
Lagi-lagi di teras ini. Salah satu ruang terbuka yang ada di rumah ini, ruang yang menjadi tempat favorit Wibie untuk menikmati suguhan kopi di sore hari.
Wibie bukan pecandu kopi. Ia hanya penikmat minuman ini kala butuh inspirasi atau sekedar mencari solusi.
Rumah ini dibangun tiga tahun yang lalu, di atas tanah milik orang tuanya yang secara sah sudah beralih menjadi miliknya. Saat itu ia punya impian, di salah satu sudut bangunan dengan luas sekitar 200M2 itu harus ada ruang terbuka khusus.
Tempat melepaskan penat dari hiruk pikuk kota Jakarta. Tempat melepas lelah setelah berjuang mengumpulkan rupiah.
Teras samping ini menang tidak begitu luas, dibuat di atas tanah ukuran 3m2. Berbatasan langsung dengan ruang keluarga, kamar tamu, dan kamar mandi ruang bawah. Menghadap ke timur, berbatasan langsung dengan tembok milik tetangga sebelah.
"Aku akan memintamu secara resmi pada orang tuamu. Minggu ini aku sudah mengagendakan ke rumahmu," ujar Wibie dengan tenang.
Sore ini Wibie menghabiskan waktu di rumah. Seharian ini tidak keluar rumah sama sekali. Sejak pagi hingga saat ini ia hanya mengenakan celana pendek dan kaos putih.
Setelah menutup toko, ia minta Rey untuk menemani nya minum kopi. Sedangkan Devara dan Bu Fat ada di ruang keluarga.
"Aku ragu ibu akan menerimanya. Jika tau keberadaaku, ibu pasti akan membawaku kembali pada Aldy," sahut Rey dengan nada sedikit kecewa.
"Jangan khawatir. Aku akan mengatasinya. Percayakan padaku, semua akan beres!" ucap Wibie dengan tegas.
"Boleh aku meminta sesuatu?" tanya Rey dengan nada yang setengah memohon.
"Kalimat itu lagi. Bilang aja. Ga pake tanya-tanya segala,"
Rey tersenyum malu. Rupanya Wibie sudah hafal dengan karakternya jika sedang menginginkan sesuatu.
Hening.
"Bilang aja. Ngapain ragu-ragu. Aku ini kan calon suamimu," ulang Wibie lagi.
Tetiba Rey tertawa geli. Ucapan Wibie yang terakhir itu nyaris membuatnya terkekeh. Namun ia berusaha untuk menahannya karena Wibie sudah menatap dengan wajah tidak suka ke arahnya
"Aku mau kita nikah di rumah ini. Cukup dihadiri keluarga besar saja," Kali ini Rey bicara dengan mimik yang serius.
"Kenapa begitu? Kamu malu bersanding dengan duda beranak satu?" Selidik Wibie
"Bukan. Aku belum siap. Masa beberapa bulan kabur dari rumah, pulang-pulang nyebar undangan. Apa kata orang? Mereka aka berpikir negatif," Rey memberi alasan.
"Aku sudah bertekad, aku tidak akan pulang kampung sebelum sukses," tambah Rey lagi.
"Sekarang kau sudah suksus, Rey. Apa sebutannya coba, jika seorang gadis tidak hanya dapat suami yang ganteng. Tapi ada bonusnya juga. Anak yang lucu dan imut," kali ini Wibie yang menahan tawa begitu ia menyelesaikan kata-katanya. Ia sengaja membalas Rey yang telah lebih dulu menertawakannya.
"Hemmm.....," Rey hanya menyeringai dan mengangkat bahunya.
"Aku sih terserah kamu saja. Jika maunya di sini dan cukup akad nikah saja tidak masalah. Untung di saya, dong . Ga keluar modal banyak buat resepsi," Wibie tersenyum tipis
"Ih, perhitungan sekali,"
Rey mencibirkan bibirnya hingga tampak mukanya yang lucu. Wibie jadi tersenyum geli melihatnya.
"Lusa aku harus kembali ke lapangan. Saat off, aku ingin pernikahan kita segera dilaksanakan. Jadi kita siapkan segala sesuatunya mulai sekarang," jelas Wibie.
Ia meraih cangkir yang ada di meja kecil, disamping kanan tempat duduknya dan meneguk kopi itu dengan pelan.
"Aku segera mengabarkan berita gembira ini pada ibu," lanjutnya lagi.
"Pa, lihat ini. Bagus, kan? Aku sekarang sudah bisa mewarnai," Devara datang dari arah ruang tamu dengan membawa satu lebar kertas dengan gambar ilustrasi kuda poni yang sudah diwarnai.
"Bagus sekali. Deva dapet dari mana gambar dan pensil warnanya?" tanya Wibie karena anak itu belum pernah meminta benda-benda itu padanya.
"Kak Rey yang kasih. Sekarang aku punya banyak gambar yang mau aku warnai semuanya," pamernya lagi. Kali ini dengan nada yang begitu senang
Wibie mengangkat Devara yang sudah berdiri di sisinya itu, memangku Devara yang masih asik memandangi hasil karyanya.
"Aku juga punya gambar ipin-upin, prozen, minion, doraemon, banyak deh," ocehnya lagi.
"Sudah bilang terima kasih belum sama Kak Rey," Wibie mengingatkan anak itu.
"Udah dong. Kak Rey baik banget loh, Pa. Aku suka kalo Kak Rey selalu di sini sama kita," ujarnya lagi dengan begitu polosnya.
Wibie mengarahkan pandangannya pada Rey yang sejak tadi sudah mengamati Devara dengan senyum yang selalu mengembang.
"Terimakasih kasih ya, sudah membuat Devara senang begini," ucap Wibie pada calon istrinya itu.
"Aku print gambar-gambar itu agar dia mengurangi main HP. Kebetulan di toko seberang ada perlengkapan sekolah dan alat tulis, jadi aku ajak Devara beli berbagai pensil warna biar dia senang,"
"Iya. Terimakasih sudah begitu baik pada anakku,"
Kali ini Wibie menatap Rey dengan seksama. Senyumnya mengembang, binar kedua bola matanya begitu bersinar.
Jika sudah begini, apalagi yang bisa dilakukan Rey. Dia hanya bisa tersenyum simpul. Entah seperti apa rona pipinya jika sudah ditatap sedemikian mesra
*****
*Minggu depan aku akan menikah, untuk yang kedua. Kali ini calon istriku usianya lebih muda dari Kiran, ketika kami memutuskan untuk menikah waktu itu.
Ada kekhawatiran yang begitu besar dalam hatiku. Akankah Rey bisa menjalani fungsinya sebagai istri, ibu sambung dari Devara, dan menyelesaikan kuliah yang baru saja akan dimulainya*
Wibie bisa menangkap sinyal itu. Meskipun ia belum yakin sepenuhnya, namun ia bisa merasakan bahwa Rey menyukainya.
Wibie belum bisa merasa tenang. Rey dan Kiran sama-sama wanita yang cerdas. Keduanya punya impian bisa hidup mandiri. Hal inalah yang membuat Wibie begitu khawatir
Wibie menenggelamkan kepalanya dalam kucuran shower yang ia stel hingga maksimal. Membiarkan tubuhnya yang polos, tersapu oleh air hangat itu.
Kepalanya berasa dipijit-pijit oleh tekanan air yang cukup kuat. Sudah lebih dari lima menit ia tidak beranjak dari kamar mandi itu. Berdiri mematung, sesekali ia menyeka matanya yang terasa perih oleh sentuhan air.
"Ibu tidak pernah meminta sesuatu padaku. Saat ia mengasuh Devara, ibu tidak pernah mengeluh apapun. Devara menjadi salah satu bagian hidupnya,"
Kali ini, ibu minta Wibie untuk mencari pengganti Kiran. Wibie tidak punya alasan untuk menolak. Semua yang ibu utarakan memang benar. Devara butuh sosok ibu dalam hidupnya, pekerjaanku yang jauh di Sumatera menyebabkan aku tidak sepenuhnya bisa mengawasinya.
Saat keinginan ibu begitu menggebu, muncul Rey dalam hidupku. Akankah wanita ini dapat menemani ku hingga ujung usiaku?
Sejak bertemu Rey untuk pertama kalinya, aku yakin ia perempuan yang tegar. Bahkan bahunya bisa lebih kuat dari kaum Adam.
Ibu juga punya pandangan yang sama denganku. Bagi Ibu, Rey adalah gambaran wanita yang berani dan kuat menghadapi cobaan.
Kini..... masalah itu justru ada padaku. Aku yang begitu ketakutan untuk memastikan semua akan baik-baik saja.
Wibie mebalikkan tubuhnya, membelakangi tembok kamar mandi. Kali ini wajahnya ia tengadahkan wajahnya ke arah shower. Sesekali ia melemparkan kepalanya ke kanan dan kiri.
Ia begitu ingin menghilangkan keraguan dalam hatinya. Ia ingin melaksanakan pernikahan itu dengan keyakinan yang begitu teguh di hatinya. "Pernikahan kedua ini akan baik-baik saja"