Bukan Yang Pertama

Bukan Yang Pertama
EP. 9 Alex Mahardika


Alex Mahardika adalah mahasiswa akuntansi semester lima di kampus ini. Namanya dikenal oleh kalangan mahasiswa karena ia menjabat sebagai ketua senat di kampus tersebut.


Cowok ganteng dan kharismatik ini sangat disukai oleh teman-temannya. Ia di kenal sebagai orang yang ramah dan pandai bergaul. Selain dosen dan akademisi, tidak banyak yang tahu jika ia adalah anak dari pemilik kampus.


Alex berbeda dengan kelima saudaranya. Saat saudara-saudaranya lebih memilih melanjutkan sekolah di negara Eropa justru ia ingin tetap di Indonesia. Bukan karena ia tidak mampu untuk itu, sejak kecil sudah terlihat kecerdasannya justru punya kemampuan akademik di atas rata-rata.


Alex adalah anak pertama dari istri kedua, ia mempunyai satu saudara perempuan dari ibu yang sama yang terpaut usia tiga tahun dengan.


Ayahnya yang dikenal sebagai pemilik saham terbesar di universitas swasta ternama ini memang mempunyai dua istri. Keduanya saat ini tinggal bersama. Alex mempunyai hubungan yang baik dengan keempat saudara tirinya. Mereka kerap berlibur bersama layaknya keluarga pada umumnya. Ayah, kedua istrinya dan 6 orang anaknya.


Setelah berpisah dengan Rey di pintu lift, Alex tidak benar-benar ke ruang pembimbing akademik seperti alasan yang dikemukakannya. Justru ia menyembunyikan diri di balik tembok dan mengamati Rey yang mengetuk pintu Pak Gun. Ia dengan sabar berdiri di situ hingga Rey memasuki ruangan.


"Dia cantik sekali. Sepertinya aku tidak yakin jika dia anak kelas karyawan. Usianya masih muda, tidak seperti mahasiswa kelas karyawan pada umumnya," pikir Alex dalam hati.


Tiba-tiba ia membalikkan tubuhnya ke tembok. Posisinya kini sedang mencium dinding kokoh yang bercat biru itu. Ia menyembunyikan diri karena ada mahasiswa yang melintas dan menaiki anak tangga, persis di sisi tempatnya berdiri.


"Duh, untung ga ketahuan. Mereka pasti akan menjadikanku bahan gunjingan jika tau aku sedang mengintai seseorang," serunya lega.


Menyadari posisinya bisa menimbulkan kecurigaan pada orang-orang yang melintas, akhirnya Alex memilih duduk di salah satu bangku yang ada di koridor itu, ia memilih bangku yang paling pojok. Bisa mengamati ruang pak Gun, namun jarang dilintasi orang yang hendak keluar masuk ruang dosen.


Ia mengeluarkan buku dari dalam tasnya, sembarang membuka halaman dan pura-pura sedang konsen dengan bahan bacaannya itu. Sementara kedua matanya terus mengawasi pintu ruang Pak Gun. Dia khawatir jika Rey keluar luput dari pantauannya.


Cukup lama, sekitar 20 menit kemudian Rey keluar tapi tidak sendiri. Pak Gun yang dikenal mahasiswa karena keganjenannya itu meninggalkan ruangannya dan berjalan di sisi Rey. Mereka tampak serius membicarakan sesuatu.


"Saya maunya yang warna biru tadi, cuma kalo ada motif yang lain boleh juga," ujar pak Gun


"Saya sudah berpikir ke situ, ga salah saya bawa beberapa contoh di mobil. Bapak bisa lihat yang lainnya,"


"Harusnya biar saya aja yang turun, Pak. Nanti saya antar lagi ke ruang bapak,"


"Ga, apa. Aku sekalian mau keluar. Lagian kamu nanti capek naik turun,"


"He..he...bapak bisa aja. Namanya marketing apa saja dilakukan, yang penting dapet konsumen,"


"Kamu cerdas Rey, aku suka gaya mu,"


Mereka berdiri di depan lift, cukup lama menunggu hingga pintu terbuka dan membawa mereka ke lantai dasar.


"Gadis itu terlalu polos, dia belum kenal pria itu sanggup berbuat apa untuk mencapai keinginannya," ucapnya lagi begitu kesal.


Alex menutup kembali bukunya dengan kasar dan bergegas menuruni anak tangga. Ia akan menyusul ke duanya, ingin memastikan apa yang akan diperbuat oleh pria botak, berkepala lima itu.


Alex melangkah begitu cepat, sesekali ia berlari agar lekas sampai ke tempat parkir. Begitu sampai di lantai dasar, ia berjalan mengendap-endap. Mencari posisi yang pas untuk mengamati dosen hidung belang dan wanita untaianya itu.


Benar saja, Alex melihat sang dosen itu sudah terlihat memilih barang yang tersimpan di bagasi mobil Rey. Lagi-lagi mereka terlihat begitu akrab, sesekali dilihatnya juga muka Rey terlihat merona. Entah kalimat apa yang dilontarkan dosen itu hingga membuat Rey tersipu malu.


"Modus. Kampungan. Pasti pria itu melontarkan rayuannya,"


"Dasar buaya kampus," gerutu Alex semakin kesal. Ia bisa melihat semuanya dari balik kaca, di ruang tunggu yang ada di depan ruang Dekan. Posisinya persis menghadap ke arah belakang mobil Rey yang terparkir.


Ingin sekali Alex menghampiri mereka dan segera memperingatkan Rey agar berhati-hati pada pria itu. Namun ia sadar akan posisinya. Rey baru mengenalnya beberapa menit yang lalu, apa mungkin ia percaya pada ucapan orang yang masih cukup asing baginya?


Akhirnya ia hanya bisa mengumpat dan sesekali memukul tinjunya ke tembok karena menahan kesal.


"Kenapa aku begini? Apa peduliku jika terjadi sesuatu pada Rey? Dia juga belum tentu berterima kasih jika aku muncul bak Spiderman yang menyelamatkan nya dari penjahat kelamin itu?'"


Meskipun berbagai pertanyaan itu bisa dijawab dengan gambang olehnya, tetap saja logikanya saat ini tidak bisa berpikir degan jernih.


Ia harusnya memperingatkan Rey lebih awal, ketika mereka berada di lift tadi. Namun ia tidak melakukan karena begitu terpesona dengan kharisma gadis yang begitu mencuri perhatiannya pada pandangan pertama.


Alex hanya bisa menyesali diri, apalagi ia sempat melihat pak Gun beberapa kali menatap Rey dengan intent. Jelas sekali pria ini tertarik dengan Rey, dari beberapa mahasiswa yang pernah tidur dengannya semuanya mempunyai wajah yang cantik, seksi, dan kalem. Alex bisa menilai dari cerita anak-anak kampus yang sampai ke telinganya. Pak gun menyukai gadis yang pendiam namun garang di ranjang.


Alex mengamati Pak Gun membantu Rey menutup kap mobilnya, berjalan di sisi hadis itu dan membukakan pintu mobilnya, menutunya kembali begitu Rey sudah duduk di depan stirnya hingga mereka kembali bercakap-cakap dengan jarak yang begitu dekat. Sebelum Rey menyalakan mesin mobilnya dan meninggal tempat itu, Pak Gun masih sempat tersenyum genit dan melambaikan tangan. Terus saja ia mengangkat tangannya hingga Rey benar-benar hilang dari parkiran, meninggalkan kampus.


Happy reading all, tetep saja Author tidak bosan-bosan minta dukungan. Mohon untuk tinggalkan Hb


✓ LIKE


✓ KOMENTAR


✓ VOTE -nya ya🙏🙏🙏


Apresiasi dari kalian semua membuat saya semakin bersemangat untuk update. terimakasih 😊😊😊