
Sejak kejadian di hotel XX itu, Rey terlihat lebih diam. Meskipun Alex tidak menceritakan apapun pada teman satu kelompoknya namun Rey tetap sedih dan malu. Ia jadi lebih sering introspeksi diri. Apakah sikapnya selama ini terlalu berlebihan hingga bisa memancing lawan jenis untuk berbuat tidak senonoh padanya.
"Kamu capek, ya?" tanya Risya padanya. Dua hari berturut-turut mereka memporsir diri untuk menyelesaikan program. Dari 20 orang yang ada, 2 orang yang tumbang. Teta dan Abel, mereka masuk angin karena kelelahan dan telat makan.
"Engga," sahut Rey. Ia merubah posisi tidurnya, menghadap Risya yang tidur di bawah. Dua teman yang lainnya sudah mendengkur halus, berada di alam mimpinya masing-masing.
"Beberapa hari ini terlihat murung, apa ada masalah dengan keluargamu?"
"Tidak,"
"Ayolah, kita harus semangat. Ingat, tinggal dua hari lagi. Kita harus pastikan program kita berjalan secara maksimal," Risya memberinya semangat.
"Iya, terimakasih,"
"Kamu hebat juga loh, strategi marketingmu bisa membuat toko mereka cepat mendapat orderan. Lihat saja, dua hari ini pihak ekspedisi sudah mondar-mandir mengambil barang yang akan di kirim," puji Risya.
"Kerja kita semua, bukankah kita getol promosi di media sosial bahkan mengajak kerabat kita untuk melakukan order,"
"Iya, kita harus membangkitkan semangat mereka dan menumbuhkan kepercayaannya. Jika dua hal itu sudah dimiliki, mereka akan dengan senang hati menjalankan bisnis bersama ini meskipun kita sudah tidak di sini,"
"Pasti," sahut Rey dengan yakin.
Tiba-tiba ponsel Rey yang ia letakkan di bawah bantal bergetar, Rey deg-degan. Ia takut jika yang menghubungi nya itu adalah Pak Gun.
Dengan ragu ia menelusupkan tangannya di bawah bantal, melihat siapa yang menghubungi.
"Alhamdulillah," gumamnya pelan. Ternyata suaminya yang mengirim pesan WA padanya.
"Siapa?" tanya Risya.
"Suamiku,"
"Hemmm....tutup kuping dah kalau udah begini," Risya langsung menutup kepalanya dengan bantal agar tidak mendengar obrolan mereka.
"Aku keluar,"
"Ah, aku ga bermaksud begitu kok. Becanda,"
"Ga apa, di sini gerah,"
"Harusnya aku yang gerah bukan kamu,"
"Tuh, kan," sahut Rey sembari meninggal kamar.
"Sorry... kidding,"
*****
"Alhamdulillah, belum tidur. Bisa ngeliat cantiknya istriku yang mau beranjak tidur," Wibie langsung nyerocos begitu mengangkat telpon dari istrinya.
"Baru mau,"
"Ganggu dong,"
"Enggak. Memang belum ngantuk juga,"
"Sudah mulai nyantai, Ya?" tanya Wibie karena sudah tiga malem ia berusaha nelpon di jam segini, ternyata ga diangkat. Rey sudah tidur lebih sore.
"Iya, tinggal finishing,"
"Kamu kelihatan capek, sayang,"
"Enggak. Biasa aja kok. Cuma kangen aja sana kalian,"
"Tuh liat jagoanmu masih pegang botol susunya. Udah yang ketiga itu. Si kakak sudah tidur dari isya karena seharian main ga mau bobok siang,"
Wibie mengedarkan arah kameranya pada anak-anaknya yang sudah terlelap. Wajah-wajah polos mereka membuat senyum Rey semakin merekah.
"Maaf ya, Mas. Kamu pasti capek jagain mereka,"
"Mereka anakku, sembarang aja bilang capek. Justru ini me time buat aku. Bisa saharian dengan mereka tanpa digangu mamanya,"
"Ih, kok begitu. Jadi seneng kalo ga ada aku di rumah,"
"Iya, buktinya delapan hari ditinggal kamu, mereka ga menanyakan kamu sama sekali,"
"Masa sih? Duh sedih banget," sahut Rey sambil memasang muka sedihnya.
"Tapi boong. Ha...ha....,"
"Hemmmm.....,"
"Rey, besok kita mau nginep di rumah Oma. Tadi Dhiza kasih kabar kalau mau merayakan ulang tahun anaknya,"
"Wow....udah beli kado buat mereka?"
"Udah, tadi kita pergi sebentar sambil makan siang,"
"Seneng banget,"
"Emang kamu ga seneng di Belitung?" tanya Wibie curiga. Rey belum menceritakan masalah Pak Gun pada suaminya, bisa jadi ia tidak akan pernah cerita hal itu. Rey ingin Wibie menganggap masalah itu tidak berlanjut.
Kecuali jika Pak Gun masih nekad. Mau tidak mau dia harus cerita pada keluarganya.
"Rey," panggil Wibie karena ia melihat istrinya sedang memikirkan sesuatu.
"Iya,"
"Pertanyaanku belum di jawab," sahut Wibie memasang wajah sedih.
"Yang mana?"
"Hemmm....," Wibie pura-pura kesal.
"He...he....aku seneng banget. Berasa di kota kelahiranku. Ketemu pempek, tekwan, dan makanan daerah lainnya di sini,"
"Aku jadi merasa bersalah,"
"Kok begitu. Aku hanya berusaha jujur pada diri sendiri, kok," sahut Rey dengan wajah lucunya.
"Aku belum pernah membawamu pulang kampung. Pulang sebagai satu keluarga,"
"Mas, bukan kamu yang ga bisa, tapi aku belum siap,"
"Iya, mas,"
"Terus...,"
"Terus apa?" tanya Rey bingung.
"Cuma begini-begini aja,"
"Lah emang mau ngapain," tanya Rey bingung.
"Bisanya kalo vc aku suka pamer. Godain,"
"Ini ditempat orang tau. Masa aku harus pake baju seksi. Ngaco, ih,"
"Ha...ha....," Wibie tertawa renyah.
"Rey," panggilannya pelan.
"Iya,"
"Kengen," Setelah bicara seperti itu, Wibie diam beberapa saat. Ia hanya memandangi wajah istrinya dari layar kamera.
"Liatnya sereem banget," canda Rey.
"Beneran, aku kangen. Begini banget rasanya ditinggal istri,"
"Mas! Tapi aku kan belum mati!" Protes Rey.
"Siapa yang bilang begitu,"
"Lagian...udah ekpresi begitu. Ngomongnya ngenes lagi. Berasa mau ditinggal selamanya,"
"Ha...ha....***** nih,"
"Serahlah, ga kena ini,"
"Rey,"
"Ya,"
"Ga usah beli oleh-oleh. Bawanya ribet. Kalau mau beli sesuatu pake jasa paket aja,"
"Sayang ongkos kirimnya, mas,"
"Pelit amat. Pokoknya semua oleh -oleh jangan ada yang kamu bawa. Kirim semuanya. Aku ga mau kamu bawa barang berat-berat. Jangan lupa beliin juga buat ibu,"
"Ais....so sweet banget, sih," ujar Rey sambil mencibirkan bibirnya.
"Astagfirullah, aku lupa,"
"Lupa apa?" tanya Wibie.
"Beliin oleh-oleh buat ibu,"
"Aku tau kau belum sepenuhnya memaafkan dia. Tapi bagaimana pun juga dia ibumu. Jika dia tidak berlaku seperti itu padamu, kau tidak akan pernah punya suami seganteng diriku,"
"Huek...," Rey pura-pura mau muntah.
"Halah....gayamu,"
"Ha...ha.....," Rey akhirnya tertawa geli.
"Mas, biasanya Oma sukunya apa?"
"Beli aja semuanya, pempek, tekwan kering, kerupuk dan teman-temannya. Jagan lupa ikan asin gabus dan terasinya,"
"Ok, tar aku pesanin,"
"Inget, paketin. Kirim ke alamat Oma aja. Sekalian beli yang banyak. Biar si rakus sekalian,"
"Mas, kamu begitu ih,"
"Lah emang iya, Pras kalo udah makan masakan kamu kayak orang ga ketemu nasi seminggu,"
"Dia temanku loh,"
"Iya,maaf,"
"Tapi kamu juga sudah punya temen baru di sana, kan?"
"Cemburu?" tanya Rey dengan nada menyelidik. Rey memang sudah cerita pada suaminya, jika ia satu kelompok sama Pandu teman satu kelasnya dan juga Alex yang pinter dan rajin.
"Ga, aku tau dia bukan seleramu,"
"Lah, emang seleraku yang seperti apa? Sok tau ih,"
"Om-om beranak satu. Ha ... Ha.....,"
"Udah, ya. Buruan istirahat. Sepertinya kamu sudah ngantuk. Aku tetap setia menunggu waktu itu tiba,"
"Dih, dua malem lagi, Mas!"
"Iya...iya....bobok yang nyenyak, ya. Love you," Wibie menyodorkan bibirnya hingga menempel di kamera handphonenya.
"Love you to," tak kalah alaynya, Rey juga memberi ciuman yang sama pada sang suami.
Malam ini suasana rumah sepi. Alex, Doni, dan Pandu anak lagi nobar bola bareng anak cowok kelompok dua di rumah pak kades. Rencananya mereka akan menginap di sana untuk mempererat tali silaturahmi.
******
Happy reading all, terimakasih atas kunjungan setianya!
Jangan lupa vote, like, dan komen yang banyak, ya ( spam komen juga ga apa) biar saya makin semangat untuk update.
Aku juga nulis novel yang lain loh,
Temani Aku, Ken!
I am Feeling Blue
Jangan lupa kepoin juga, siapa tau kalian juga suka sama ceritanya.