
"Dosennya ga dateng, Rey," Pras yang baru saja masuk ruang kelas memberi kabar pada Rey.
Ia tidak sabar menunggu, karena sudah lebih dari 15 menit dosen yang ditunggu tidak datang, Pras berinisiatif untuk ke ruang administrasi.
Ia menemui mbak Diah yang bertugas di prodi fakultas ekonomi kelas karyawan. Dari keterangan wanita itu, sang dosen berhalangan hadir karena ada tugas luar.
"Yah, kenapa ga diumumin dari tadi, ya,"
" Kata Mbak Diah sudah ditempel pemberitahuan sore tadi. Tap entahlah, mungkin terbang di bawa angin,"
"Jadi mau pulang atau nunggu di sini?" tanya Pras
"Tanggung. Sejam lagi ada akutansi,"
" Ya udah, Kita cari minum yuk daripada bengong di sini," ajak Pras.
Rey tidak menjawab, pandangannya masih tertuju pada layar gedgetnya. Ia terlihat sedang ngobrol di WA dengan seseorang.
"Wibie mau ke sini?" tanya Pras lagi.
Rey menutup WA dan menyimpan kembali HP itu dalam saku bajunya.
"Tidak. Ia lagi di Duren sawit, usai nganter aku langsung ke sana, dia mau ketemu Devara,"
"Oh, pantes ga ngintil ke kampus lagi," ledek Pras
"Aku kira dia memang mau kuliah di sini, ternyata cuma ngisengin kamu aja," lanjut Pras lagi.
Rey tersenyum tipis, ia beranjak dari tempat duduknya dan melangkah menuju kantin
"Mau ke mana?" tanya Pras bingung. Ia bicara tidak ditanggapi kok malah ditinggal pergi.
"Katanya mau cari minum, gimana sih," Rey mulai merajuk
"Iya, he... he..." Pras segera mensejajari langkah Rey dan berjalan menuju ke kantin.
"Pantesan kelas kok sepi, abis kuliah PE pada kabur dari kelas," ujar Wibie.
"Payah, nih. Ada info pada ga mau share," sahut Rey mendengus kesal.
"Mereka ga mau share atau kita aja yang kudet. Mbak Diah kan udah bilang, pengumumannya udah di tempel," Pras coba mengingatkan.
"Iya, ya..."
Keduanya jadi tertawa. Menertawakan kekonyolan dirinya sendiri.
Mereka terus melangkah menelusuri koridor gedung B menuju ke kantin yang ada di belakang gedung itu.
Beberapa teman yang berpapasan dengan mereka diajak ke kantin cuma melambaikan tangan. Lebih memilih duduk di sisi tangga sembari bercengkrama dengan teman lainnya.
"Kamu ga makan?" tanya Pras ketika mereka sudah duduk di kantin yang mulai sepi.
"Enggak. Kalau kamu mau makan pesen aja, aku mau makan di rumah ibu aja,"
"Lagian belum begitu laper. Tadi juga dibawain kebab sama Mas Wibie,"
Rey mengeluarkan kotak kecil berwarna hijau dari tas ranselnya. Ia membuka kotak itu dan menyodorkannya ke arah Pras.
"Nih, buat temen minum. Lumayan buat ganjel perut," ujar Rey sembari tersenyum tipis.
"Itu suamimu menyiapkan untuk istrinya biar ga laper, kenapa malah di kasih ke aku,"
"Ada 3 kok. Aku cukup satu. Udah kenyang," jelasnya lagi.
"Alhamdulillah, rezeki anak Sholeh. Aku makan ini aja, jadi ga usah pesen makanan"
"Terserah saja, perutmu ini yang ngerasain," sahut Rey sekenanya.
Pras mencibir ke arah Rey. Kadang-kadang Rey suka bicara sekenanya saja pada Pras.
Pras membasuh tangannya dengan handsanitaser yang selalu ada di tasnya. Kemudian mengambil satu kebab dari kotak itu dan melahapnya dengan rakus.
"Enak, pinter juga suamimu masak," pujinya.
"Kebab prozen, tinggal manasin doang di microwave,"
"Oh, lumayan juga ini. Coba kau beli yang banyak, buat stok aku juga di rumah. Maklum bujangan, suka laper kalo malam tapi ga ada yang mau masakin,"
"Ah, celametan, udah di kasih gratis malah minta mentahnya juga,"
"Aku bayar. Perhitungan banget sih," ujar Pras mulai kesal.
Rey terkekeh sesaat melihat ekpresi Pras yang tiba-tiba melotot ke arahnya sembari memasang muka sok garang.
"Suamimu baik banget, istrinya kuliah dibawain bekal. Servisnya memuaskan nih kayaknya?"
"Hadew....mulai deh,"
Pras tersenyum, ia tidak melanjutkan candaannya karena Rey sudah memasang muka galaknya.
Es jeruk yang mereka pesan sudah datang. Sembari meletakkan gelas, pelayan itu bertanya,
"Makannya apa,Bang?"
Pelayan kantin itupun segera pergi dan meninggalkan mereka
"Kenapa Wibie ga mau nemui aku , kemaren. Padahal dia kan sudah kenal sama aku?" tanya Pras penasaran atas sikap Wibie yang lekas kabur meninggalkan kelas tanpa menghampiri mereka.
"Dia cemburu padamu," ujar Rey dengan entengnya.
"Hah, aku ga salah denger,"
"Iya, dia punya alasan sih. Menurutnya, aku memperlakukanmu begitu spesial, dari sekian banyak teman kuliah kenapa hanya kau yang diundang pada acara nikahan itu?"
"Walah, menurutmu kenapa? Aku pikir juga aneh sih!" Ujar Pras lagi.
"Memang aku ga mau ngundang. Selain karena kita baru saja mulai kuliah, aku juga ga mau kalau mereka tau aku sudah menikah,"
"Loh," Pras mengeryitkan keningnya dan memandang serius ke arah perempuan yang ada di depannya.
"Why?"
"Aku malu," Rey bicara begitu pelan, suaranya nyaris tak terdengar oleh Pras.
"Suamimu tampan, mapan, pintar, dan yang paling penting dia begitu menyanyangimu, lantas apa yang membuatmu malu? Apa karena status dia yang duda?"
"Bukan itu. Aku malu menikah muda. Sejak kecil aku bercita-cita kuliah hingga tamat, kerja, kemudian nikah,"
"Itu kan rencanamu. Tapi Allah menghendaki lain. Jika rencanamu itu berjalan sesuai dengan keinginanmu, belum tentu kau mendapatkan suami seperti Wibie,"
"Please dong Rey. Hidup itu harus realistis. Lihat diluar sana! Berapa banyak wanita-wanita seusiamu begitu iri padamu,"
"Iri?" tanya Rey bingung.
"Iya. Kau masih muda. Tapi diusiamu sekarang kau bisa menjalani fungsimu sebagai karyawan, mahasiswa, istri, dan juga ibu. Jujur saja, tidak banyak yang bisa melakukan itu. Kebanyakan dari mereka masih senang menghabiskan uang orang tuanya dan berpoya-poya,"
"Itu mah beda. Jika orang tuaku kaya, aku mungkin juga akan seperti mereka," sela Rey membela diri.
"Beda, Rey. Allah menentukan jalan hidupnya seperti ini karena ia yakin bahumu teramat kuat untuk melakukan semuanya dengan baik,"
"Bijak sekali dirimu,"
"Aku diantara orang yang terbiasa hidup enak. Sejak kecil segala kebutuhaku terpenuhi, kuliah juga dibiayai sepenuhnya oleh orang tuaku, begitu lulus mereka juga sudah menyiapkan pekerjaan yang bergengsi untukku. Lihat akibatnya, hidupku sudah terlalu nyaman hingga diusiaku yang menginjak 31 ini aku tidak berani mengambil keputusan,"
"Maksudnya," selidik Rey lagi
"Aku sudah terbiasa dengan fasilitas mewah orang tuaku hingga aku merasa terlena. Bagiku menikah akan menjadi beban saja,untuk itu aku memilih lebih nyaman sendiri. Aku takut jika istri dan anak-anakku itu hanya menjadi beban saja,"
"Ya Allah. Kenapa kau berpikiran begitu?"
Pras hanya tersenyum masam. Ia baru sadar jika usia tidak akan menunggunya siap untuk sebuah keputusan.
"Karena aku tidak bisa mengambil keputusan atas hidupku. Aku begitu iri padamu. Kau masih muda tapi kau sudah bisa menentukan tujuan hidupmu dengan tegas,"
"Karena keadaan,"
"Justru keadaan yang membentuk karakter manusia. Contohnya kita,"
"Yang satu tegas dalam bersikap meskipun masih muda, yang satunya sudah aki-aki tapi masih plin plan," tambah Pras lagi.
Keduanya diam. Rey tersenyum pada dirinya sendiri, Pras juga melakukan hal yang sama. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.
"Serapi apapun kau menutupi statusmu di kampus atau di lingkunganmu toh pada akhirnya mereka akan tahu dengan sendirinya. Lambat laun kau akan hamil kan? Atau kau juga menundanya?"
"Tidak. Aku tidak mencegah diriku untuk hamil. Jika memang dikasih cepet ya Alhamdulillah,"
"Nah itu pinter. Bersikaplah adil pada suamimu, mulainya memperkenalkan dia sebagai suamimu pelan-pelan,"
"Bikin pengumuman, gitu"
"Aku kira kau orang yang cerdas, ternyata payah," seloroh Pras.
"Aku tidak tau maksudmu?" seru Rey.
"Ganti DP WA mu dengan foto kalian berdua. Sudah nikah kok masih kayak anak SMA aja," ejek Pras.
Mungkin wajah Rey merah merona saat itu juga. Ia baru sadar, dia belum pernah mengganti DP WA sejak pertama kali menggunakan hp yang dibelikan oleh Wibie jauh sebelum mereka menikah.
"Iya, ya. Kenapa aku ga kepikiran," bisik Rey dalam hati.
"Terimakasih, ya"
"Untuk apa?" tanya Pras
"Sudah mengingatkanku,"
"Sudah sewajarnya kita saling mengingatkan. Kau sudah kuangap sebagai adikku," jelas Pras dengan tatapan yang tertancap pada mata Rey.
"Terimakasih, Bang,"
"Ha..ha...Aku ga mau dipanggil Abang. Berasa tua. Meski sudah berusia 31 tapi masih kelihatan anak seusia 20 tahun kan?"
Keduanya tertawa lepas. Rey memang beruntung, dia bisa menemukan teman sebaik Pras.
"Mudah-mudahan kecemburuan suaminya akan sirna seiring berjalannya waktu,"