Bukan Yang Pertama

Bukan Yang Pertama
EP. 12 Panggilan Telpon 2


Rey sudah menyiapkan makan malam untuk Pak suami. Cah kangkung dan pepes ikan mas. Bu Fat membatu Rey meracik bumbu-bumbunya, Rey yang memasak cah kangkung kesukaan suaminya.


Setelah siap, Bu Fat lebih dulu pamit untuk istirahat, tak lama setelah ia masuk kamar terdengar dengkurannya. Suaranya lamat-lamat terdengar dari ruang keluarga.


Rey yang sudah mengganti pakaiannya dengan daster lengan sejari denngan tinggi di atas lutut duduk dengan santai di sofa. Ia mengangkat kedua kakinya, duduk bersila kayaknya orang yang tengah bersemedi. Dipeluknya bantal kursi yang tergeletak di sofa itu dengan padangan yang tidak terlepas dari layar TV.


Rey akhir-akhir ini memang sedang mengandrungi drama Korea. Saat ini ia sedang mengikuti drama Korea yang berjudul The King, Eternal Monarch yang dibintangi Lee Min Ho.


Dalam serial itu Min Ho berperan sebagai Lee Gon, kaisar generasi ketiga dari kerajaan fiksi bernama Corea. Dia digambarkan sebagai pria sempurna, yang unggul dalam bidang sastra dan seni.


Tak ketinggalan Lee Gon juga merupakan atlet dayung.


"Hemmm......," bisik Wibie halus tepat di telinga Rey. Saking terpakaunya dengan adegan Babang Min Ho, Rey tidak menyadari kehadiran Wibie yang sudah lama berdiri di belakangnya dan menahan senyum melihat kelakuan istrinya menatap layar kaca tanpa berkedip sedikitpun ketika bang Min Ho melakukan adegan ciuman dengan pasangan mainnya.


"Serius banget, sambil di resapi ya?" goda Wibie.


"Masakan kali, pake di resapi," elak Rey. Ia menghentikan tayangan drama itu dan beranjak dari sofa empuknya.


"Ayo kita makan?" Rey berjalan mendahului suaminya ke me makan. Hidangan sudah tersaji, begitu juga segelas air hangat untuk Wibie.


"Hemmm lezat banget nih keliatanya. Kangkungnya masih anget,"


"Iya, baru juga di oseng beberapa menit yang lalu,"


Rey duduk di depan Wibie, dengan sabar ia menunggu suaminya menikmati makan malamnya dengan elegant.


"Kamu ga makan?"


"Udah jam segini," sahut Rey putus asa.


"Ga usah di tahan. Sesekali melanggar aturan juga ga ada salahnya. Ga bikin gendut kok, apalagi abis ini di bawa olahraga,"


Rey mulai berubah pikiran, ucapan suaminya ada benarnya juga. Akhirnya ia sudah tidak bisa menahan diri, air liur yang ditelannya berkali-kali karena melihat Wibie yang begitu nikmat menyantap hidangan di depannya, akhirnya terhenti.


Rey mengambil piring dan menuangkan satu centong nasi dalam piringnya. Dibukanya satu pepes ikan mas yang masih utuh, tak lama ia mulai menikmati lezatnya pepes ikannya yang di buat oleh Fat. Ikan segar yang di bawa Fauzan dari rumahnya karena tambak ikan mereka sedang panen raya.


Senyum Wibie mengembang di ujung bibirnya. Dengan tetap menikmati suapan demi suapan dari piring nasinya, ia mengamati Rey yang menjilati ujung-ujung jarinya.


"Nambah, jangan takut gendut. Lagian kalau gendut juga ga apa, toh sudah laku ini,"


"Apaan sih, siapa yang takut gendut. Cuma kalau makan jam segini itu bisa menambah berat badan yang signifikan. Bukan gendutnya yang ditakuti, cuma aku ga mau jika suamiku tidak tertarik lagi melihat bentuk tubuhku yang semakin melar,"


Wibie terkekeh sesaat mendengar penjelasan istrinya itu. Ia memang faham, Rey sangat menjaga bentuk tubuhnya dan semua itu ia hadiahkan untuk dirinya.


"Setelah ini kita olahraga. Lemaknya akan terbakar saat itu juga. Aku akan membantumu sayang,"


"Heh.....," Rey hanya memonyongkan bibirnya dan kembali menyikat bersih ikan yang tersisa.


Usai makan, Wibie kembali ke sofa. Duduk di depan tv dan meneruskan tontonan yang di saksikan oleh istrinya tadi. Meskipun ia sendiri tidak menyukai drama Korea, namun ia cukup penasaran juga.


"Rey udah mulai, nih!"


Rey kabur begitu saja setelah merapikan meja makan. Ia duduk di samping Wibie dan meneguk air putih yang dibawanya itu.


Wibie membiarkan istrinya meneruskan tontonan untuk beberapa saat. Namun karena begitu banyak adegan romantis yang ditampilkan membuat Wibie merapatkan tubuhnya di sisi istrinya.


Kini jarak mereka begitu dekat, bahkan tangan Wibie sudah mulai mengelus-elus bahu wanita yang ada di sampingnya. Sesekali ia mencium pipi Rey dan menggigit pelan telinga istrinya.


Rey merasa geli namun adegannya makin seru hingga ia tidak sadar jika tangan Wibie sudah menyusup di balik dasternya. Lengan daster yang cukup longgar sudah bergeser hingga ke bahu Rey. Kini wibie sudah bermain-main dengan gundukan istrinya yang semakin montok sejak ia menyusui anaknya.


Rey merasa kegelian, namun ia tidak mengelak. Begitupun ketika Wibie sudah mulai menanggalkan bagian yang satunya lagi. Pemandangan menjadi indah karena Rey tidak mengenakan penutup dada.


Wibie mengangkat tubuh Rey ke dalam pangkuannya. Kini kedua tangan Wibie dengan leluasa bisa bergerilya menelusuri bukit-bukit itu. Bibirnya juga tidak mau diam, mencium dengan garang mengitari leher istrinya.


"Ach.......apa kita mau melakukannya di sini?" tanya Rey yang sudah mulai terpancing.


Wibie tidak bergeming, ia terus saya bermain dengan benda kesukaannya itu dan menciumi leher jenjang isterinya.


Wibie faham betul dengan reaksi Rey, jika sudah begini ia mulai pasrah. Mau dibawa kemana saja pasti tidak menolak.


"Ke kamar Devara aja," pintanya dengan manja pada Wibie.


Ketika gendang membopong tubuh yang mulai pasrah itu, HP Rey yang diletakkan di atas meja berbunyi. Panggilan masuk dari Pak Gun.


"Angkat saja, dulu," Wibie yang sudah beranjak dari tempat duduknya kini merebahkan kembali istrinya di sofa. Ia dengan nafsu yang sudah di ubun-ubun dengan sabar duduk di samping istrinya.


"Hallo, iya Pak," sahut Rey.


"Belum tidur?" tanya pak Gun


"Baru mau akan," sahut Rey singkat.


"Rey, aku tidak mengganggumu, kan?"


Rey diam. Tidak mungkin dia berkata yang sebenarnya pada dosennya itu.


"Rey," panggilnya lagi.


"Iya, Pak. Saya masih denger kok. Ada yang bisa saya bantu,"


"Ada, tapi benar kan ini mengganggu istirahatmu?"


"Iya pak. Silahkan saja jika ada yang bisa saya bantu. Saya masih bisa menahan kantuk,"


Tak lama telpon terputus, Pak Gun pindah ke Vcall. Rey kaget cukup kaget dibuatnya,ia masih memandangi layar handphone-nys, belum punya keberanian untuk mengangkatnya.


Tangan jahil Wibie menyentuh layar itu,kemudian ia menggeser duduknya agar tidak terlihat dari arah sebrang.


Rey yang sudah membenahi kembali pakaiannya dan menutup bagian pundaknya dengan taplak meja menerima panggilan itu dengan wajah tersenyum.


"Senang bisa melihatmu,"


"Iya, Pak. Ada apa?" tanya Rey masih dengan nada menghormati.


"Aku hanya ingin melihatmu sebelum tidur. Sudah lama tidak ada yang menemaniku tidur, aku kesepian. Aky cuma mau ngobrol saja,"


"Wah, ini mulai ga bener, Gerutu Wibie dengan giginya yang mulai gemretak.


"Apa kau sudah di tempat tidurmu?" tanya Pak Gun lagi.


"Tidak, masih nonton TV,"


"Apa aku hanya boleh melihat wajah cantikmu. Coba geser kameramu, aku ingin melihatmu dengan balutan baju tidur," Pria bicara dengan nada yang tidak sopan dan muka yang mulai memerah.


Lagi-lagi Rey bingung. Apa iya harus mengikuti kemauan orang ini. Karena melihat Rey ragu-ragu, Wibie memegang tangan istrinya dan mulai mengarahkan kamera itu ke arahnya. Sudah pasti Pak Gun bisa melihat muka Wibie dengan jelas.


"Siapa, dia!" tanya pak Gun begitu kaget.


"Ia suamiku, Pak," sahut Rey menahan malu. Tapi tidak dengan Wibie, justru mencium leher Rey dengan pelan sembari berucap


"Sudah malem, sayang. Bukan waktunya konsultasi kalau sudah jam segini. Bukan tanggung jawabmu juga jika dosenmu itu kesepian,"


"Klik," sambungan telpon itu langsung dimatikan oleh Wibie. Kini ia meneruskan aktivitasnya yang sempat terganggu oleh tayangan iklan. Rey yang masih bingung itu dibopong ke kamar Devara. Mengunci pintunya hingga putaran ketiga agar tidak ada lagi yang menggangu jam olahraga yang akan mereka lakukan bersama.


Happy reading all! Author tidak bosan-bosan minta dukungan. Mohon untuk tinggalkan


✓ LIKE


✓ KOMENTAR


✓ VOTE -nya ya🙏🙏🙏


Apresiasi dari kalian semua membuat saya semakin bersemangat untuk update. terimakasih 😊😊😊