
Meskipun belum waktunya off namun Wibie memutuskan untuk pulang di akhir pekan, selain karena rindu dengan kedua bidadarinya ia juga harus menandatangani surat pengajuan izin usaha.
Sebelumnya, Wibie memang tidak memberi tahu keluarga Rey jika ia berencana akan pulang, hingga ibu merasa kecewa tidak menemui menantunya itu saat ia datang ke mess besar.
"Tadi ibu ke mess, tapi suamimu tidak ada," keluh ibu melalui sambungan telepon.
Rey menjawab panggilan telpon dari ibunya meskipun baru saja pulang dari kuliah. Bahkan ia belum sempat cuci tangan ataupun ganti pakaian.
Rey tidak mau ibu berprasangka yang tidak-tidak. Sejak magrib ibu sudah menelponnya berkali-kali tapi Rey terpaksa bilang akan menelpon balik karena sedang ada kuliah.
"Mendadak Bu, memang belum waktunya off tapi ada berkas-berkas yang harus ditangani Mas Wibie," jawab Rey dengan sabar.
"Ah, mungkin suamimu sengaja ga bilang ke ibu. Takut dititipi sesuatu,"
"Tidak Bu, beneran. Mas Wibie harus tanda tangan izin pendirian perusahaan karena senin akan diusulkan ke Kemenhumkam,"
"Kalian mau bikin perusahaan?" tanya ibu serius
"Usaha konveksi milik keluarga Mas Wibie kan belum ada izin usahanya, karena ada pemerintah daerah yang minta barang dalam jumlah yang besar jadi harus bikin izin usaha dulu. Semacam PT gitu loh, Bu. Kalau untuk menjadi rekanan pemerintah memang harus memenuhi syarat administrasinya,"
"Hebat dong. Makin maju saja usaha kalian,"
"Alhamdulillah Bu,"
"Apa kamu masih terima gaji sebagai pegawai dari Wibie?"
Rey tidak lekas menjawab, ia malah tertawa mendengar pertanyaan ibunya itu.
"Kok kamu malah tertawa. Kamu masih kerja di konveksi itu gak?" desak ibu lagi.
"Masih Bu. Saya masih dibayar sesuai dengan aturan pekerja yang lain. Malah dengan izin usaha yang akan diurus ini saya dipercaya sebagai direktur utamanya?"
"Direktur utama? Emang berapa karyawan yang kalian pekerjakan?" tanya ibu sedikit sinis
"Sekarang sih ada sekitar 13 orang Bu. Mungkin akan nambah lagi jika sudah deal dengan rekanan pemkot ini,"
"Apa ibu dan adik iparmu ikut mengelola usaha itu?" selidik ibu lagi.
"Tidak, Bu. Witha dan suaminya sudah fokus menjalani karier mereka sebagai dokter di Surabaya malah mereka sudah buka praktek sendiri. Kalau ibu sejak dulu memang tidak mau ikut campur dengan usaha suaminya, makanya sejak Almarhum bapak tidak ada semua yang berkaitan dengan usaha keluarga itu diserahkan ke Mas Wibie,"
"Wow...ternyata suamimu itu banyak duitnya kalau begitu. Keluarganya juga sudah pada sukses. Tapi masih pelit sama ibu," celetuk ibu sekenanya.
"Kok ibu bilang begitu. Kemaren Mas Wibie bilang ia abis membeli motor untuk ibu meski ibu tidak minta,"
"Kamu ga iklas, berapa sih harga Vario? Paling tidak sampai 25juta. Perhitungan sekali kau sama keluargmu,"
"Bukan begitu, Bu. Rey tidak keberatan jika Mas Wibie memberikan apapun pada ibu atau yang lainnya. Tapi Rey takut membebani Mas Wibie, kami menikah belum seumur jagung tapi sudah terlalu banyak uang yang dikeluarkan untuk keluarga kita,"
"Denger ya anak bodoh, dimana-mana anak perempuan itu lebih pro sama keluarganya. Lebih sayang sama ibunya. Nah ini kamu malah aneh, suami loyal sama keluarga sendiri malah keberatan. Kamu pikir ibu membesarkan kamu dan membayar uang sekolah dengan duit yang turun dari langit. Inget Rey, ibu banting tulang untuk membesarkan kalian. Jadi wajar dong jika ibu juga ingin hidup enak dari apa yang sudah kau miliki sekarang ini. Sudah seneng lupa sama siapa yang melahirkan," ucap ibu dengan nada yang begitu emosi.
"Jangan rakus, jangan lupa dari mana kau berasal," tambah ibu lagi.
"Iya, Bu. Maafkan Rey jika belum bisa memberi banyak pada ibu dan keluarga. Rey janji akan membantu ibu dari uang jerih payah Rey sendiri,"
Rey tidak mendengar apapun dari seberang sana. Tiba-tiba sambungan telepon itu sudah diputus oleh ibu.
Rey menarik nafas panjang. Ia menjadi bingung. Ucapan ibunya memang benar.
"Apakah semua ibu berlaku seperti ini pada anak dan mantu laki-lakinya?" tanya Rey pada dirinya sendiri.
"Apakah aku terlalu perhitungan dengan keluargaku?" tanyanya lagi.
"Telepon dari siapa?"
"Pak Fauzan, ia ingin memastikan agar surat - surat itu segera di tanda tangani," ujar Rey berbohong.
Ia tidak ingin Wibie tau jika ibu yang menelponnya karena setiap ibu menghubungi selalu ada permintaan yang harus di penuhi. Rey malu terhadap sikap ibunya itu.
Wibie mendekat ke tempat tidur, duduk di sisi istrinya.
"Berarti kita harus menambah karyawan jika produksi bertambah?" tanya Wibie pada istrinya.
"Mungkin kita bicarakan dulu dengan pekerja yang sekarang. Jika mereka masih bisa menghandle semuanya kita tidak perlu menambah tenaga. Mungkin jam kerja mereka bisa diperpanjang namun kita hitung sebagai lembur. Jadi mereka bisa dapat uang tambahan,"
"Untuk sementara saja, kecuali jika sudah stabil jumlah yang dipesan setiap bulannya. Mau tidak mau kita harus menambah karyawan," ujar Rey lagi.
Wibie tersenyum sembari menatap lekat istrinya itu, senyumnya renyah sekali.
"Makin pintar saja," puji Wibie.
"Analisa ekonomi, Mas. Kan aku belajar itu saat ini,"
"Baguslah. Berarti ilmu yang kau dapat bisa langsung diterapkan, ya!"
"Itu karena Mas memberikan kepercayaan padaku. Insya Allah aku akan menjalankannya sepenuh hati,"
"Percaya. Tapi inget jangan capek-capek," Wibie mengingatkan istrinya dengan mengayunkan telunjuk ke arah atas.
"Iya, kerjaanku sangat terbantu karena ada Alfian kok. Kini aku lebih banyak waktu di online shop,"
"Syukurlah kalau begitu. Bisnis onlinenya lancar?"
"Lancar, Mas. Permintaan sudah menjadi tiga kali lipat dari bulan-bulan sebelumnya,"
"Oh, ya. Berati produksi kita juga meningkat dong. Aku belum cek laporan keuangan bulan ini," seru Wibie.
"Semua sudah dilaporkan. Pembelanjaan atas nama RA Shop,"
"Teori ekonomi tetap berlaku meski kita suami istri," tambah Rey menjelaskan.
"Ah, gitu aja tersinggung. Kidding sayang,"
Wibie meraih pundak istrinya dan mengecup pipi kirinya dengan lembut.
"Ga kangen?" bisiknya begitu pelan di telinga Rey.
"Hem... kode," seloroh Rey sembari mengembangkan senyum genitnya.
"Tapi kan ada...," Rey tidak melanjutkan ucapannya tapi memonyongkan bibirnya ke arah Devara yang sudah tertidur pulas ditempat tidur mereka.
"Kan bisa di kamar bawah," sahut Wibie disertai kedipan mata kirinya.
"Aku ke kamar mandi dulu ya," ujarnya lagi sembari beranjak dari sisi tempat tidur, melangkah ke kamar mandi.
"Pake baju yang seperti waktu itu ya," teriak Wibie meski istrinya itu sudah hilang dibalik tempok ruang bersalin.
"Ini perintah," teriaknya lagi.
"Aku tunggu di bawah," teriaknya lagi.
Tidak ada sahutan, Wibie hanya mendengar suara tawa istrinya.