara sudah pesen minta dijemput mamanya. Kasian. Tar dia sedih," jelas Rey memberi alasan.
"Ayo, Dek...ikut mbak, ya!"
Nisha berusaha membujuk Nathan agar mau lepas dari mamanya.
Setelah berbagai rayuan tak bisa mengoyahkan sikap si adek, akhirnya Nisha pergi ke kamar untuk mengambil mainan.
Tak lama, ia datang lagi ke toko dengan membawa game A-BA- TA dan menyodorkan benda itu pada si adek. Dalam sekejap, cowok imut itu minta turun dengan sendirinya dan mengambil mainan yang sudah diletakkan di ubin.
Kini Rey berasa lega, ia bisa menjemput Devara. Ia khawatir anak itu merasa cemburu jika permintaannya tidak dipenuhi.
Belakangan ia sering protes karena Rey lebih perhatian pada adeknya. Rey tidak mau anak itu tubuh dengan perasaan yang dibeda-bedakan oleh orang tuanya. Untuk itu sebisa mungkin ia berbuat adil dan berbagi perhatian pada Devara dan Si kecil.
*****
Tiba di sekolah Devara, suasana jalanan sudah sepi. Mobil dan motor yang biasanya memadati jalanan sudah menghilang, kini jalanan mulai legang hingga Rey bisa leluasa memarkirkan motornya.
"Duh, telat ini. Pasti si cantik cemberut kelamaan menunggu,"
Rey berlari kecil agar bisa segera sampai di kelas Devara. Benar saja, koridor yang ia lewati juga sudah sepi. Namun ada satu kelas yang masih ditutup dan terdengar suara anak-anak di dalam. Ternyata itu kelasnya Devara.
"Alhamdulillah, ternyata kakak belum keluar kelas. Tapi kenapa orang tua yang menjemput juga sepi?" tanya Rey mulai ragu.
Karena tidak ada orang yang bisa ia tanyai, akhirnya Rey membuka pintu itu dengan pelan agar tidak menggangu aktifitas anak-anak yang ada di dalam.
Terlihat anak-anak sedang menikmati makanan yang tersaji di meja masing-masing. Satu paket menu HokBen, satu botol minuman kaleng, dan berbagai aneka snack yang di kemas dalam godybag transparan.
"Oh... sepertinya ada yang ulang tahun," Rey mulai mengangguk-anggukkan kepala.
"Walimuridnya ada di sebelah, mama," tiba-tiba suara yang berasal dari belakang mengagetkan Rey yang tengah asik mendongakkan kepalanya ke kelas Devara dari celah pintu yang ia buka sedikit.
"Eh, ibu. Maaf. Saya baru dateng mau jemput Devara. Kirain sudah telat, ternyata anak-anak masih pada makan," Rey buru-buru menutup pintu dan meminta maaf pada wali kelas Devara yang baru saja menghampirinya.
"Tidak apa, Bu. Ini acara ulang tahunnya Razak. Mendadak saja hari ini orang tuanya memberi tahu. Di samping para walmur juga lagi makan, Bu. Disediakan juga sama mamanya Razak,"
"Oh, begitu," sahut Rey tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Segera ia dan wali kelas Devara masuk ke ruang sebelah.
Sama halnya di kelas Devara, di ruang ini juga terlihat ibu-ibu yang sedang menikmati hidangan yang ada di meja. Namun penyajiannya secara prasmanan.
Bakso malang yang masih ngebul dan es buah segar tersaji dalam wadah yang cukup besar.
Untuk menghormati para wali murid yang lain dan juga mama Razak, Rey tidak menolak ketika salah satu ibu menyodor-nyodorkan mangkok steropom ke arahnya. Rey mengambil bakso malang dalam porsi yang sedikit berikut semangkuk es buah segar. Ia bergabung dengan ibu-ibu lainnya menikmati hidangan itu.
Saat sedang menyeruput kuah bakso, Rey di kagetkan oleh suara orang yang tiba-tiba duduk di sampingnya. Menyingkirkan mangkok es buah yang ia letakkan di atas bangku kosong itu.
Perempuan itu duduk dengan tenangnya setelah menepuk pelan bahu Rey.
"Dari tadi aku cari-cari kok baru nongol,"
"Eh, mbak. Maaf. Baksonya enak banget nih sampe ga tau kalau ibu ketua ada di sini," ujar Rey sembari mengangguk malu dan tersenyum ke arah Dhiza.
"Iya, kirain Devara ga di jemput. Oma bilang kalau kakak mau biar dia nginep di duren sawit,"
"Oh, dia pesen minta jemput aku. Cuma ga tau tuh, mau apa engga kalau di ajak ke Oma. Nanti sore kan papanya pulang," jelas Rey lagi.
"Oh begitu. Oma kesepian. Di rumah tinggal sendiri. Itulah orang tua, kadang dia punya alasan sendiri kenapa tidak mau tinggal dengan anak-anaknya," ujar Dhiza dengan tatapan kosong.
Sudah setengah tahun ini Dhiza dan suaminya menempati rumah neneknya yang berada persis di samping rumah Oma. Oleh sebab itu ia banyak tau tetang keseharian Oma tanpa anak dan cucunya.
"Iya, Mbak. Sebisa mungkin saya juga sering main ke sana. Terutama akhir pekan. Kalau hari kerja repot banget, paling Oma yang nyamperin kita," ujar Rey lagi.
"Oh, ya. Gimana nih adek bayinya. Udah mau tiga bulan ya?" tanya Rey sembari mengelus perut Dhiza.
"Iya, sudah 15 minggu. Insya Allah ****** minggu ini sudah bisa liat jenis kelaminnya" sahutnya dengan antusias.
"Alhamdulillah, semoga sehat ya. Ga sabar mau liat Pras Junior," seru Rey lagi.
"Iya. Sepertinya sih cewek, Rey. Soalnya aku jadi begitu sensitif, ga doyan makan, udah itu mual-mual kalau mencium tubuhnya Mas Pras,"
"Apapun jenis kelaminnya yang penting sehat, Mbak"
"Iya. Terimakasih. Gimana tugas akhir semesternya? Mas Pras baru pulang besok. Maaf sudah ngerepotin kamu. Aku kan ga faham akutansi jadi ga bisa membantunya,"
"Sudah selesai. Baru tadi, sebelum aku ke sini. Dulu waktu abis lahiran aku juga ngerepotin Pras. Dia yang paling sering ngerjain makalahku. Gantian. Yang penting kita bisa lulus sama-sama,"
"Terimakasih ya, Rey. Harusnya aku malu. Ngerepotin ibu dengan dua balita. Belum lagi kamu sibuk ngurus usaha,"
"Ga apa. Selagi aku bisa, aku sih oke saja,"
"Jangan ngeluh begitu, Mbak. Dinikmati saja biar debaynya bahagia. Pras juga sudah mau selesai tugasnya. Ih....baru ditinggal sepuluh hari aja sudah rindu berat. Dilan banget ih," canda Rey.
Dhiza tidak menjawab apapun. Dia hanya tersenyum mendengar celotehan Rey. Dhiza menenani Rey hingga makanan yang ada di mangkoknya habis.
Saat ini Dhiza memang tengah hamil. Menurut Pras, kehamilan istrinya memang sedikit merepotkan karena mabok-mabok dan terlalu rewel. Namun Pras bisa bersabar karena sedikit merepotan itu tidak ada apa-apanya jika dibanding kebahagiaannya yang akan segera mempunyai momongan.
Pras dan Dhiza yang telah melaksanakan pernikahan hampir satu tahun itu harus menelan pil pahit ketika Dhiza mengalami keguguran saat hamil pertama, waktu itu usia kehamilan Dhiza sudah berusia 8 Minggu.
Syukur Alhamdulillah, Allah segera memberi kebahagiaan lagi pada mereka. Selang satu bulan, Dhiza hamil lagi. Tentu saja Pras lebih hati-hati dan perhatian pada istrinya. Terutama menjaga perasaan Dhiza agar selalu bahagia.
*****
Usai sholat Jumat, Rey meninggalkan toko karena harus menyiapkan makan untuk kedua anaknya. Alfian dan Fauzan yang baru saja datang setelah Jum'atan di masjid dekat rumah menggantikan tugas Rey mempacking pesanan costumer untuk dikirim sore ini.
"Tinggal yang ini, alamat tujuan sudah ngikut sama barangnya," ujar Rey menjelaskan sembari menunjuk tumpukan barang yang dimaksud.
"Iya, mbak. Barang yang mau dikirim ke Mangga Dua sudah siap?," Tanya Alfian
"Oh, iya. Udah. Itu yang ada ditumpukkan paling bawah. Mau dianter sekarang?"
"Iya, nanti keburu tutup tokonya,"
"Ya udah, kamu makan dulu. Biar Fauzan yang ngemas barang," ujar Rey lagi pada Alfian.
"Iya, Kak. Saya angkut barangnya dulu ke mobil,"
Alfian segera mengangkut tumpukan baju yang dimaksud ke dalam mobil box yang terparkir di depan toko. Sementara Fauzan melanjutkan tugasnya, membungkus barang dari pesanan online. Rey sendiri segera beranjak ke rumah karena suara Devara sudah beberapa kali memanggilnya.
Ketika sudah di ruang keluarga, Rey melihat suster yang sedang menyuapi Nathan, sementara Devara duduk di sampingnya adiknya. Satu piring nasi lengkap dengan lauk lauknya telah siap di meja yang ada di depannya. Mukanya cemberut tertuju pada Rey yang tengah menghampirinya.
"Adek udah disuapin dulu. Buruan, Ma. Nanti abisnya duluan adek," rengeknya tidak sabar
"Iya, sayang. Tadi mama ada urusan dulu sama Om Alfian. Sabar, Kakak kan maemnya lebih cepet dari adek. Pasti menang, deh," bujuk Rey sembari meraih piring nasi milik Devara dan siap menyuapi anak gadisnya itu
"Eit, baca doa dulu," ujar Rey mengingatkan ketika anak itu serta merta membuka mulutnya ketika sendok sudah mengarah ke mulutnya
"Iya, lupa. Adek juga ga baca doa tuh,"
"Besok-besok, kalo adek mau makan kakak ajarin berdoa, ya. Adek kan belum bisa ngomong. Jadi kakak yang bantuin,"
"Iya," sahut Devara sembari mencium pipi adiknya dengan gemas.
Melihat itu Rey menjadi senang. Ia begitu bahagia melihat Devara yang begitu menyayangi adeknya. Meski ia kerap cemburu dengan Nathan namun ia tidak bisa jauh dari adiknya. Tidurpun mintanya bareng si kecil
Tak berapa lama, Wibie datang. Tiba-tiba sudah masuk rumah tanpa terdengar suara mobilnya.
"Assalamualaikum," Wibie mengucapkan salam sembari menghampiri anak dan istrinya. Ia masih mengenakan seragam lengkap.
"Waalaikum salam," sahut Rey kaget dan segera menyambut suaminya dengan salaman. Wibie juga mengulurkan tangannya ke arah Devara dan Nathan serta mencium mereka bergantian.
"Kok ga denger suara mobil. Parkir dimana?" tanya Rey
"Tadi pagi dianter sopir karena ada urusan mendadak di kantor pusat. Jadi aku ga balik lagi ke lapangan. Pulang baik ojol,"
"Senin balik ke lapangan gimana, pake ojol lagi kan jauh, Pa?"
"Seminggu ke depan aku di kantor pusat. Mobilnya juga ada di sana. Lagi dipake buat nganterin tamu ke bandara," jelas Wibie yang sudah merebahkan tubuhnya di atas sofa.
Ia segera bercengkrama dengan kedua anaknya. Devara yang melihat Papanya mencium dan mencubit gemes pipi adeknya tak mau kalah. Ia mencuri perhatian papanya dengan merapatkan tubuhnya ke arah Wibie dan akhirnya duduk dipangkuan papanya.
"Makannya dihabisin dulu, sayang. Tinggal satu suap lagi," Devara membuka mulutnya dengan lebar dan menangkap sendok yang diarahkan Rey ke mulutnya.
Melihat pemandangan itu Wibie hanya bisa geleng-geleng kepala. Devara yang selama ini mandiri, kini berubah menjadi begitu kolokan saat sudah punya adik.
Sebagai orang tua, Rey dan Wibie cukup bijaksana dalam menyikapi kecemburuan sang kakak. Sebisa mungkin mereka memenuhi permintaan Devara untuk diperlakukan sama dengan adeknya sembari memberi pengertian secara berlahan.
Dulu jika Nathan nangis minta susu, Devara justru minta gendong Rey agar si mama ga bisa menyusui adeknya. Namun lebat laun ia bisa mengerti.
Kini jika Rey sedang menyusui, Devara juga berbaring di sisi sang adik sembari mengelus lembut adiknya. Kadang keduanya langsung tidur karena terbawa suasana.
*****
Pukul 03.00 WIB
Setelah makan dan bermain dengan papanya, anak-anak tertidur pulas di kamar atas. Kamar kosong yang ada di samping kamar utama kini dijadikan kamar Devara dan Nathan. Untuk sementara mereka tidur di kamar yang sama hingga berani menempati kamarnya masing-masing.
Jika siang mereka tidur di kamarnya sendiri, namun pada malam hari sudah kacau aturan. Mereka berempat kembali tidur satu kasur di kamar utama.
"Tinggal aja. Siap-siap berangkat ke kampus," Wibie mengingatkan Rey yang tengah menginput data penjualan hari ini.
"Sebentar, baru jam 3. Kan kuliahnya setelah magrib," sahut Rey singkat. Pandangan tertuju pada layar laptopnya.
"Tinggalin dulu, biar Alfian yang nerusin," pinta Wibie lagi. Kali ini dia memberi kode khusus pada istrinya agar mengikuti kemauannya.
"Ish....itu mah ada maunya," seru Rey yang melihat ekpresi suaminya.
"Cepetan, keburu anaknya pada bangun," ajaknya lagi.
"Sabar, sebentar lagi. Tanggung ini. Naik aja duluan. Nanti aku nyusul,"
Wibie tidak beranjak. Ia masih berdiri di belakang rey. Mengelus-elus bahu istrinya dan sebentar-sebentar mencubit pipi Rey dan menghembuskan nafas lembutnya ke telinganya
Rey menyerah. Ia akhirnya menutup laptopnya dan segera beranjak dari tempat duduknya.
"Kalau mau ke pabrik tunggu Alfian dateng, ya. Sebentar lagi sampai kok. Barusan ia bilang sudah di Senen," pesan Rey pada Fauzan. Pada jam segini biasanya Fausan mengambil jahitan dari pabrik.
"Iya, mbak," sahut Fauzan dengan senyum . Rey bisa membaca jika ia faham kode keras yang di bisikkan Wibie.
"Bayi tua minta dikelonin," seru Rey lagi disertai lirikan halus ke arah suaminya.
"Si buyung sudah flu aja kalo ketemu si nuri. Harus diobati biar ga tersumbat," samber Wibie mencoba membuat alasan.
Fauzan tertawa seketika. Bosnya itu memang ada saja alasannya jika jam segini minta di sayang sama istrinya.
"Mas Wibie bisa aja, saya jadi pengen buru-buru nikah kalau begini," sahut Fauzan bercanda.
Rey hanya bisa tertawa karena Wibie sudah menarik tangannya. Mereka segera naik ke atas menunaikan tugas yang sudah seminggu ini belum terjamah.
Sejak ada Nathan, setiap malam mereka tidur berempat. Harus pandai-pandai mencari waktu untuk memandu kasih. Rey juga faham dengan kebutuhan suaminya itu. Untuk itu, siang hari pun Rey akan datang jika Wibie butuh sentuhan.