Bukan Yang Pertama

Bukan Yang Pertama
EP. 51 I’m Yours


"Bagus banget, Mas. Berasa ada di atas laut," seru Rey yang terkagum-kagum dengan hotel yang mereka tempat. Rey berasa ada di ruang kaca yang bisa melihat pemandangan sekitar dari ruang kamar itu.


Dari atas tempat tidurnya Rey bisa melihat hamparan laut yang begitu luas. Ruangan yang persis menghadap ke pantai ini memang di desain dengan dinding kaca yang luas. Pada bagian balkon, terdapat dua buah kursi malas yang bisa digunakan untuk menikmati panorama laut dari lantai 7.


"Kamu suka?" tanya Wibie yang tengah membereskan tas yang baru dikeluarkan dari mobil sewaannya.


"Suka banget, ini bagus banget, Mas! Terimakasih ya, sayang"


"Iya, sahut Wibie sembari memencet telpon yang ada di atas nakas samping tempat tidurnya,"


"Mau ngapain?" tanya Rey yang masih saja duduk di atas kasur memandang takjub pemandangan di luar sana.


"Pesan makan. Atau mau makan di luar?" tanya Wibie. Menunggu jawaban istrinya, ia menunda untuk meneruskan panggilan.


"Di sini aja. Aku belum iklas meninggalkan tempat secantik ini,"


Wibie tersenyum, ia sangat senang karena Rey ternyata menyukai tempat ini. Impiannya untuk menginap di hotel ini bersama pasangannya akhirnya terwujud juga.


Saat ia bertugas di sini, ia selalu berdoa. Kelak, jika masih diberi kesempatan, ia ingin kembali lagi ke sini. Menginap di hotel paling mewah di daerah ini bersama pasangannya. Ia hanya meminta dengan sepenuh hati karena pada saat itu mungkin hal yang mustahil untuk bisa terwujud, mengingat statusnya yang masih menduda.


"Mau makan apa?" tanya Wibie sambil membuka daftar menu yang terletak di sisi telpon.


"Samain aja,"


"Ok, pindang ikan, ya?"


" Boleh. Aku juga mau jus. Kalau ada jus sirsak,"


"Baik tuan putri,"


Wibie mengeja pesanan untuk makan siang mereka pada agar resepsionis itu bisa mengingatnya dengan baik.


"Mas, aku ga punya baju ganti, loh. Yang di tas itu kotor semua,"


"Emang perlu? Kita cuma berdua, kok,"


"Kalo mau keluar?"


"Pake yang ini, di kamar bagusan polos,"


"Ih, jorok," Rey mendengus manja ke arah suaminya


"Lah emang mau ngapain ke sini kalo ga mau manja-manjaan. Katanya sayang mau ninggalin kamar ini," wibie mendekatkan dirinya pada Rey yang masih saja duduk bersila di tengah kasur yang luas itu.


"Aku mau mandi dulu," Rey segera bergeser begitu Wibie sudah mendekat ke arahnya.


"Ikut," Wibie juga ikut bangkit dari tempat tidurnya.


"Jangan, nanti makanan dateng ga kedengaran, loh" Rey memcoba cari alasan.


"Kamu jahat, Rey,"


"Ha...ha.....," Rey segera menghilang di balik pintu kamar mandi. Tak lama kemudian terdengar suara air gemercik dari dari ruangan yang terletak di sekitar 2 meter dari tempat tidur.


"Awas,ya" ancam Wibie yang entah masih bisa di dengar atau tidak oleh Rey.


*****


[ Selesai Mandi ]


"Kau bisa pake kemejaku daripada pake beginian" ujar Wibie yang melihat Rey tengah menikmati makan siangnya dengan balutan waffel kimono putih sebatas dengkul.


"Nanti gatel-gatel loh. Basah begitu," lanjut Wibie begitu perhatian pada istrinya.


"Iya,ntar di ganti. Aku mau makan dulu. Udah laper banget, Mas,"


"Tadi ga sarapan," selidik Wibie.


"Sarapan, cuma gara-gara ngelihat kamu nafsu makanku jadi ga kira-kira begini," sahut Rey memberi alasan.


"Alesan,"


"He...he.....,"


"Angin laut bikin kita gampang laper," kata Wibie. Mereka memang sedang menikmati makan siangnya di balkon hotel. Jadi angin laut terasa menyapu tubuh mereka. Dingin dan membuat perut minta segera diisi.


"Bisa juga,"


"Di lapangan makanannya juga begini, pindang dan kerabatnya. Tapi anak-anak pada suka,"


"Iyalah, karena kalau nyari nasi Padang harus ke kota dulu,"


"Iya, juga"


"Ini juga enak, tapi porsinya sedikit," gumam Rey.


"Porsi hotel sayang, beda warteg. Kurang?"


"Engga. Udah kenyang kok," sahut Rey yang telah menyeruput sisa kuah pindang yang ada di mangkuknya.


"Mas ga nambah?"


"Ga lah, udah kenyang kok,"


Rey segera menyingkir piring dan mangkuk bekas makan mereka ke atas meja yang ada di kamar hotel. Sementara jus srikaya dan lemon tea milik suaminya tetap ditinggal di meja yang ada di balkon, ditutup rapat agar bisa diminum setelah isi perutnya sedikit berkurang.


Kini Rey menyandarkan tubuhnya pada teralis yang pembatas balkon. Sembari memejamkan matanya ia menikmati angin yang berhembus lumayan kencang.


"Sejuk banget," gumamnya lirih.


Wibie yang berdiri di sampingnya juga juga melakukan hal yang sama. Cara yang lumayan efektif agar makanan yang baru saja masuk mulut itu bisa lebih cepat di cerna.


"Kamu mau nyobain snorkeling, ga?" tanya Wibie sambil menunjuk ke bagian pantai yang yang dimanfaatkan oleh wisatawan untuk rekreasi pantai.


"Sekarang?"


"Jangan. Tar sore atau besok pagi. Sekarang kan kita sudah punya jadwal khusus,"


"Jadwal khusus?" tanya Rey.


"Iya, bobok siang," Wibie mengedipkan matanya.


"Belum ngantuk, mas. Lagian baru juga selesai makan" elak Rey.


"Ngantuk ya sekarang aja,sih," wibie menatap wajah istrinya dengan pandangan yang nakal.


"Dih, orang belum ngantuk kok disuruh ngantuk" jawab Rey. Entah ia pura-pura polos atau memang tidak tau maksud ucapan suaminya.


"Tuh, matanya udah merah. Bentar-bentar merem. Kamu pasti boong. Udah ngantuk, kan?"


"Ini bukan ngantuk, Mas. Hi....," Belum juga selesai bicara, Wibie sudah membopong tubuh istrinya ke dalam.


"Stttt.... Ga apa kalau belum ngantuk. Aku bisa bikin kamu ngantuk saat ini juga, kok"


"Ih...," Rey menyentil hidung Wibie karena gemes.


"Sepertinya kamu tambah kurus, sayang. Kok makin ringan aja, nih," ujar Wibie yang merasa bahwa ia merasa tidak begitu kepayahan menggendong tubuh istrinya itu ala-ala bridal style.


"Masa, aku makannya banyak kok,"


"Kurang tidur, mungkin,"


"Bisa jadi, karena sering tidur larut malam,"


"Nah, pilihan yang tepat kan?"


"Pilihan apa?"


"Tidur siang, biar pulih tenaganya,"


"Ah, alesan,"


Wibie membaringkan tubuh istrinya itu dengan pelan di atas tempat tidur yang luas.


"Mas," panggil Rey.


"Apa?"


"Kok berasa kita tidur di alam bebas. Jadi gimana gitu. Takut ada yang tiba-tiba muncul dan memergoki kita,"


"Hemmm....ini kamar yang paling mahal sayang. Aku sengaja pilih yang ini agar bisa menghadirkan sensasi yang berbeda. Ga ada yang ganggu,"


"Hemm......begitu ya?"


"Sttttt.......," Wibie memasang telunjuknya tepat di bibir istrinya. Masih dengan jari telunjuknya itu, ia meraba-rabanya dengan lembut.


Posisinya yang masih duduk, bisa melihat istrinya dengan jelas. Ia menyapukan pandangannya dari ujung kaki hingga wajah yang mulai merona itu. Rey tidak tinggal diam, dengan ekpresi yang sedikit menggoda, Rey menatap intens wajah suaminya


“I’m yours”. bisiknya lembut.


Karena sinyal yang dilontarkan istrinya begitu kuat, Wibie membuka tali kimono yang di kenakan Rey dengan pelan. Kini ia bisa menikmati keindahan yang begitu nyata di hadapannya.


"Bolehkah aku melakukan hal nakal dan liar dengan tubuhmu?"


Rey melingkarkan kedua tangannya di leher Wibie, membawa tubuh suaminya ini agar mendekat padanya. Tak ada kata-kata yang terucap dari bibir keduanya. Mereka saling memberi dan menerima seolah sudah faham akan kebutuhannya masing-masing.


Siang itu, disaksikan panorama langit yang begitu cerah serta hembusan angin pantai, Wibie dan Rey melepas rindu.


******


Happy reading all, terimakasih atas kunjungan setianya!


Jangan lupa vote, like, dan komen yang banyak, ya ( spam komen juga ga apa) biar saya makin semangat untuk update.


Aku juga nulis novel yang lain loh, judulnya "Temani Aku, Ken!"


Jangan lupa kepoin juga, siapa tau kalian juga suka sama ceritanya.